Wednesday, August 27, 2008

TIKET KERETA API, BETAPA SULIT DIRAIH...

Waktu sudah menunjukkan pukul 10.30, ketika saya masuk kamar setelah pulang kerja. Memang agak kepulangan malam ini lebih lambat dari malam dari biasa, sehabis makan malam dengan calon klien, saya sempatkan memeriksa dan meneruskan pekerjaan di kantor. Lelah dan mengantuk sepertinya sudah sulit dibedakan mana yang lebih berpengaruh. Dan Tak berapa lama kemudian saya sudah terlelap tanpa sempat mandi dan gosok gigi...

Pukul 02.30 dini-hari Software Weker (Alarm) di PDA saya berbunyi, duuh... belum lagi nyenyak sudah harus bangun sepagi ini. Jujur saya lebih suka membenamkan kepala dalam selimut hangat saya, terlebih dalam suhu 22 derajat seperti saat ini. Namun saya tetap bergegas bangun, menuju ke meja kerja, dan selanjutnya membuka outlook untuk memeriksa E-mail yang masuk. Tiga atau empat e-mail sudah dibaca, dan sesudah itu saya mandi. Lantas kenapa sepagi ini saya sudah bangun, mandi dan selanjutnya berdandan selayaknya akan pergi ke kantor? hmmm.... saya akan mencoba peruntungan untuk memperoleh tiket kereta api untuk mudik lebaran!

PhotobucketPukul 02.45 saya berangkat dari rumah untuk menuju Stasiun Gambir, di Jakarta Pusat. wuih... dengan nyaman sekali saya melalui jalan-jalan yang pada siang hari macet tanpa halangan. Beberapa kali saya lihat pedagang2 sayur sedang mengangkut dagangannya dengan sepeda motor. Dari rumah menuju ke Stasiun Gambir Mungkin hanya 10 menit, maklum punya kesempatan memacu kendaraan sampai dengan 110 km/jam! :) Berharap keajaiban, tidak terlalu banyak pengantri, tapi apa yang terjadi, antrian sudah panjang sekali! foto ini diambil pukul 04.00!

Memang sudah jadi kebiasaan, setelah PT. KAI memberlakukan pemesanan tiket sampai dengan 30 hari sebelum keberangkatan, calon pemudik mengantri untuk mendapatkan tiket untuk sebulan kemudian dengan berbagai tujuan di Pulau Jawa. Saya sendiri yakin, hari ini tidak hanya Stasiun Gambir yang sibuk, tapi Stasiun-stasiun lain di Jabodetabek juga sibuk. Jatinegara, Kota, Tanah Abang, Bekasi, maupun Bogor tentu dipenuhi dengan para pengantri. Jangan dibayangkan bahwa ini mudah, beberapa orang yang saya temui pagi ini mengatakan mereka telah mengantri sejak pukul 11 Malam! betapa hebat perjuangan mereka untuk sebuah tiket. Namun, melihat fenomena ini mungkin baiknya jangan hanya dipandang pada sebuah proses jual dan beli, namun bagaimana manusia memaknai sebuah kepentingan di luar batas-batas ekonomi.

Saya memperoleh tempat antrian jaauuuhhh sekali dibelakang, kalau anda sempat datang ke Stasiun Gambir di Lobby Utara, pasti anda melihat counter Dunkin' Donuts di situ, dan dapat pula anda bayangkan berapa jarak Counter dengan loket! :( Nah saya berdiri beberapa meter dari situ (arah ke menjauhi loket). Ya sudah pasrah deh, dapat nggak dapat saya sudah ijin ke Bos, kalau telat masuk kantor. Saya sudah memperkirakan betapa lamanya antrian ini, terlebih dengan posisi saya saat ini.

Sambil mendengarkan Musik dari Creative Zen Micro saya, saya mencoba memejamkan mata untuk tidur (bersila di atas koran) di antara riuh beberapa orang pengantre bermain Gaple! (Gila bener nih, persiapannya sudah benar2 matang he..he..). Namun suara musik lounge yang saya nikmati tak kunjung membuai saya. Tiba-tiba, diumumkan dibuka queuing line baru! ada tambahan 2 loket yang akan dibuka, spontan dengan langkah seribu saya berusaha mendapatkan tempat 'terdepan'. Namun, saya hanya mampu memperoleh tempat ke 17 di antara 6 line yang dibuka! artinya perhitungan secara kasar urutan saya berada di atas 100 pengantre hanya untuk di Stasiun Gambir! entah di urutan ke berapa andai kata stasiun lainnya juga dihitung.

Photobucket


Pukul 06.00 antrian untuk loket sebelah seperti ini. Betapa crowd dan meletihkan. Anda tentu bisa membayangkan bagaimana nanti model antrian para penumpang eknomomi yang baru dibuka menjelang H-7! sudah pasti jauh lebih banyak dan sudah pasti melelahkan karena sudah masuk dalam bulan puasa. Saya sendiri hanya bisa bersabar, dan pasrah bisa dapat tiket atau tidak, mengingat pola penjualan PT. KAI adalah online, dengan skema first in, first serve! dari puluhan Stasiun yang tergabung dalam system online akan berlomba menginput pembelian dari pengantre dalam waktu yang relatif singkat! belum lagi ditambah masuknya beberapa travel agent yang dapat melakukan input dari kantor masing-masing, semakin menambah keraguan saya akan mendapatkan tiket kereta pagi ini.

Tepat pukul 07.00 loket di buka! dan dimulailah perlombaan itu, ditik demi detik begitu menegangkan. Dalam waktu 2 menit (atau mungkin sekitar 3 pengantre) tiket kereta Gajayana (Jakarta - Malang) Ludes! semakin panik saya... beberapa menit berikutnya menyusul Argo Lawu (Jakarta - Solo) Sold Out!... tak lama berselang, Kereta Bima (Jakarta - Surabaya via Selatan) habis! padahal masih ada 10 antrian di depan saya. Taksaka (Jakarta - Jogja) Habis! Sembrani (Jakarta - Surabaya) menyusul, setelah pengantri di depan saya meninggalkan loket.

Tujuan saya sebenarnya ke Tulungagung, dan kereta yang seharusnya tepat untuk saya adalah Gajayana, namun apa daya semua sudah di luar kuasa. Akhirnya saya berdiri di depan loket, dan sebagian besar jurusan telah habis. Sempat panik dan nggak tahu mesti pilih apa. Mbak-mbak petugas loket dengan keras menyadarkan saya.... Ayo pak, cepetan pak, banyak yang antri... Dengan gugup saya tanyakan, ada Gajayana (meski saya menyimak dengan jelas pernyataan petugas yang terdengar speaker), habis pak... ayo cepet pak, yang lainnya saja... sahut si Mbak di dalam Loket. Saya tanyakan kemudian, kereta apa saja yang tersisa untuk tanggal 26 September 2008 Jurusan Surabaya, dengan tidak sabar Si Mbak menjawab Argo Angrek!

Photobucket


Ya sudah, mengingat ada dua orang lain yang mengamanahkan tiket ini, maka dengan terpaksa saya tebus nilai perjalanan sebesar Rp. 450 ribu per orang atau sebesar Rp. 1.350 juta untuk tiga orang! (naik berpuluh persen dibandingkan perjalanan reguler dengan kereta yang sama) Sudahlah... saya sampai speechless, mau ngomong apapun juga nggak bisa... Padahal perjalanan saya tidak akan berhenti sampai harga yang saya bayarkan ini, di mana seletah sampai Kota Surabaya saya harus melakukan perjalanan menggunakan bus AKDP (Antar Kota Dalam Propinsi), yang mungkin sekali akan menaikkan ongkos transportasinya pula... Memang tak banyak pilihan yang ada didepan saya, namun di antara pilihan yang sulit itu saya tetap harus memilih, dan ini pilihan saya!

Entah bahagia atau sedih, dengan dapatnya tiket ini, namun setidaknya saya mencoba untuk berfikir positif, bahwa saya dapat memanfaatkan liburan lebaran dengan baik, tanpa harus kehilangan satu haripun di Jakarta. Mengingat tanggal 26 September 2008 merupakan tanggal terakhir bekerja sebelum Hari Raya Idul Fitri... :)


I N F O
Photographer : Reza Rachmadiananto
Camera : XDA IIs
Lenses : -
Filter : -
Scanner : Epson

Selengkapnya...

Sunday, August 24, 2008

THE EXOTIC BELITUNG

Di bawah ini adalah beberapa frame hasil jalan-jalan sekaligus hunting ke Pulau Belitung, di Propinsi Bangka-Belitung. Jujur saja saya kagum, ternyata ada tempat seperti ini di Indonesia :) Dan untuk melengkapinya, silahkan baca catatan perjalanan saya. Okey, kira-kira pemandangan exotic Pulau Belitung adalah seperti di bawah... :)




TANJUNG TINGGI


#1
Photobucket


#2
Photobucket


#3
Photobucket


#4
Photobucket


#5
Photobucket


#6
Photobucket


#7
Photobucket


#8
Photobucket


#9
Photobucket




BUKIT BERAHU


#1
Photobucket




TANJUNG KELAYANG


#1
Photobucket


#2
Photobucket




PULAU LENGKUAS


#1
Photobucket


#2
Photobucket


#3
Photobucket


#4
Photobucket


#5
Photobucket


#6
Photobucket


#7
Photobucket


#8
Photobucket


#9
Photobucket




PULAU BURUNG


#1
Photobucket


#2
Photobucket


#3
Photobucket


#4
Photobucket


#5
Photobucket




SMELTER


#1
Photobucket


#2
Photobucket




MISCELLANEOUS


#1
Photobucket


#2
Photobucket


#3
Photobucket


#4
Photobucket


#5
Photobucket


I N F O
Photographer : Reza Rachmadiananto
Camera : Canon EOS 400D
Lenses : Tamron 17-50mm f/2.8 XR Di II
Filter : Hoya UV

Selengkapnya...

[FR] FOTO HUNTING BELITUNG

DAY ONE 16.08.2008 (03.00-22.30)

Oahem... sambil menguap, saya memperhatikan jam weker saya yang tengah berbunyi. Waktu sudah menunjukkan pukul 03.15 pagi. terlalu dini bagi saya untuk bangun sebenarnya. Namun, hari ini memang lain dari biasanya, di samping waktu bangun yang berbeda, hari ini saya juga punya kegiatan yang tidak biasa pula. Hunting Foto di Pulau Belitung di Propinsi Babel

PhotobucketSemalam, Sehabis merampungkan acara 17-an di Kantor, seperti lomba dan kegiatan lainnya, segera saya pulang ke rumah. Untuk mempersiapkan gear dan peralatan lain. BTW kira-kira peralatan yang saya bawa dan harus muat dalam satu tas/carrier adalah seperti foto di samping. Isinya antara lain Body Camera, lensa-lensa, filter batere, tripod, pakaian, handphone, kacamata dan beberapa barang lainnya. Bagi saya menyusun barang-barang bawaan seperti di samping lebih memudahkan dalam melakukan checking dan memastikan semua barang yang dibutuhkan telah terbawa.

Packing dan persiapan peralatan, rampung pukul 23.00, dan segera setelahnya saya tidur! dan bangun tepat di 03.15 WIB. Mumpung bangun di sepertiga malam, (biasanya sih tidak mungkin saya bagun sepagi ini) saya sempatkan Sholat Tahajud. Mandi dan melakukan persiapan kecil lainnya, prosesi selesai pukul 03.45. Dan sebelum saya menyetop taxi menuju ke Bandara Soekarno Hatta, saya mampir ke warung sebelah rumah yang belum tutup meski sudah menjelang subuh. Sepiring Indomie Goreng Telor, saya pesan untuk memastikan perut sudah ada isinya, in case dalam perjalanan nanti tidak menemukan makanan.

PhotobucketLantas, kenapa mesti pagi-pagi sekali? berdasarkan jadwal penerbangan yang ada (Sriwijaya Air), trip menuju Pulau Belitung hanya pada pukul 06.45 dan 15.45, dan kebetulan flight yang dipakai untuk ke Belitung adalah flight pertama. Jadi mesti tepat waktu, ga boleh ada acara telat, maksimal pukul 05.00 sudah harus berkumpul di terminal 1B Bandara. Jreng-jreng.... :) Saya sudah menginjakkan kaki di Bandara ini pukul 04.30 WIB, memang agak kepagian sih dan oleh karena itu masih sempat melihat terdapat orang tidur di bangku luar terminal keberangkatan 1B.

PhotobucketTak berapa lama kemudian, beberapa Rombongan yang tergabung dalam Club Fotografi Kantor saya datang. Memang semua telah berusaha maksimal untuk datang tepat waktu, meski akhirnya ada beberapa orang yang datang terlambat. Bisa dimaklumi-lah, toh banyak alasan kenapa mesti terlambat. Setelah tepat terkumpul 16 orang peserta (1 orang lainnya menyusul di belakang dengan flight sore), kami segera melakukan Check In di Counter Sriwijaya Air. Ternyata banyak sekali peralatan yang dibawa rombongan fotografer ini, sampai ada belasan barang yang mesti dititipkan di bagasi pesawat, karena tidak mungkin untuk dibawa masuk ke kabin. BTW, suasana ruang checkin pagi ini, lumayan cukup ramai. Bisa dimaklumi bahwa 3 hari ke depan adalah hari libur, so pasti banyak orang memanfaatkan waktu liburnya untuk ke luar kota. Sebagai tambahan informasi, perjalan Jakarta - Tanjung Pandan (Ibu Kota Belitung) ditempuh selama hanya 45 menit. Yang terpenting penerbangan kami tidak mengalami hambatan yang berarti, cuaca cerah, tidak ada turbulence, pemandangan juga dapat terlihat dengan sempurna dari balik jendela pesawat. Pokoknya semua aman terkendali... halah..! :)

PhotobucketBegitu menginjakkan kaki di Bandara H. AS. Hanandjoeddin, Tanjung Pandan, Belitung tubuh langsung disambut udara segar, khas daerah yang jauh dari polusi. Meski tidak dapat dikatakan dingin, namun kesegaran ini cukup memberikan nuansa yang berbeda. Hanya sedikit catatan, bahwa kondisi ruang klaim bagasi menurut saya agak kurang nyaman, sempit dan tanpa AC, terlebih dengan hadirnya penumpang yg tidak sedkit belum lagi ditambah porter dan penjemput, semakin membuat pengap!

PhotobucketPerjalanan dari bandara menuju ke Kota Tanjung Pandan memakan waktu kurang lebih 20 menit, seharusnya bisa lebih cepat. Lantas kenapa bisa lebih lambat? Ada dua titik kemacetan yang sempat saya amati ada dalam perjalanan ini, yaitu di dua SPBU yang kami lewati bersama rombongan. Puluhan kendaraan roda empat baik truck maupun mobil pribadi berjajar antri premium, belum lagi ratusan sepeda motor dan penumpangnya tak ketinggalan pula. Meski antri dan berusaha rapi, hal tersebut tidak dapat banyak membantu, terlebih lagi karena sepeda motor banyak tumpah ke jalan, sehingga menghambat pengguna kendaraan lainnya. Yang jadi pertanyaan kenapa mereka antri? ternyata menurut informasi BBM sedang langka di Belitung, dan ini bukan kali yang pertama, sudah beberapa bulan masyarakat harus menghadapi keadaan ini. Untuk memperoleh BBM masyarakat harus antri panjang. Dengan adanya kelangkaan ini membuat masyarakat semakin sulit hidupnya, mereka harus meninggalkan aktivitas produktif mereka hanya untuk antri BBM. Kalaupun ada bensin eceran saya rasa harganya akan semakin mahal saja. Kembali ke topik perjalanan, meski agak tersendat kendaraan masih tetap dapat melaju :) tidak seperti di Jakarta, kalau sudah macet, para pengendara hanya bisa pasrah!

Tujuan pertama kami di Tanjung Pandan adalah Makan! tidak bisa tidak, harus makanan khas Belitung! akhirnya tour guide kami (yaitu rekan kerja kami yang ditempatkan di Pulau ini) berhenti di sebuah Ruko. Pertama kali tidak terlalu meyakinkan, mengingat di depan Ruko ini terdapat konter Handphone! kalau tidak jeli mengamati, mungkin kesan rumah makan akan lenyap sama sekali. Oh ya, sayang saya tidak sempat mencatat lokasi rumah makan ini, namun sebagai petunjuk, tempat ini ada di seberang Supermarket PUNCAK, di pusat kota Tanjung Pandan.

PhotobucketOkey, tanpa berpanjang lebar, makanan yang dimaksud adalah Mie khas Belitung... kalau di Jakarta banyak sekali penjual Mie Bangka, nah sekarang yang coba kami nikmati adalah Mie Belitung :D Tentu saja tour guide kami bukan tanpa alasan mengajak kami makan di sini. Konon, Bondan Winarno, pakar kuliner dan penjelajah makanan yang terkenal di TV itu pernah mampir di sini dan tentu saja Mie ini termasuk kategori Mak Nyuesss....! Next, Secara kasat mata makanan ini berbentuk Mie Kuah, tidak berbeda dengan Mie Kuah pada umumnya. Yang membedakan mie-nya bertekstur besar dan relatif tidak kenyal, typikal mie buatan rumahan. Kuahnya kental (mungkin ada semacam campuran kanji) dan manis, terasa pas ditambah sedikit sambal. Tambah semakin nikmat dengan topping udang, kentang, (semacam) tahu?, tauge dan irisan mentimun sebagai acar, tak lupa segenggam emping melinjo menambah kelengkapannya! :)

PhotobucketSelesai makan kami segera menuju penginapan. BUNGA PANTAI, begitulah orang-orang menyebutnya. Terletak di Jl. Pattimura No. 25 Tanjung Pandan. Terletak persis di samping pantai. Sederhana memang seperti tampak gambar di samping, namun toh kami hanya akan menghabiskan malam untuk tidur setelah seharian hunting. Yep! Setelah semua unpacking barang bawaan, kami segera mempersiapkan gear kami dan berangkat menuju tempat hunting pertama untuk hari ini. Tanjung Tinggi! Sebelum berangkat tentu saja, sedikit briefing dan berdoa bersama dilakukan.

PhotobucketPantai Tanjung Tinggi dapat ditempuh dengan menggunakan mobil pribadi selama 45 menit (31 km dari Tanjung Pandan). Pantai ini berpasir putih, dan unik karena terdapat ratusan batu granit besar yang tersebar di kedua semenanjung dan juga di laut di depan pantai. Ukuran granit mulai dari beberapa meter kubik hingga ratusan meter kubik, lebih besar dari sebuah bangunan sebesar rumah. Jika datang kesini Anda bisa naik, berjalan dan melompat diantara granit untuk menikmati pemandangan tidak biasa (yang tentu saja amat indah) dari setiap sudut anda berdiri. Bentuk dari batu-batu besar itu juga unik, sebagian membentuk gua, yang dapat digunakan berteduh dari panas. Pasir putih ada dimana-mana sepanjang pantai. Jika anda berkeluarga dan berencana berlibur dengan keluarga, anak-anak akan sangat suka bermain di sana. Karena ombak tidak besar, air lautnya jernih dengan permukaan bawah laut yang berpasir, anak-anak akan sangat suka bermain di pantai. Anda tidak perlu khawatir dengan serangan ikan hiu, karena tidak pernah terjadi di Belitung. Satu-satunya bahaya yang harus diwaspadai adalah ubur-ubur, kalau udah menyengat bisa bahaya tuh! BYW, penampakan di sebelah adalah saya :)

Setelah tertakjub-takjub akan indahnya pantai ini, segera kami mengeluarkan perlengkapan perang kami dan menghambur-hamburkan shutter!

Meski baru makan jam 09.00 dengan Mie Belitung tadi, dalam cuaca yang panas dan terik, pukul 12.30 perut sudah terasa sangat lapar. Tak perlu bersusah payah mencari, Ada paling tidak dua puluh rumah makan seafood sederhana di sepanjang pantai. Ini adalah tempat untuk anda beristirahat sejenak, minum kopi atau memesan makan siang. Menu utama adalah makanan laut. Hanya saja, jangan berharap anda mendapatkan pelayanan sekelas restoran di mall. Mereka hanya orang-orang biasa dari desa yang membuka restoran sederhana. Jangan khawatir, masyarakat di sana selalu ramah pada semua tamu, sama seperti umumnya orang Indonesia.

Jangan kaget, kami memesan makanan untuk hampir 20 orang, dan baru dapat didelivery setelah menunggu 1,5 jam! Namun, penantian panjang itu tertebus dengan kenikmatan masakan yang tiada tara... Nasi putih panas yang mengepul! Ikan(maaf saya nggak hafal nama ikan-nya, hanya Gulai Ikan Napoleon saja yang teringat he.. he..) dimasak berbagai macam cara, goreng, bakar, gulai dan pepes. Masih ada yang lain, cumi goreng tepung, udang, ca kangkung dan sambel yang mantap semakin membuat siang itu semakin nyaman. Tak lupa, dalam occasion seperti ini air kelapa muda yang diperoleh dari buah kelapa yang segar meramaikan suasana makan.

PhotobucketSelesai makan, acara memotret masih dilanjutkan sampai sore hari. Semakin sore langit semakin cerah, biru dan menawan. semakin membuat semangat menghabiskan sisa memori sore ini. Oh ya dalam sesi pemotretan di Pantai Tanjung Tinggi ini, kami sempet diwawancarai oleh TV Lokal Belitung, Belitung TV! bahkan sempet diambil gambar untuk ucapan selamat atas berdiri-nya stasiun televisi tersebut he..he... :)

Pemotretan di Pantai Tanjung Tinggi berlangsung sampai pukul 15.30, dan trip selanjutnya untuk pemotretan Sunset adalah Bukit Berahu. Sebagai Informasi Bukit Berahu adalah resort yang berlokasi di Desa Tanjung Binga berdekatan dengan Kampung Nelayan Tanjung Binga sekitar 18 Km dari Tanjungpandan. Bukit Berahu dilengkapi dengan kolam renang, cottage dan restoran yang dibangun di atas sebuah bukit kecil di tepi laut. Dari titik tertinggi di restoran Bukit Berahu kita dapat menyaksikan panorama yang menarik ke arah pesisir pantai Tanjung Binga. Cottage Bukit Berahu terletak di tepian pantai dan menghadap langsung ke laut lepas. Bangunan cottage Bukit Berahu dirancang dari kayu dengan gaya khas tradisional Belitung. Anda akan menuruni tangga menurun yang lumayan terjal untuk mencapai cottage di tepi pantai. Anda akan sangat menikmati pemandangan pasir putih yang dihiasi bebatuan granit sambil menyaksikan perahu nelayan yang melintas pada saat matahari tenggelam.

PhotobucketSayang kami tidak dapat memperoleh Sunset yg sempurna. Ketika mendekati Horizon, matahari yang seharusnya dapat terlihat mata telanjang saat tenggelam, tertutup awan. Jadi gampangnya ngomong, sore ini Gagal Total! ya sudah tidak mengapa, toh kuasa alam juga tidak bisa dilawan... So nikmati aja bukan? :D

Acara selanjutnya pulang ke penginapan. Mandi dan membersihkan badan. Sesudah itu Makan! Makan malam kami pada hari yang pertama ini Makanan Masakan Padang "Balenong". Kenapa Makanan Masakan Padang? toh di Jakarta juga banyak. He..he.. kami agak trauma dengan lamanya pesanan makanan restoran yang menyajikan masakan hasil laut, seperti siang ini. Rasa lelah dan mengantuk membuat kami enggan menunggu. Setidaknya masakan padang kan dapat dikatakan masakan yang siap saji :) sehingga pilihan yang realistis adalah ini. Tak banyak yang bisa diceritakan tentang Masakan Padang, di mana-mana rasa dan bentuk sudah pasti 11-12 (alias mirip dan tidak ada beda), ada Rendang, Ayam Goreng, Gulai Kakap, Peyek Udang, Sambel Hijau dsb... :)

Seharusnya setelah makan malam selesai, ada sesi sharing foto. Namun demikian acara tersebut digantikan acara lain yang lebih menarik, kenalan dengan pegawai kantor di Cabang Belitung! Acara cukup gayeng dalam suasana yang nyaman. Keakraban dibangun dari kesamaan pekerjaan, dan baru acara berakhir pukul 22.00 WIB.


DAY TWO 17.08.2008 (08.00 - 23.30)

Yep! pagi ini saya masih agak mengantuk... meski sudah pukul 07.00 WIB mesih merasa kurang saja tidurnya. Setelah mandi, segera Saya menuju ke ruang makan. Sudah tersedia Nasi Goreng dan Telor Ceplok Goreng. Memang sih, makanan typikal penginapan banget. Nggak terlalu istimewa kalau tidak bisa disebut biasa. Tapi dalam keadaan darurat, perut harus tetap di isi sebagai sumber energy untuk memotret siang ini.

Acara hunting dimulai dengan berdo'a bersama oleh ketua kelompok di penginapan sebelum berangkat. Dalam melakukan aktifitas apapun, memang berdo'a sangat penting, bagaimanapun juga semua kembali kepada Allah sebagai penguasa Alam, manusia hanya bisa meminta.

PhotobucketTrip hari ini dimulai dari Pulau Lengkuas, namun demikian sebelum menyeberang kami akan melakukan pemotretan di Pantai Tanjung Kelayang. Sedikit informasi Pantai Tanjung Kelayang terletak di Kecamatan Sijuk sekitar 27 Km dari Tanjungpandan ibukota Kabupaten Belitung. Tanjung Kelayang memiliki pesisir sepanjang kurang lebih 1,5 Km dengan lebar pantai ± 7 M pada saat pasang tertinggi dan ± 10 M pada saat pasang terendah. Pantai Tanjung Kelayang meliputi area seluas 60 Hektar. Memiliki karakteristik pantai berpasir putih dan laut biru yang tenang dengan panorama pohon kelapa di sepanjang pesisirnya. Karakter pantai yang sungguh cocok untuk berenang atau berjemur di antara bebatuan granit yang tersusun menakjubkan. Lantas kenapa kami mampir dulu ke Pantai Tanjung Kelayang? karena kapal yang akan membawa kami ke Pulau Lengkuas berlabuh di sini dan rombongan akan berangkat dari tempat ini.

Di Pantai ini kami bertemu dengan empat pengunjung lain dari Jakarta yang akhirnya dengan sedikit bujukan berhasil menjadi Model dadakan, yang rela untuk melakukan pose-pose yang membutuhkan tenaga seperti melompat dan berlari.. ha..ha.. :) terlebih lagi dalam cuaca seterik ini... :) Bahkan dalam scene selanjutnya mereka berempat ikut ke Pulau Lengkuas.

PhotobucketMungkin sekitar 1 jam kami menghabiskan shutter di pantai ini, pasir putih, sinar matahari, air yang jernih membuat betah berlama-lama, but time is running out! jadwal mesti di tepati kalau tidak tertinggal. 2 buah kapal (kalau tidak boleh disebut dengan perahu sederhana) membawa rombongan kami ber 23 termasuk dengan 4 pengunjung yang saya sebut di atas. Menurut pengemudi kapal masing-masing kapal punya kapasitas maksimal 15 orang penumpang. Pulau Lengkuas kami tempuh dalam waktu 30 menit. selama dalam perjalanan, pemandangan alam menuju Pulau ini begitu indah dan menakjubkan. Pulau-pulau kecil, bebatuan granit, maupun air laut yang jernih senantiasa ada di sekeliling kami. Sesuai dengan tulisan di website remi Pemkab Belitung Pulau ini berada di Kecamatan Sijuk. Pulau ini terkenal dengan Mercusuar yang masih berdiri tegak, dibangun pada tahun 1882 oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Sampai saat ini mercusuar tersebut masih berfungsi dengan baik sebagai penuntun lalu lintas kapal yang melewati atau keluar masuk Pulau Belitung.

Begitu sampai di Pulau Lengkuas, tanpa membuang banyak waktu kami segera menggelar peralatan tempur, dan segera mengamburkan shutter... he..he.. namun keindahan alam dan angin sepoi-sepoi membuat saya banyak menghabiskan waktu tidur-tiduran di atas pasir pantai yang lembut, dibawah pohon yang rindang. Saya Sempat terlelap beberapa saat akibat kenyamanan pulau ini. Tak banyak orang yang datang ke pulau ini. Saat kami datang ada 3 orang fotografer dari Medan, Jakarta dan Solo sedang melakukan pemotretan.

PhotobucketTak ingin sia-sia datang ke sini, saya sempatkan untuk naik ke Puncak Mercusuar yang umurnya lebih dari satu abad ini. Bangunan Mercusuar masih tampak kokoh namun karat dan warna yang usang tidak dapat menutupi usia-nya. Untuk dapat naik ke puncak Mercusuar membutuhkan tenaga ekstra, mengingat ada 18 tingkatan yang harus dilalui sebelum dapat sampai puncak. Belum lagi gear yang harus dibawa, akan semakin membebani. Oh ya, tangga untuk mencapai puncak juga tidak mudah, dengan anak tangga yang sempit hanya cukup untuk satu telapak kaki, belum lagi pegangan tangan yang berkarat, yang pasti anda wajib berhati-hati kalau naik ke atas. Setelah sampai di atas, kelelahan dan rasa letih terbayar lunas! keindahan sekeliling pulau sukar sekali dilukiskan, hijau dan biru air laut diselingi warna putih pasir senantiasa ada di sekeliling pulau. Bebatuan, pohon kelapa dan warna hijau pepohonan seolah menjadi aksesoris yang menarik dalam landscape pemandangan yang indah ini.

Makan siang kami lewatkan dengan menu Ikan bakar yang dimasak di pulau ini, sederhana memang, namun karena lapar, rasa yang sederhana itu cukup menambah selera makan. Bukankah makanan apa saja, jika kita lapar akan terasa nikmat. Seolah mendapatkan energi baru, dan memang demikian, sesudah makan kembali saya berputar pulau mencoba menemukan spot yang baru.

Semakin siang, ternyata semakin banyak pengunjung yang datang ke pulau ini, sehingga untuk melakukan pemotretan agak kurang terasa nyaman. Bukan karena kehadiran pengunjung, namun frame yang saya ambil muncul object lain diluar yang saya kehendaki. Beberapa pengunjung duduk-duduk di hamparan pasir putih di bawah pepohonan, beberapa pengunjung lainnya mandi dan snorkling di pantai yang jernih.

Oh ya, di pulau ini telah terjadi musibah! Oakley Juliet Ducati saya jatuh dan dengan sukses menghantam serpihan karang... Lensa sebelah kiri dengan sukses tergores. Goresan tersebut membekas seluas 9 mm2. Jujur saya sempet shock dan udah Bete sepanjang siang itu, membuat mood untuk memotret hilang seketika. Tak ada yang perlu disesali, jatuhnya Juliet saya juga karena kesalahan saya... ya sudah, nikmati aja!

Tak terasa sudah empat jam kami menghabiskan waktu di pulau ini. Sebelum meninggalkan pulau kami sempatkan untuk melakukan foto bersama atau yang biasa disebut Foto Keluarga. Bukan apa-apa, memang naluri bahwa setiap orang pengen nampang di kamera he..he... biasanya kami yang memotret sekali-kali boleh dong dipotret :) Setelah beberapa shots, kami segera mengemasi barang dan melanjutkan ke tempat berikutnya...

PhotobucketPulau Burung terletak di lepas Pantai Tanjung Binga Kecamatan Sijuk. Di Pulau ini terdapat bongkahan bebatuan di bibir pantai yang menyerupai paruh seekor burung sehingga pulau ini dinamakan Pulau Burung oleh penduduk setempat. Sebenarnya dari Pantai Tanjung Kelayang menuju Pulau Lengkuas anda melewati pulau ini, namun dari informasi yang saya peroleh, biasanya pulau ini disinggahi setelah berkunjung dari Pulau Lengkuas bukan sebaliknya. Menuju ke pulau ini dapat ditempuh 15- 20 menit menggunakan perahu nelayan. Secara umum fisik pulau ini sedikit lebih besar daripada Pulau Lengkuas, dengan pasir putih selembut tepung di sisi Selatan dan bebatuan granit di sisi Utara. Objek paling menarik dari pulau Burung adalah batu granit yang berbentuk seperti paruh burung (seperti yang saya tulis di atas). Selain itu di bagian selatan pantainya sangat nyaman untuk dipakai bermain air karena tidak terdapat batu karang di bawahnya.

Segera setelah mendarat, beberapa dari kami tidak segera membongkar peralatan-nya namun lebih memilih duduk-duduk dan menikmati pemandangan di bawah rimbunnya pohon kelapa. Beberapa yang lain segera melepas pakaian luar dan segera menceburkan diri ke air laut yang jernih dengan riak ombak kecil. He..he... begitulah fotografer, masih seperti manusia biasa, suka bermain dan bermalas-malasan :) Saya sendiri pun demikian, dengan sebotol air mineral ditangan saya malah tiduran di atas pasir, berteduh dibawah pohon yang rindang sambil memandang laut lepas, bagaimanapun juga akan sangat sayang sekali jika keindahan ini dilewatkan hanya untuk dipandang melalui lensa. Setelah puas, 15 atau 20 menit kemudian segera mencari angle dan spot terbaik untuk memotret!

Sekitar pukul 15.30 Kami mengemas barang dan segera menuju ke Tanjung Kelayang lagi untuk kembali ke daratan besar, dan mengejar sunset di sana. Namun ternyata di tengah perjalanan kembali, rombongan mampir di Pulau Babi.

Tak banyak yang bisa saya ceritakan di Pulau ini. Yang jelas pulau babi merupakan salah satu dari pulau-pulau yang tersebar di sekitar Pulau Belitung. Saya tidak melakukan eksplorasi di pulau ini, mengingat sudah cukup lelah, bahkan tripodpun saya tinggal di perahu. Ketika mendarat saya hanya sempatkan memotret beberapa frame saja. Dan selanjutnya saya lebih banyak berdiam, sambil tiduran di atas pasir, emandang rekan-rekan yang sedang memotret 4 Orang model dadakan :)

Tidak terlalu lama kami menghabiskan waktu di pulau ini. Mungkin sekitar 45 menit kami di sini dan segera menuju kembali ke daratan besar.

PhotobucketSesampai di Tanjung Kelayang ternyata ada keramaian di sana. Pengunjung tampak mengerumuni sesuatu. Setelah mendekat, ternyata ada lomba tarik tambang! Acara Lomba ciri khas perayaan 17-an he..he.., dan memang hari ini adalah HUT Kemerdekaan RI ke 63! Selamat Ulang Tahun Negeriku, semoga makin jaya selamanya! Rencana mengambil Sunset di sini urung dilaksanakan, mengingat beberapa dari kami kelelahan dan malas menggerakkan badan setelah menemukan tempat duduk enak di sudut restoran yang telah tutup sore itu. Jadi, waktu yang seharusnya digunakan untuk memotret Sunset digunakan untuk berbincang santai melepas lelah :)

Cukup lama kami menghabiskan senja di Pantai Tanjung Kelayang untuk berbincang. Setelah dirasa cukup kami segera kembali menuju ke Kota Tanjung Pandan.

Sesuai dengan rencana semula, kami tidak langsung kembali ke penginapan, namun langsung makan malam untuk menghemat waktu. Dan makan malam malam kami malam ini adalah di sebuah restoran, tak jauh dari tempat penginapan kami, mungkin sekitar 200-300 meter, dan masih terletak di Jalan Pattimura Tanjung Pandan. Nama restoran ini, PANDAN LAUT. Menyediakan aneka masakan, terutama masakan laut.

Malam ini menu makan kami adalah Ikan Tengiri Bakar, Cumi Goreng Tepung, Udang Goreng Saus Mayonaise, Ca Jamur, Ca Kangkung, Ca Jamur, dan beberapa masakan lain. Menunggu pesanan masakan matang, segelas besar Soda Gembira (Soda, Syrup dan Susu Kental Manis) menjadi pilihan melepas dahaga.

Tak terasa sudah hampir satu jam kami menunggu, Soda Gembira di gelaspun sudah semakin menipis, namun pesanan tak kunjung tiba... :( Duuh... laper! Yah apa boleh buat, mengingat masakan-masakan yang kami pesan adalah masakan type fresh served makanya butuh waktu yang agak lama menyiapkannya. Berbeda misalnya dengan type masakan soto, rawon, masakan padang, apalagi fried chicken! :) Meski menunggu, kami masih cukup sabar dan mengisi waktu panjang itu untuk ngobrol dan berbagi ilmu satu dengan yang lain, sampai akhirnya masakan pesanan terhidang di Meja!

Hmmm... yummy! penantian panjang yang melelahkan (duh!) terbayar sudah, sepiring nasi putih panas secuil Ikan Tengiri bakar, 2 potong calamari goreng tepung, Ca Kangkung secukupnya dan tentu saja sejumput sambal pedas menuntaskan rasa lapar! Jujur saja, masakan di sini di luar ekspektasi, semuanya enak! mantep dan Mak Nyuess... :D Bagi anda yang sempat mampir di Tanjung Pandan, tak ada salahnya makan di tempat ini, harga yang anda bayar akan setimpal dengan rasa yang didapat!

Akhirnya... setelah makan kenyang, pukul 20.30 kami sampai di penginapan! segera saja membersihkan diri, mandi dan gosok gigi... hehe.. :) Sesudah itu, ibarat orang mau perang, peralatan tempur juga mesti dibersihkan. Peralatan fotografi akan rentan terganggu akibat bersinggungan langsung dengan environmet laut. Kadar garam yang tinggi dengan mudah akan membuat karat pada bagian besi di peralatan fotografi anda. Oleh karena itu, basuhan menggunakan lap kain halus yang dibasahi air tawar sangat perlu untuk menghilangkan bekas uap air laut.

Seharusnya malam ini ada acara sharing session dan pembagian doorprize dari sponsor. Namun mungkin banyak yang lelah, acara tersebut urung dilaksanakan. Saya sendiripun setelah membersihkan gear fotografi saya, tiba-tiba terlelap begitu saja, dan terbangun baru pukul 23.30 malam di mana semua orang sudah beranjak tidur.



DAY THREE 18.08.2008 (07.00 - 15.30)

PhotobucketSaya terbangun karena suara hujan. Semula saya berfikir bahwa saya bermimpi mendengar hujan, namun setelah membuka mata dan 100% sadar, ternyata di luar kamar penginapan sedang turun hujan lebat! Gila! alamat berantakan schedule siang ini ke daerah Membalong. Acara yang di siapkan untuk siang ini, sebelum kembali ke Jakarta adalah Hunting di Membalong yang terletak kurang lebih 60 km arah selatan kota Tanjung Pandan. Membalong sendiri berdasarkan informasi belum merupakan daerah tujuan wisata yang umum. Tempat ini hanya direkomendasikan untuk para petualang atau fotografer landscape yang tidak mengharapkan tersedianya fasilitas lengkap. Tujuan kami ke tempat ini adalah Tanjung Batu Lubang!

Segera saja saya mandi dan Sarapan. Oh ya sarapan kita pagi ini adalah Mie Goreng + Telor Ceplok Goreng. Entah lapar atau entah karena hujan, sarapan pagi ini rasanya jauh lebih enak dibanding sarapan Nasi Goreng kemarin pagi. Selesai makan, tampaknya hujan tidak tampak akan berhenti. Ya sudah, saya sudah mengikhlaskan pagi ini mungkin sesi hunting foto bakalan tidak terlaksana. Akhirnya sembari menunggu hujan reda, di ruang makan, ditemani segelas kopi panas kami berbincang dan menghabiskan waktu.

Dalam bincang-bincang tersebut, dilakukan pengundian doorprize. Hadiah yang diundi masih seputar fotografi tentunya. Ada sebuah kamera digital pocket, tas kamera, backpack kamera, kartu memori, pouch dan beberapa asesoris lainnya. Thank God! meski nggak dapat hadiah pertama saya mendapatkan sebuah Transcend SDHC 4 GB. Lumayan, meskipun sampai saat ini saya belum memiliki Device yang menggunakan kartu memori jenis ini, hadiah ini membuat sedikit motivasi bertambah...

PhotobucketSampai pukul 09.30 kami berbincang, dan diputuskan untuk segera mengemas barang-barang bawaan kami. Acara kami setelah check out dari penginapan adalah mencari dan berbelanja oleh-oleh, dilanjutkan makan siang di Kota Tanjung Pandan, kemudian hunting di Smelter (tempat peleburan) Timah, dan yang paling akhir menuju ke Bandara. Acara berkemas cukup cepat dilaksanakan, tidak sampai satu jam semua sudah beres rapi serta dipastikan tak ada lagi yang tertinggal. Dan tepat pukul 10.30 kami sudah Meninggalkan penginapan BUNGA PANTAI.

PhotobucketSetelah Check Out dari penginapan, sesuai dengan jadwal yang ditetapkan sebelumnya, kami mencari oleh-oleh penganan khas Pulau Belitung. Dan atas petunjung dari "guide" lokal kami, rombongan berhenti di sebuah rumah penduduk. Ternyata tempat ini merupakan tujuan kami membeli oleh-oleh khas Belitung. Dari luar, rumah tersebut tampak sama dengan rumah-rumah di sekitarnya, yang membedakan adalah hadirnya sebuah papan berukuran 80 cm x 60 cm di depan pagar yang bertuliskan KERUPUK ASLI BELITUNG dan No Telp Pemiliknya. Di dalam ruang tengah terdapat rak-rak dan wadah berisi bermacam-macam kerupuk. Bahan baku kerupuk tersebut sudah pasti berhubungan dengan laut, mengingat Pulau Belitung sangat kaya dengan hasil laut. Ada kerupuk Udang, Kerupuk Ikan, Kerupuk Cumi, Terasi dan sebagainya. Saya sendiri belanja oleh-oleh kerupuk secukupnya, yang terpenting bisa dibagi dan pantas untuk rekan di kantor maupun di rumah. He..he.. :)

PhotobucketSetelah selesai berbelanja dan memborong oleh-oleh, waktu telah menunjukkan pukul 12.15, berarti sekarang saatnya makan siang. Dan makan siang kita kali ini adalah Rumah Makan PRIBUMI yang terletak di Jl. MT Haryono No. 21 Tanjung Pandan. Type masakan yang tersedia adalah masakan model rumahan. Tersedia berbagai macam masakan yang semuanya siap disajikan (mengingatkan saya akan rumah makan Tegal). Dengan demikian pelanggan dapat langsung memilih menu apa yang ingin dinikmati. Dengan demikian kali ini, kami harap tidak terlalu lama makanan akan tersedia di meja makan :) Namun ternyata, dugaan saya salah besar, masakan yang telah siap sajipun, membutuhkan yang cukup lama sampai terhidang di meja. Memang patut di maklumi, si Ibu pemilik rumah makan kan harus menyiapkan masakan untuk 20 orang, jadi ya wajarlah kalau time service-nya lama. Satu komentar saya setelah mencicipi masakan Pribumi ini, Gila bener! makanan yg ada di belitung nggak ada cerita nggak enak! Masakannya nikmat sekali, ada Kepiting Goreng (Dagingnya dicincang, dimasukkan ke cangkang, selanjutnya digoreng bersama telur), Kepiting Oseng Telur, Sambel Goreng Hati, Gulai Tahu, Sambel Goreng Krecek, Gulai Ikan, dsb... wuih manteplah dan enak pokoknya. Vote untuk Kepiting Gorengnya! Saya sendiri sebenernya nggak terlalu suka kepiting, bukan karena rasa, namun males sekali harus berusaha keras untuk mendapatkan daging dibalik cangkangnya, namun khusus untuk kepiting goreng di sini berbeda... :)

Hmm... Belanja oleh-oleh sudah, Makan siangpun sudah, Sekarang waktu-nya hunting foto di Smelter (peleburan) Timah. Sebenernya hunting foto di sini di luar skenario, namun daripada menunggu pesawat di bandara lebih baik dimanfaatkan untuk hunting Human Interest di sini. Sedikit introduksi sejak lama Pulau Belitung lekat dengan timah. Namun itu dulu, tepatnya dimulai tahun 1952, saat sebuah perusahaan swasta belanda melakukan usaha penambangan timah di Billi-ton, nama Belitung dulunya. Kejayaan timah di Belitung, seakan berakhir sejak PT Timah membubarkan unit penambangan timah Belitung, tahun '90-an. Kini, yang tersisa hanyalah kolong-kolong, sebutan untuk bekas reklamasi yang berubah menjadi kolam atau danau, dan artefact ini akan jelas kelihatan kalau diamati dari pesawat udara.

PhotobucketMeski Industri Timah yang besar telah meninggalakn Belitung, bukan berarti Industri Timah di sini mati dan habis, terbukti dari masih adanya Smelter yang tersisa dan berusaha hidup dari bahan tambang yang ada. Untuk mencapai lokasi ini, butuh waktu 30 Menit perjalanan darat. Oh iya, jalan-jalan yang kami lewati punya kualitas yang baik, sehingga perjalanan tidak pernah di hambat oleh jalan berlubang ataupun jalan rusak. Terletak di antara Kota Tanjung Pandan dan Bandara H. AS. Hanandjoeddin, sehingga sesi hunting kami di sini cukup logis dan secara waktu akan efektif.

Setelah sampai di Lokasi Smelter, yang mirip dengan pabrik pada umumnya, kami segera melakukan pemotretan, utamanyanya dengan tema Human Interest. Pemilik Smelter sangat kooperatif, mengingat acara ini sifatnya hobby dan bukan termasuk business intelegence. Acara hunting di sini tidak dapat berlangsung lama, mengingat batas waktu keberangkatan pesawat sudah semakin dekat. Mungkin sekitar 30 Menit kami habiskan waktu di sini, tak banyak frame yang berhasil saya dapatkan. Hanya beberapa saja yang dapat dibilang sharp! yang lainnya blur dan goyang.... hehehehe...

Suka atau tidak, kami harus segera kembali ke Menuju Bandara
H. AS. Hanandjoeddin jika tidak ingin tertinggal pesawat. Barang bawaan kami semakin menumpuk dengan tambahan oleh-oleh yang dibeli tadi... dan tepat pukul 15.30 kami terbang kembali menuju Jakarta.


I N F O
Photographer : Reza Rachmadiananto
Camera : Canon A460
Camera : Canon EOS 400D
Lenses : Tamron 17-50mm f/2.8 XR Di II
Filter : Hoya UV

Selengkapnya...