Showing posts with label Rupa-rupa. Show all posts
Showing posts with label Rupa-rupa. Show all posts

Monday, September 28, 2009

SUGENG TINDAK MAS ...

PhotobucketSore ini sebuah SMS dari nomor yang tidak aku kenal mengabarkan bahwa seseorang yang sangat dekat telah pergi untuk selamanya...

Seakan tidak percaya dengan beberapa ratus karakter yang mampir di HP, segara kuputuskan untuk menelepon nomer yang tak kukenal itu. Ternyata suara di seberang sana adalah adik angkatanku kuliah dulu, dan bahwa benar seseorang yang aku kenal baik, seorang sahabat itu... Mohammad Sadad Kholidi telah pergi.

Lemas sudah kaki ini... luruh sudah kekuatan hati... Ya Allah engkau Maha segalanya, engkau pemilik atas segala yang berdiri di Bumi, penguasa segala apa yang terpendam di Lautan dan engkau adalah pemimpin tertinggi diantara pemimpin... Cepat atau lambat kami akan kembali padamu... sesuatu hal yang kami tahu pasti, tetapi tidak untuk sahabat ini, betapa kehadirannya selalu kami nantikan, dan keceriaannya membawa kebahagiaan bagi kami.

Suthong... entahlah aku tidak terlalu tahu kenapa seseorang memanggilnya dengan nama ini, adalah seorang sahabat dekat sejak awal kuliah dulu di UGM. Ada banyak sekali hal yang pernah saya lewati bersama dengan Suthong, Anang, Henry, Harum, Agung, Roy dan beberapa kawan lain. Mulai dari Gunung Kidul, Pekalongan sampai Surabaya, mulai Ujung Pantai Selatan sampai dengan Puncak Suralaya... ah terlalu banyak kalau harus disebutkan. Betapa sering Suthong menghabiskan malam di tempat kostku di Seturan sekedar mampir ngopi, nyethe atau nonton film.

Yang hanya bisa kuingat, mungkin kadang aku terlalu keras kepada Suthong dulu, betapa aku banyak bicara hal yang muluk-muluk, sok menasehati, dan bahkan kurang ajar untuk menggurui tentang jalan hidupnya yang sering kali kukecam... Puluhan kali aku mengingatkannya untuk segera menyudahi kuliah di Antro, sampai akhirnya 'nasehat' itu aku akhiri tepat saat usia persahabatan kami menginjak 4 empat tahun karena saya harus ke Ibu kota untuk mengadu nasib. Yah, tetapi Suthong adalah tetap Suthong yang aku kenal, sabar, rendah hati dan baik, meski mungkin kadang tersakiti.

Ya allah, sekarang aku benar-benar merasa kehilangan, mungkin aku hanya sedikit dari banyak orang yang merasa sangat kehilangannya. Meski tak jarang menasehatinya.. tetapi Ketika aku galau dengan perasaan, atau bahkan mempertanyakan tentang kehidupan Suthong membimbingku dengan caranya sendiri, cara seorang kakak, yang tak pernah menggurui. Ada banyak falsafah hidup yang begitu kurang sopannya aku curi di sela sluprutan es coffee mix Yu Par, atau hisapan A Mild di bawah Pohon Simbar depan Perpus Arkeo.

Aku begitu mengingat ketika Suthong berkata : "wis ta lah, ra usah dipikir mbik..." untuk meyadarkanku dari kegalauan serta keresahan diri maupun hati. Penyuka lagu mendayu-dayu, seperti Layang Kangen-nya Didi Kempot... sebuah kerinduan cinta, masih kuingat ketika dengan berselimut sarung kami berdua menyanyikannya diantara pekatnya kabut di lereng Petung Kriyono. Entahlah soal cinta dia tidak pernah bercerita, aku hanya bisa menduga-duga bahwa dibalik tubuh yang penuh rasa sakit akibat Hemofili itu... menyimpan kasih yang nyata.

Bagi diri sederhanaku Suthong adalah seseorang dermawan sejati, memberi sesuatu yang uang pun tak akan mampu membeli... Kebahagiaan. Ya, Aku begitu ingat saat menantikan kumpulan di depan Kandhang Antro saat Suthong mulai bercerita tentang cerita saru yang lucu, yang akan membuatku tertawa-tawa bahkan terbawa sampai Selokan Mataram saat aku pulang dari Kampus. Dari Suthong pula aku banyak belajar bahwa membahagiakan orang lain itu sungguh sangat mengasyikkan dan membanggakan, terbukti beberapa tahun kemudian saat aku mulai dikenal di kalangan teman-teman sejawat suka bercerita lucu tur saru, yang jelas-jelas aku curi dari Suthong.

Satu kebahagian lain yang pernah diberikan kepadaku adalah saat tanggal 30 November 2008, Suthong dengan kaki tertatih tatih menahan sakit bersama Agung datang ke acara pesta pernikahanku di Surabaya (yang akhirnya saat ini harus kukenang sebagai saat terakhir aku bertemu dengan Suthong, dan rasa sesalku terus membuncah bahwa saat itu aku tidak banyak bisa banyak bicara, kecuali hanya sempat berfoto sejenak dengannya... Ah benar-benar aku tak tahu diri...)

Tak pernah berkata tidak, selalu berusaha mendahulukan kepentingan kawan, tak enak-an dan tak pernah mengeluh... atau setidaknya yang pernah aku tahu Suthong sering kali berkata "Duh gusti... urip kok koyo ngene... Haah!!!" yang aku yakin itu bukan keluhan mungkin hanya sebuah pertanyaan dari anak manusia...

SMS terakhir adalah seminggu yang lalu... selalu, sejak beberapa tahun yang lalu Suthong selalu memulainya lebih dahulu. Ucapan rasa syukur serta permohonan maaf lahir dan bathin di hari raya Idul Fitri. Tanpa tahu apa yang akan terjadi, aku hanya membalas seperlunya SMS Template sama dengan ratusan SMS lain. Andai aku tahu, mungkin jika perlu aku akan mampir ke Magelang saat mudik kemarin.

Ya Allah... muliakanlah sahabat semua orang ini, berikan tempat terbaik di sisiMu. Ampunilah segala dosa-dosa yang pernah ia buat kepada orang-orang disekitarnya... Kami yakin ya Allah, bahwa kesalahan itu tak pernah disengaja... Innalilahi Wa Innalilahi Rojiuuun...

Betapapun berat, kami lepas kamu Thong,
Sugeng tindak Mas Sadad...


Jakarta, 28 September 2009

------------------------------------

Layangmu wis tak tompo wingi kuwi
wis tak woco opo kareping atimu
trenyuh ati iki, moco tulisanmu
ra kroso netes luh ning pipiku

Umpomo tanganku dadi swiwi
iki ugo aku mesti enggal bali
ning kepriye maneh mergo kahananku
Cah ayu entenono tekaku

Ra maido sopo wong sing ora kangen
Adoh bojo pengen turu angel merem
Ra maido sopo wong sing ora trenyuh
Ra kepethuk sawetoro pengen weruh

Percoyo aku...
Kuatno atimu...
Cah ayu entenono tekaku...


------------------------------------

Selengkapnya...

Wednesday, October 1, 2008

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1429 H

Photobucket


Setelah menempuh ujian selama satu bulan penuh, untuk mengekang hawa nafsu kita, kini tiba saatnya kita rayakan hari kemenangan. Dengan penuh rasa syukur dan keiklasan marlah kita saling memaafkan, silaturahim dan senantiasa berbuat baik dengan sesama.

"Taqabbalallahu minnaa wa minkum (Semoga Allah menerima dari kami dan darimu) Minal Aidzin Wal Faidzin (Mohon Maaf Lahir dan Batin)"


Hormat Kami,


Reza Rachmadiananto

Selengkapnya...

Wednesday, September 10, 2008

H O A X !

PhotobucketPagi ini sebelum berangkat kerja, sebuah pesan singkat mampir di PDA saya. Biasanya yang mengirim pesan singkat sepagi ini adalah pasangan saya (nun jauh di ujung timur Pulau Jawa ini), namun ternyata bukan. Nomor telpon pengirim pesan singkat inipun tidak saya kenal, apabila salah seorang kawan atau kenalan pasti muncul nama di antara 1200 buah kontak yang tersimpan di organizer saya ini. Sampai lama saya membaca isi pesan pendek ini, beberapa kali saya ulangi dan akhirnya saya hanya bisa bilang, Sial!
Isi pesannya sangat provokatif, " hai,nm gw tasya, umr gw 19 thn.lo hrs tlg gw! Tgl 6 stember gw br plg dugem,gw dbnuh n di copet tpt jm 2 stlh itu tbuh gw dptong jd 13 bag.tpt sebln ini tubuh gw blm trkmpl smw.Kpla gw blm dtmuin.gw lp muka gw krn muka gw drusak sm mrka.lo hrs bntu cri kpla gw! Lo hrs sebar sms ini ke 13 org,jgn smpe brnti di elo! kLo g lo bkal gw gguin tiap jam 2 pagi.lo tba2 bgun n ada kpla dgn muka rata.INI KISAH NYATA." Entahlah rasanya kepengen marah saja dapat pesan singkat seperti ini. Bukan apa-apa, bagimana kalau pesan seperti ini mampir kepada orang yang paranoid apakah tidak semakin menjadi beban pikiran? Jelas ini lelucon yang tidak lucu!

Jika mau berfikir logis, mana ada orang mati yang sempet kirim SMS? pake bahasa gaul pula. Apa tidak kurang kerjaan tuh orang? Jelas ini HOAX, Sampah! jika saja saya kirimkan ini ke 13 orang lain sesuai perintah bukankah semakin meresahkan masyarakat? Mirip sebuah reaksi berantai sudah pasti akan menyebar dengan cepat dan tak terkendali. Oleh karena itu STOP sampai di sini!

Berbicara tentang HOAX, sudah puluhan kali mampir dalam inbox SMS maupun inbox e-mail saya, antara lain kirim sms 10 x dan pulsa anda akan bertambah, sms yang bisa membunuh orang, dan beberapa macam lainnya. Salah satu yang masih tersimpan di inbox outlook saya adalah cerita Lintah dalam Kangkung, yang kira-kira begini :

Jika Anda penggemar kangkung, baik itu ca kangkung, petis kangkung, kangkung cos, dll yang berkaitan dengan kangkung, mungkin cerita ini dapat menjadi pertimbangan bagi Anda pada saat akan mengkonsumsi kangkung.

Saya mendapat cerita ini dari seorang teman, tapi Saya lupa tempat persisnya di negara mana, yang jelas antara Singapura / Malaysia .

Pada suatu hari di rumah sakit terkenal, semua dokter kebingungan hanya karena ada seorang anak kecil yang tampan menderita sakit perut. Anak itu dibawa ke rumah sakit oleh orang tuanya setelah 2 hari menderita diare. Sudah bermacam obat sakit perut yang diberikan kepada anak itu, namun diarenya tidak kunjung sembuh.

Di rumah sakit orang tua anak tersebut ditanya oleh dokter, makanan apa saja yang sudah dimakan oleh anak tersebut selama 2 hari ini. Orang tua anak itu kebingungan, karena sejak anaknya diare otomatis anak tersebut tidak mau makan, dia hanya minum susu, itu pun langsung dikeluarkan lagi. Setelah usut punya usut, ternyata sebelum menderita diare, malamnya anak tersebut baru saja diajak makan kangkung cos di restoran oleh orang tuanya.

Dokter segera melakukan rontgen, ternyata di usus anak tersebut telah berkembang biak lintah dengan anaknya yang kecil-kecil. Dokter angkat tangan dan menyatakan tidak sanggup mengambil tindakan medis apapun. Akhirnya anak kecil tampan yang malang itupun meninggal dunia.

Usut punya usut, ternyata lintah itu sebelumnya bersemayam di dalam batang kangkung yang besar. Memang, untuk penggemar kangkung cos yang paling enak adalah batangnya, apa lagi jika dimasak oleh seorang ahli, maka kangkung cos rasanya akan menjadi renyah. Lintah yang berada di dalam batang kangkung itu tidak akan mati walau dimasak selama apapun, apa lagi untuk kangkung cos proses memasak tidak terlalu lama untuk menghasilkan rasa kangkung yang enak. Lintah hanya akan mati jika dibakar.

Di dalam usus anak tadi, lintah yang tadinya hanya 1 dalam 2 hari berkembang biak dengan cepatnya karena terus menerus menghisap darah yang ada, otomatis dokter juga kebingungan, bagaimana mematikan/membersihkan lintah yang telah sangat banyak tersebut dari dalam usus anak malang itu.

Jujur, sejak mendengar cerita itu, kesukaan saya akan kangkung menjadi berkurang, boleh dibilang sudah 1 bulan ini saya sama sekali tidak mengkonsumsi kangkung dalam bentuk apa pun, bukan karena menjadi paranoid, tapi bagi saya lebih baik menjaga segala kemungkinan yang ada, toh tidak hanya kangkung yang dapat kita konsumsi, masih banyak sayur lain yang dapat kita makan dengan meminimalisir segala kemungkinan “lintah” yang terselip di dalamnya.

Semoga cerita ini dapat menjadi pertimbangan untuk kita semua pada saat ingin mengkonsumsi kangkung.


Jelas ini tak masuk akal, bagaimana lintah bisa bersemayam di dalam batang kangkung? sementara kangkung tersebut dimasak, dan saya yakin dengan suhu yang tinggi sehingga cukup untuk melenyapkan benda-benda asing selain sayuran itu. Selain itu e-mail ini penuh kejanggalan yang susah ditulis karena saking banyaknya.

So!? Kesimpulannya, bagi yang pernah menerima kiriman seperti ini jangan asal forward saja, lihat, baca dan rasakan dulu. Sekiranya akal sehat bilang tidak, ya jangan teruskan! jangan jadikan kecemasan orang lain menjadi sebuah komoditas dan lelucon yang tidak lucu, kecuali kalau anda mau digolongkan sebagai orang-orang b*d*h! duh...

Selengkapnya...

Sunday, August 31, 2008

MARHABAN YA RAMADHAN

PhotobucketTak terasa sudah setahun berlalu sejak Hari Raya kemarin. Pekerjaan dan rutinitas lainnya membuat waktu berjalan, tak terasa namun pasti, dan tiba-tiba saja tersadar bahwa bulan Ramadhan akan dimulai esok pagi... Ramadhan (رمضان) merupakan bulan kesembilan dalam penanggalan Hijriyah. Sepanjang bulan ini pemeluk agama Islam melakukan serangkaian aktivitas keagamaan termasuk di dalamnya berpuasa, shalat tarawih, peringatan turunnya Al Qur'an, mencari malam Laylatul Qadar, memperbanyak membaca Al Qur'an dan kemudian mengakhirinya dengan membayar zakat fitrah dan ditutup rangkaian perayaan Idul Fitri.

Ramadhan bagi sebagain orang mungkin memiliki romantisme tersendiri, bagaimana masing-masing individu memaknai secara pribadi bulan Suci ini. Membangun sebuah hubungan vertikal antara "kawulo - gusti" yang lebih erat dan penuh kasih sayang antara sesama manusia. Seolah-olah berlomba mendapatkan berkah illahi, sungguh sayang sekali dilewatkan. Gusti Allah berjanji bahwa pada bulan ini siapapun yang memohon akan diberi dan siapapun yang melakukan kebaikan akan dibalas berlebih kali lipat.

Saya sendiri menyadari bahwa 11 bulan terakhir, kurang dekat dengan Gusti Allah, terasa begitu lebar jarak denganNya. Ada banyak hal yang membuat hubungan yang seharusnya erat ini terasa jauh dan hampa. Dalam kontemplasi diri malam ini, perasaan terasing di dalam ritme kehidupan keseharian tak terelakkan. Bagai sebuah layang-layang putus dihempas angin...

Entahlah, di dasar lubuk hati terdalam, esok... keinginan untuk lebih berbakti kepada Allah terasa lebih berkobar, tak seperti biasanya. Mungkin sebuah langkah kecil yang pelan namun pasti lebih berharga daripada sebuah lompatan kuantum yang entah kapan terjadi. Hanya bersyukur bahwa hari ini, masih diberikan kesempatan menyaksikan datangnya bulan suci tahun ini.

.... Marhaban yaa Ramadhan, Mohon Maaf Lahir Batin ...

Selengkapnya...

Sunday, August 24, 2008

[FR] FOTO HUNTING BELITUNG

DAY ONE 16.08.2008 (03.00-22.30)

Oahem... sambil menguap, saya memperhatikan jam weker saya yang tengah berbunyi. Waktu sudah menunjukkan pukul 03.15 pagi. terlalu dini bagi saya untuk bangun sebenarnya. Namun, hari ini memang lain dari biasanya, di samping waktu bangun yang berbeda, hari ini saya juga punya kegiatan yang tidak biasa pula. Hunting Foto di Pulau Belitung di Propinsi Babel

PhotobucketSemalam, Sehabis merampungkan acara 17-an di Kantor, seperti lomba dan kegiatan lainnya, segera saya pulang ke rumah. Untuk mempersiapkan gear dan peralatan lain. BTW kira-kira peralatan yang saya bawa dan harus muat dalam satu tas/carrier adalah seperti foto di samping. Isinya antara lain Body Camera, lensa-lensa, filter batere, tripod, pakaian, handphone, kacamata dan beberapa barang lainnya. Bagi saya menyusun barang-barang bawaan seperti di samping lebih memudahkan dalam melakukan checking dan memastikan semua barang yang dibutuhkan telah terbawa.

Packing dan persiapan peralatan, rampung pukul 23.00, dan segera setelahnya saya tidur! dan bangun tepat di 03.15 WIB. Mumpung bangun di sepertiga malam, (biasanya sih tidak mungkin saya bagun sepagi ini) saya sempatkan Sholat Tahajud. Mandi dan melakukan persiapan kecil lainnya, prosesi selesai pukul 03.45. Dan sebelum saya menyetop taxi menuju ke Bandara Soekarno Hatta, saya mampir ke warung sebelah rumah yang belum tutup meski sudah menjelang subuh. Sepiring Indomie Goreng Telor, saya pesan untuk memastikan perut sudah ada isinya, in case dalam perjalanan nanti tidak menemukan makanan.

PhotobucketLantas, kenapa mesti pagi-pagi sekali? berdasarkan jadwal penerbangan yang ada (Sriwijaya Air), trip menuju Pulau Belitung hanya pada pukul 06.45 dan 15.45, dan kebetulan flight yang dipakai untuk ke Belitung adalah flight pertama. Jadi mesti tepat waktu, ga boleh ada acara telat, maksimal pukul 05.00 sudah harus berkumpul di terminal 1B Bandara. Jreng-jreng.... :) Saya sudah menginjakkan kaki di Bandara ini pukul 04.30 WIB, memang agak kepagian sih dan oleh karena itu masih sempat melihat terdapat orang tidur di bangku luar terminal keberangkatan 1B.

PhotobucketTak berapa lama kemudian, beberapa Rombongan yang tergabung dalam Club Fotografi Kantor saya datang. Memang semua telah berusaha maksimal untuk datang tepat waktu, meski akhirnya ada beberapa orang yang datang terlambat. Bisa dimaklumi-lah, toh banyak alasan kenapa mesti terlambat. Setelah tepat terkumpul 16 orang peserta (1 orang lainnya menyusul di belakang dengan flight sore), kami segera melakukan Check In di Counter Sriwijaya Air. Ternyata banyak sekali peralatan yang dibawa rombongan fotografer ini, sampai ada belasan barang yang mesti dititipkan di bagasi pesawat, karena tidak mungkin untuk dibawa masuk ke kabin. BTW, suasana ruang checkin pagi ini, lumayan cukup ramai. Bisa dimaklumi bahwa 3 hari ke depan adalah hari libur, so pasti banyak orang memanfaatkan waktu liburnya untuk ke luar kota. Sebagai tambahan informasi, perjalan Jakarta - Tanjung Pandan (Ibu Kota Belitung) ditempuh selama hanya 45 menit. Yang terpenting penerbangan kami tidak mengalami hambatan yang berarti, cuaca cerah, tidak ada turbulence, pemandangan juga dapat terlihat dengan sempurna dari balik jendela pesawat. Pokoknya semua aman terkendali... halah..! :)

PhotobucketBegitu menginjakkan kaki di Bandara H. AS. Hanandjoeddin, Tanjung Pandan, Belitung tubuh langsung disambut udara segar, khas daerah yang jauh dari polusi. Meski tidak dapat dikatakan dingin, namun kesegaran ini cukup memberikan nuansa yang berbeda. Hanya sedikit catatan, bahwa kondisi ruang klaim bagasi menurut saya agak kurang nyaman, sempit dan tanpa AC, terlebih dengan hadirnya penumpang yg tidak sedkit belum lagi ditambah porter dan penjemput, semakin membuat pengap!

PhotobucketPerjalanan dari bandara menuju ke Kota Tanjung Pandan memakan waktu kurang lebih 20 menit, seharusnya bisa lebih cepat. Lantas kenapa bisa lebih lambat? Ada dua titik kemacetan yang sempat saya amati ada dalam perjalanan ini, yaitu di dua SPBU yang kami lewati bersama rombongan. Puluhan kendaraan roda empat baik truck maupun mobil pribadi berjajar antri premium, belum lagi ratusan sepeda motor dan penumpangnya tak ketinggalan pula. Meski antri dan berusaha rapi, hal tersebut tidak dapat banyak membantu, terlebih lagi karena sepeda motor banyak tumpah ke jalan, sehingga menghambat pengguna kendaraan lainnya. Yang jadi pertanyaan kenapa mereka antri? ternyata menurut informasi BBM sedang langka di Belitung, dan ini bukan kali yang pertama, sudah beberapa bulan masyarakat harus menghadapi keadaan ini. Untuk memperoleh BBM masyarakat harus antri panjang. Dengan adanya kelangkaan ini membuat masyarakat semakin sulit hidupnya, mereka harus meninggalkan aktivitas produktif mereka hanya untuk antri BBM. Kalaupun ada bensin eceran saya rasa harganya akan semakin mahal saja. Kembali ke topik perjalanan, meski agak tersendat kendaraan masih tetap dapat melaju :) tidak seperti di Jakarta, kalau sudah macet, para pengendara hanya bisa pasrah!

Tujuan pertama kami di Tanjung Pandan adalah Makan! tidak bisa tidak, harus makanan khas Belitung! akhirnya tour guide kami (yaitu rekan kerja kami yang ditempatkan di Pulau ini) berhenti di sebuah Ruko. Pertama kali tidak terlalu meyakinkan, mengingat di depan Ruko ini terdapat konter Handphone! kalau tidak jeli mengamati, mungkin kesan rumah makan akan lenyap sama sekali. Oh ya, sayang saya tidak sempat mencatat lokasi rumah makan ini, namun sebagai petunjuk, tempat ini ada di seberang Supermarket PUNCAK, di pusat kota Tanjung Pandan.

PhotobucketOkey, tanpa berpanjang lebar, makanan yang dimaksud adalah Mie khas Belitung... kalau di Jakarta banyak sekali penjual Mie Bangka, nah sekarang yang coba kami nikmati adalah Mie Belitung :D Tentu saja tour guide kami bukan tanpa alasan mengajak kami makan di sini. Konon, Bondan Winarno, pakar kuliner dan penjelajah makanan yang terkenal di TV itu pernah mampir di sini dan tentu saja Mie ini termasuk kategori Mak Nyuesss....! Next, Secara kasat mata makanan ini berbentuk Mie Kuah, tidak berbeda dengan Mie Kuah pada umumnya. Yang membedakan mie-nya bertekstur besar dan relatif tidak kenyal, typikal mie buatan rumahan. Kuahnya kental (mungkin ada semacam campuran kanji) dan manis, terasa pas ditambah sedikit sambal. Tambah semakin nikmat dengan topping udang, kentang, (semacam) tahu?, tauge dan irisan mentimun sebagai acar, tak lupa segenggam emping melinjo menambah kelengkapannya! :)

PhotobucketSelesai makan kami segera menuju penginapan. BUNGA PANTAI, begitulah orang-orang menyebutnya. Terletak di Jl. Pattimura No. 25 Tanjung Pandan. Terletak persis di samping pantai. Sederhana memang seperti tampak gambar di samping, namun toh kami hanya akan menghabiskan malam untuk tidur setelah seharian hunting. Yep! Setelah semua unpacking barang bawaan, kami segera mempersiapkan gear kami dan berangkat menuju tempat hunting pertama untuk hari ini. Tanjung Tinggi! Sebelum berangkat tentu saja, sedikit briefing dan berdoa bersama dilakukan.

PhotobucketPantai Tanjung Tinggi dapat ditempuh dengan menggunakan mobil pribadi selama 45 menit (31 km dari Tanjung Pandan). Pantai ini berpasir putih, dan unik karena terdapat ratusan batu granit besar yang tersebar di kedua semenanjung dan juga di laut di depan pantai. Ukuran granit mulai dari beberapa meter kubik hingga ratusan meter kubik, lebih besar dari sebuah bangunan sebesar rumah. Jika datang kesini Anda bisa naik, berjalan dan melompat diantara granit untuk menikmati pemandangan tidak biasa (yang tentu saja amat indah) dari setiap sudut anda berdiri. Bentuk dari batu-batu besar itu juga unik, sebagian membentuk gua, yang dapat digunakan berteduh dari panas. Pasir putih ada dimana-mana sepanjang pantai. Jika anda berkeluarga dan berencana berlibur dengan keluarga, anak-anak akan sangat suka bermain di sana. Karena ombak tidak besar, air lautnya jernih dengan permukaan bawah laut yang berpasir, anak-anak akan sangat suka bermain di pantai. Anda tidak perlu khawatir dengan serangan ikan hiu, karena tidak pernah terjadi di Belitung. Satu-satunya bahaya yang harus diwaspadai adalah ubur-ubur, kalau udah menyengat bisa bahaya tuh! BYW, penampakan di sebelah adalah saya :)

Setelah tertakjub-takjub akan indahnya pantai ini, segera kami mengeluarkan perlengkapan perang kami dan menghambur-hamburkan shutter!

Meski baru makan jam 09.00 dengan Mie Belitung tadi, dalam cuaca yang panas dan terik, pukul 12.30 perut sudah terasa sangat lapar. Tak perlu bersusah payah mencari, Ada paling tidak dua puluh rumah makan seafood sederhana di sepanjang pantai. Ini adalah tempat untuk anda beristirahat sejenak, minum kopi atau memesan makan siang. Menu utama adalah makanan laut. Hanya saja, jangan berharap anda mendapatkan pelayanan sekelas restoran di mall. Mereka hanya orang-orang biasa dari desa yang membuka restoran sederhana. Jangan khawatir, masyarakat di sana selalu ramah pada semua tamu, sama seperti umumnya orang Indonesia.

Jangan kaget, kami memesan makanan untuk hampir 20 orang, dan baru dapat didelivery setelah menunggu 1,5 jam! Namun, penantian panjang itu tertebus dengan kenikmatan masakan yang tiada tara... Nasi putih panas yang mengepul! Ikan(maaf saya nggak hafal nama ikan-nya, hanya Gulai Ikan Napoleon saja yang teringat he.. he..) dimasak berbagai macam cara, goreng, bakar, gulai dan pepes. Masih ada yang lain, cumi goreng tepung, udang, ca kangkung dan sambel yang mantap semakin membuat siang itu semakin nyaman. Tak lupa, dalam occasion seperti ini air kelapa muda yang diperoleh dari buah kelapa yang segar meramaikan suasana makan.

PhotobucketSelesai makan, acara memotret masih dilanjutkan sampai sore hari. Semakin sore langit semakin cerah, biru dan menawan. semakin membuat semangat menghabiskan sisa memori sore ini. Oh ya dalam sesi pemotretan di Pantai Tanjung Tinggi ini, kami sempet diwawancarai oleh TV Lokal Belitung, Belitung TV! bahkan sempet diambil gambar untuk ucapan selamat atas berdiri-nya stasiun televisi tersebut he..he... :)

Pemotretan di Pantai Tanjung Tinggi berlangsung sampai pukul 15.30, dan trip selanjutnya untuk pemotretan Sunset adalah Bukit Berahu. Sebagai Informasi Bukit Berahu adalah resort yang berlokasi di Desa Tanjung Binga berdekatan dengan Kampung Nelayan Tanjung Binga sekitar 18 Km dari Tanjungpandan. Bukit Berahu dilengkapi dengan kolam renang, cottage dan restoran yang dibangun di atas sebuah bukit kecil di tepi laut. Dari titik tertinggi di restoran Bukit Berahu kita dapat menyaksikan panorama yang menarik ke arah pesisir pantai Tanjung Binga. Cottage Bukit Berahu terletak di tepian pantai dan menghadap langsung ke laut lepas. Bangunan cottage Bukit Berahu dirancang dari kayu dengan gaya khas tradisional Belitung. Anda akan menuruni tangga menurun yang lumayan terjal untuk mencapai cottage di tepi pantai. Anda akan sangat menikmati pemandangan pasir putih yang dihiasi bebatuan granit sambil menyaksikan perahu nelayan yang melintas pada saat matahari tenggelam.

PhotobucketSayang kami tidak dapat memperoleh Sunset yg sempurna. Ketika mendekati Horizon, matahari yang seharusnya dapat terlihat mata telanjang saat tenggelam, tertutup awan. Jadi gampangnya ngomong, sore ini Gagal Total! ya sudah tidak mengapa, toh kuasa alam juga tidak bisa dilawan... So nikmati aja bukan? :D

Acara selanjutnya pulang ke penginapan. Mandi dan membersihkan badan. Sesudah itu Makan! Makan malam kami pada hari yang pertama ini Makanan Masakan Padang "Balenong". Kenapa Makanan Masakan Padang? toh di Jakarta juga banyak. He..he.. kami agak trauma dengan lamanya pesanan makanan restoran yang menyajikan masakan hasil laut, seperti siang ini. Rasa lelah dan mengantuk membuat kami enggan menunggu. Setidaknya masakan padang kan dapat dikatakan masakan yang siap saji :) sehingga pilihan yang realistis adalah ini. Tak banyak yang bisa diceritakan tentang Masakan Padang, di mana-mana rasa dan bentuk sudah pasti 11-12 (alias mirip dan tidak ada beda), ada Rendang, Ayam Goreng, Gulai Kakap, Peyek Udang, Sambel Hijau dsb... :)

Seharusnya setelah makan malam selesai, ada sesi sharing foto. Namun demikian acara tersebut digantikan acara lain yang lebih menarik, kenalan dengan pegawai kantor di Cabang Belitung! Acara cukup gayeng dalam suasana yang nyaman. Keakraban dibangun dari kesamaan pekerjaan, dan baru acara berakhir pukul 22.00 WIB.


DAY TWO 17.08.2008 (08.00 - 23.30)

Yep! pagi ini saya masih agak mengantuk... meski sudah pukul 07.00 WIB mesih merasa kurang saja tidurnya. Setelah mandi, segera Saya menuju ke ruang makan. Sudah tersedia Nasi Goreng dan Telor Ceplok Goreng. Memang sih, makanan typikal penginapan banget. Nggak terlalu istimewa kalau tidak bisa disebut biasa. Tapi dalam keadaan darurat, perut harus tetap di isi sebagai sumber energy untuk memotret siang ini.

Acara hunting dimulai dengan berdo'a bersama oleh ketua kelompok di penginapan sebelum berangkat. Dalam melakukan aktifitas apapun, memang berdo'a sangat penting, bagaimanapun juga semua kembali kepada Allah sebagai penguasa Alam, manusia hanya bisa meminta.

PhotobucketTrip hari ini dimulai dari Pulau Lengkuas, namun demikian sebelum menyeberang kami akan melakukan pemotretan di Pantai Tanjung Kelayang. Sedikit informasi Pantai Tanjung Kelayang terletak di Kecamatan Sijuk sekitar 27 Km dari Tanjungpandan ibukota Kabupaten Belitung. Tanjung Kelayang memiliki pesisir sepanjang kurang lebih 1,5 Km dengan lebar pantai ± 7 M pada saat pasang tertinggi dan ± 10 M pada saat pasang terendah. Pantai Tanjung Kelayang meliputi area seluas 60 Hektar. Memiliki karakteristik pantai berpasir putih dan laut biru yang tenang dengan panorama pohon kelapa di sepanjang pesisirnya. Karakter pantai yang sungguh cocok untuk berenang atau berjemur di antara bebatuan granit yang tersusun menakjubkan. Lantas kenapa kami mampir dulu ke Pantai Tanjung Kelayang? karena kapal yang akan membawa kami ke Pulau Lengkuas berlabuh di sini dan rombongan akan berangkat dari tempat ini.

Di Pantai ini kami bertemu dengan empat pengunjung lain dari Jakarta yang akhirnya dengan sedikit bujukan berhasil menjadi Model dadakan, yang rela untuk melakukan pose-pose yang membutuhkan tenaga seperti melompat dan berlari.. ha..ha.. :) terlebih lagi dalam cuaca seterik ini... :) Bahkan dalam scene selanjutnya mereka berempat ikut ke Pulau Lengkuas.

PhotobucketMungkin sekitar 1 jam kami menghabiskan shutter di pantai ini, pasir putih, sinar matahari, air yang jernih membuat betah berlama-lama, but time is running out! jadwal mesti di tepati kalau tidak tertinggal. 2 buah kapal (kalau tidak boleh disebut dengan perahu sederhana) membawa rombongan kami ber 23 termasuk dengan 4 pengunjung yang saya sebut di atas. Menurut pengemudi kapal masing-masing kapal punya kapasitas maksimal 15 orang penumpang. Pulau Lengkuas kami tempuh dalam waktu 30 menit. selama dalam perjalanan, pemandangan alam menuju Pulau ini begitu indah dan menakjubkan. Pulau-pulau kecil, bebatuan granit, maupun air laut yang jernih senantiasa ada di sekeliling kami. Sesuai dengan tulisan di website remi Pemkab Belitung Pulau ini berada di Kecamatan Sijuk. Pulau ini terkenal dengan Mercusuar yang masih berdiri tegak, dibangun pada tahun 1882 oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Sampai saat ini mercusuar tersebut masih berfungsi dengan baik sebagai penuntun lalu lintas kapal yang melewati atau keluar masuk Pulau Belitung.

Begitu sampai di Pulau Lengkuas, tanpa membuang banyak waktu kami segera menggelar peralatan tempur, dan segera mengamburkan shutter... he..he.. namun keindahan alam dan angin sepoi-sepoi membuat saya banyak menghabiskan waktu tidur-tiduran di atas pasir pantai yang lembut, dibawah pohon yang rindang. Saya Sempat terlelap beberapa saat akibat kenyamanan pulau ini. Tak banyak orang yang datang ke pulau ini. Saat kami datang ada 3 orang fotografer dari Medan, Jakarta dan Solo sedang melakukan pemotretan.

PhotobucketTak ingin sia-sia datang ke sini, saya sempatkan untuk naik ke Puncak Mercusuar yang umurnya lebih dari satu abad ini. Bangunan Mercusuar masih tampak kokoh namun karat dan warna yang usang tidak dapat menutupi usia-nya. Untuk dapat naik ke puncak Mercusuar membutuhkan tenaga ekstra, mengingat ada 18 tingkatan yang harus dilalui sebelum dapat sampai puncak. Belum lagi gear yang harus dibawa, akan semakin membebani. Oh ya, tangga untuk mencapai puncak juga tidak mudah, dengan anak tangga yang sempit hanya cukup untuk satu telapak kaki, belum lagi pegangan tangan yang berkarat, yang pasti anda wajib berhati-hati kalau naik ke atas. Setelah sampai di atas, kelelahan dan rasa letih terbayar lunas! keindahan sekeliling pulau sukar sekali dilukiskan, hijau dan biru air laut diselingi warna putih pasir senantiasa ada di sekeliling pulau. Bebatuan, pohon kelapa dan warna hijau pepohonan seolah menjadi aksesoris yang menarik dalam landscape pemandangan yang indah ini.

Makan siang kami lewatkan dengan menu Ikan bakar yang dimasak di pulau ini, sederhana memang, namun karena lapar, rasa yang sederhana itu cukup menambah selera makan. Bukankah makanan apa saja, jika kita lapar akan terasa nikmat. Seolah mendapatkan energi baru, dan memang demikian, sesudah makan kembali saya berputar pulau mencoba menemukan spot yang baru.

Semakin siang, ternyata semakin banyak pengunjung yang datang ke pulau ini, sehingga untuk melakukan pemotretan agak kurang terasa nyaman. Bukan karena kehadiran pengunjung, namun frame yang saya ambil muncul object lain diluar yang saya kehendaki. Beberapa pengunjung duduk-duduk di hamparan pasir putih di bawah pepohonan, beberapa pengunjung lainnya mandi dan snorkling di pantai yang jernih.

Oh ya, di pulau ini telah terjadi musibah! Oakley Juliet Ducati saya jatuh dan dengan sukses menghantam serpihan karang... Lensa sebelah kiri dengan sukses tergores. Goresan tersebut membekas seluas 9 mm2. Jujur saya sempet shock dan udah Bete sepanjang siang itu, membuat mood untuk memotret hilang seketika. Tak ada yang perlu disesali, jatuhnya Juliet saya juga karena kesalahan saya... ya sudah, nikmati aja!

Tak terasa sudah empat jam kami menghabiskan waktu di pulau ini. Sebelum meninggalkan pulau kami sempatkan untuk melakukan foto bersama atau yang biasa disebut Foto Keluarga. Bukan apa-apa, memang naluri bahwa setiap orang pengen nampang di kamera he..he... biasanya kami yang memotret sekali-kali boleh dong dipotret :) Setelah beberapa shots, kami segera mengemasi barang dan melanjutkan ke tempat berikutnya...

PhotobucketPulau Burung terletak di lepas Pantai Tanjung Binga Kecamatan Sijuk. Di Pulau ini terdapat bongkahan bebatuan di bibir pantai yang menyerupai paruh seekor burung sehingga pulau ini dinamakan Pulau Burung oleh penduduk setempat. Sebenarnya dari Pantai Tanjung Kelayang menuju Pulau Lengkuas anda melewati pulau ini, namun dari informasi yang saya peroleh, biasanya pulau ini disinggahi setelah berkunjung dari Pulau Lengkuas bukan sebaliknya. Menuju ke pulau ini dapat ditempuh 15- 20 menit menggunakan perahu nelayan. Secara umum fisik pulau ini sedikit lebih besar daripada Pulau Lengkuas, dengan pasir putih selembut tepung di sisi Selatan dan bebatuan granit di sisi Utara. Objek paling menarik dari pulau Burung adalah batu granit yang berbentuk seperti paruh burung (seperti yang saya tulis di atas). Selain itu di bagian selatan pantainya sangat nyaman untuk dipakai bermain air karena tidak terdapat batu karang di bawahnya.

Segera setelah mendarat, beberapa dari kami tidak segera membongkar peralatan-nya namun lebih memilih duduk-duduk dan menikmati pemandangan di bawah rimbunnya pohon kelapa. Beberapa yang lain segera melepas pakaian luar dan segera menceburkan diri ke air laut yang jernih dengan riak ombak kecil. He..he... begitulah fotografer, masih seperti manusia biasa, suka bermain dan bermalas-malasan :) Saya sendiri pun demikian, dengan sebotol air mineral ditangan saya malah tiduran di atas pasir, berteduh dibawah pohon yang rindang sambil memandang laut lepas, bagaimanapun juga akan sangat sayang sekali jika keindahan ini dilewatkan hanya untuk dipandang melalui lensa. Setelah puas, 15 atau 20 menit kemudian segera mencari angle dan spot terbaik untuk memotret!

Sekitar pukul 15.30 Kami mengemas barang dan segera menuju ke Tanjung Kelayang lagi untuk kembali ke daratan besar, dan mengejar sunset di sana. Namun ternyata di tengah perjalanan kembali, rombongan mampir di Pulau Babi.

Tak banyak yang bisa saya ceritakan di Pulau ini. Yang jelas pulau babi merupakan salah satu dari pulau-pulau yang tersebar di sekitar Pulau Belitung. Saya tidak melakukan eksplorasi di pulau ini, mengingat sudah cukup lelah, bahkan tripodpun saya tinggal di perahu. Ketika mendarat saya hanya sempatkan memotret beberapa frame saja. Dan selanjutnya saya lebih banyak berdiam, sambil tiduran di atas pasir, emandang rekan-rekan yang sedang memotret 4 Orang model dadakan :)

Tidak terlalu lama kami menghabiskan waktu di pulau ini. Mungkin sekitar 45 menit kami di sini dan segera menuju kembali ke daratan besar.

PhotobucketSesampai di Tanjung Kelayang ternyata ada keramaian di sana. Pengunjung tampak mengerumuni sesuatu. Setelah mendekat, ternyata ada lomba tarik tambang! Acara Lomba ciri khas perayaan 17-an he..he.., dan memang hari ini adalah HUT Kemerdekaan RI ke 63! Selamat Ulang Tahun Negeriku, semoga makin jaya selamanya! Rencana mengambil Sunset di sini urung dilaksanakan, mengingat beberapa dari kami kelelahan dan malas menggerakkan badan setelah menemukan tempat duduk enak di sudut restoran yang telah tutup sore itu. Jadi, waktu yang seharusnya digunakan untuk memotret Sunset digunakan untuk berbincang santai melepas lelah :)

Cukup lama kami menghabiskan senja di Pantai Tanjung Kelayang untuk berbincang. Setelah dirasa cukup kami segera kembali menuju ke Kota Tanjung Pandan.

Sesuai dengan rencana semula, kami tidak langsung kembali ke penginapan, namun langsung makan malam untuk menghemat waktu. Dan makan malam malam kami malam ini adalah di sebuah restoran, tak jauh dari tempat penginapan kami, mungkin sekitar 200-300 meter, dan masih terletak di Jalan Pattimura Tanjung Pandan. Nama restoran ini, PANDAN LAUT. Menyediakan aneka masakan, terutama masakan laut.

Malam ini menu makan kami adalah Ikan Tengiri Bakar, Cumi Goreng Tepung, Udang Goreng Saus Mayonaise, Ca Jamur, Ca Kangkung, Ca Jamur, dan beberapa masakan lain. Menunggu pesanan masakan matang, segelas besar Soda Gembira (Soda, Syrup dan Susu Kental Manis) menjadi pilihan melepas dahaga.

Tak terasa sudah hampir satu jam kami menunggu, Soda Gembira di gelaspun sudah semakin menipis, namun pesanan tak kunjung tiba... :( Duuh... laper! Yah apa boleh buat, mengingat masakan-masakan yang kami pesan adalah masakan type fresh served makanya butuh waktu yang agak lama menyiapkannya. Berbeda misalnya dengan type masakan soto, rawon, masakan padang, apalagi fried chicken! :) Meski menunggu, kami masih cukup sabar dan mengisi waktu panjang itu untuk ngobrol dan berbagi ilmu satu dengan yang lain, sampai akhirnya masakan pesanan terhidang di Meja!

Hmmm... yummy! penantian panjang yang melelahkan (duh!) terbayar sudah, sepiring nasi putih panas secuil Ikan Tengiri bakar, 2 potong calamari goreng tepung, Ca Kangkung secukupnya dan tentu saja sejumput sambal pedas menuntaskan rasa lapar! Jujur saja, masakan di sini di luar ekspektasi, semuanya enak! mantep dan Mak Nyuess... :D Bagi anda yang sempat mampir di Tanjung Pandan, tak ada salahnya makan di tempat ini, harga yang anda bayar akan setimpal dengan rasa yang didapat!

Akhirnya... setelah makan kenyang, pukul 20.30 kami sampai di penginapan! segera saja membersihkan diri, mandi dan gosok gigi... hehe.. :) Sesudah itu, ibarat orang mau perang, peralatan tempur juga mesti dibersihkan. Peralatan fotografi akan rentan terganggu akibat bersinggungan langsung dengan environmet laut. Kadar garam yang tinggi dengan mudah akan membuat karat pada bagian besi di peralatan fotografi anda. Oleh karena itu, basuhan menggunakan lap kain halus yang dibasahi air tawar sangat perlu untuk menghilangkan bekas uap air laut.

Seharusnya malam ini ada acara sharing session dan pembagian doorprize dari sponsor. Namun mungkin banyak yang lelah, acara tersebut urung dilaksanakan. Saya sendiripun setelah membersihkan gear fotografi saya, tiba-tiba terlelap begitu saja, dan terbangun baru pukul 23.30 malam di mana semua orang sudah beranjak tidur.



DAY THREE 18.08.2008 (07.00 - 15.30)

PhotobucketSaya terbangun karena suara hujan. Semula saya berfikir bahwa saya bermimpi mendengar hujan, namun setelah membuka mata dan 100% sadar, ternyata di luar kamar penginapan sedang turun hujan lebat! Gila! alamat berantakan schedule siang ini ke daerah Membalong. Acara yang di siapkan untuk siang ini, sebelum kembali ke Jakarta adalah Hunting di Membalong yang terletak kurang lebih 60 km arah selatan kota Tanjung Pandan. Membalong sendiri berdasarkan informasi belum merupakan daerah tujuan wisata yang umum. Tempat ini hanya direkomendasikan untuk para petualang atau fotografer landscape yang tidak mengharapkan tersedianya fasilitas lengkap. Tujuan kami ke tempat ini adalah Tanjung Batu Lubang!

Segera saja saya mandi dan Sarapan. Oh ya sarapan kita pagi ini adalah Mie Goreng + Telor Ceplok Goreng. Entah lapar atau entah karena hujan, sarapan pagi ini rasanya jauh lebih enak dibanding sarapan Nasi Goreng kemarin pagi. Selesai makan, tampaknya hujan tidak tampak akan berhenti. Ya sudah, saya sudah mengikhlaskan pagi ini mungkin sesi hunting foto bakalan tidak terlaksana. Akhirnya sembari menunggu hujan reda, di ruang makan, ditemani segelas kopi panas kami berbincang dan menghabiskan waktu.

Dalam bincang-bincang tersebut, dilakukan pengundian doorprize. Hadiah yang diundi masih seputar fotografi tentunya. Ada sebuah kamera digital pocket, tas kamera, backpack kamera, kartu memori, pouch dan beberapa asesoris lainnya. Thank God! meski nggak dapat hadiah pertama saya mendapatkan sebuah Transcend SDHC 4 GB. Lumayan, meskipun sampai saat ini saya belum memiliki Device yang menggunakan kartu memori jenis ini, hadiah ini membuat sedikit motivasi bertambah...

PhotobucketSampai pukul 09.30 kami berbincang, dan diputuskan untuk segera mengemas barang-barang bawaan kami. Acara kami setelah check out dari penginapan adalah mencari dan berbelanja oleh-oleh, dilanjutkan makan siang di Kota Tanjung Pandan, kemudian hunting di Smelter (tempat peleburan) Timah, dan yang paling akhir menuju ke Bandara. Acara berkemas cukup cepat dilaksanakan, tidak sampai satu jam semua sudah beres rapi serta dipastikan tak ada lagi yang tertinggal. Dan tepat pukul 10.30 kami sudah Meninggalkan penginapan BUNGA PANTAI.

PhotobucketSetelah Check Out dari penginapan, sesuai dengan jadwal yang ditetapkan sebelumnya, kami mencari oleh-oleh penganan khas Pulau Belitung. Dan atas petunjung dari "guide" lokal kami, rombongan berhenti di sebuah rumah penduduk. Ternyata tempat ini merupakan tujuan kami membeli oleh-oleh khas Belitung. Dari luar, rumah tersebut tampak sama dengan rumah-rumah di sekitarnya, yang membedakan adalah hadirnya sebuah papan berukuran 80 cm x 60 cm di depan pagar yang bertuliskan KERUPUK ASLI BELITUNG dan No Telp Pemiliknya. Di dalam ruang tengah terdapat rak-rak dan wadah berisi bermacam-macam kerupuk. Bahan baku kerupuk tersebut sudah pasti berhubungan dengan laut, mengingat Pulau Belitung sangat kaya dengan hasil laut. Ada kerupuk Udang, Kerupuk Ikan, Kerupuk Cumi, Terasi dan sebagainya. Saya sendiri belanja oleh-oleh kerupuk secukupnya, yang terpenting bisa dibagi dan pantas untuk rekan di kantor maupun di rumah. He..he.. :)

PhotobucketSetelah selesai berbelanja dan memborong oleh-oleh, waktu telah menunjukkan pukul 12.15, berarti sekarang saatnya makan siang. Dan makan siang kita kali ini adalah Rumah Makan PRIBUMI yang terletak di Jl. MT Haryono No. 21 Tanjung Pandan. Type masakan yang tersedia adalah masakan model rumahan. Tersedia berbagai macam masakan yang semuanya siap disajikan (mengingatkan saya akan rumah makan Tegal). Dengan demikian pelanggan dapat langsung memilih menu apa yang ingin dinikmati. Dengan demikian kali ini, kami harap tidak terlalu lama makanan akan tersedia di meja makan :) Namun ternyata, dugaan saya salah besar, masakan yang telah siap sajipun, membutuhkan yang cukup lama sampai terhidang di meja. Memang patut di maklumi, si Ibu pemilik rumah makan kan harus menyiapkan masakan untuk 20 orang, jadi ya wajarlah kalau time service-nya lama. Satu komentar saya setelah mencicipi masakan Pribumi ini, Gila bener! makanan yg ada di belitung nggak ada cerita nggak enak! Masakannya nikmat sekali, ada Kepiting Goreng (Dagingnya dicincang, dimasukkan ke cangkang, selanjutnya digoreng bersama telur), Kepiting Oseng Telur, Sambel Goreng Hati, Gulai Tahu, Sambel Goreng Krecek, Gulai Ikan, dsb... wuih manteplah dan enak pokoknya. Vote untuk Kepiting Gorengnya! Saya sendiri sebenernya nggak terlalu suka kepiting, bukan karena rasa, namun males sekali harus berusaha keras untuk mendapatkan daging dibalik cangkangnya, namun khusus untuk kepiting goreng di sini berbeda... :)

Hmm... Belanja oleh-oleh sudah, Makan siangpun sudah, Sekarang waktu-nya hunting foto di Smelter (peleburan) Timah. Sebenernya hunting foto di sini di luar skenario, namun daripada menunggu pesawat di bandara lebih baik dimanfaatkan untuk hunting Human Interest di sini. Sedikit introduksi sejak lama Pulau Belitung lekat dengan timah. Namun itu dulu, tepatnya dimulai tahun 1952, saat sebuah perusahaan swasta belanda melakukan usaha penambangan timah di Billi-ton, nama Belitung dulunya. Kejayaan timah di Belitung, seakan berakhir sejak PT Timah membubarkan unit penambangan timah Belitung, tahun '90-an. Kini, yang tersisa hanyalah kolong-kolong, sebutan untuk bekas reklamasi yang berubah menjadi kolam atau danau, dan artefact ini akan jelas kelihatan kalau diamati dari pesawat udara.

PhotobucketMeski Industri Timah yang besar telah meninggalakn Belitung, bukan berarti Industri Timah di sini mati dan habis, terbukti dari masih adanya Smelter yang tersisa dan berusaha hidup dari bahan tambang yang ada. Untuk mencapai lokasi ini, butuh waktu 30 Menit perjalanan darat. Oh iya, jalan-jalan yang kami lewati punya kualitas yang baik, sehingga perjalanan tidak pernah di hambat oleh jalan berlubang ataupun jalan rusak. Terletak di antara Kota Tanjung Pandan dan Bandara H. AS. Hanandjoeddin, sehingga sesi hunting kami di sini cukup logis dan secara waktu akan efektif.

Setelah sampai di Lokasi Smelter, yang mirip dengan pabrik pada umumnya, kami segera melakukan pemotretan, utamanyanya dengan tema Human Interest. Pemilik Smelter sangat kooperatif, mengingat acara ini sifatnya hobby dan bukan termasuk business intelegence. Acara hunting di sini tidak dapat berlangsung lama, mengingat batas waktu keberangkatan pesawat sudah semakin dekat. Mungkin sekitar 30 Menit kami habiskan waktu di sini, tak banyak frame yang berhasil saya dapatkan. Hanya beberapa saja yang dapat dibilang sharp! yang lainnya blur dan goyang.... hehehehe...

Suka atau tidak, kami harus segera kembali ke Menuju Bandara
H. AS. Hanandjoeddin jika tidak ingin tertinggal pesawat. Barang bawaan kami semakin menumpuk dengan tambahan oleh-oleh yang dibeli tadi... dan tepat pukul 15.30 kami terbang kembali menuju Jakarta.


I N F O
Photographer : Reza Rachmadiananto
Camera : Canon A460
Camera : Canon EOS 400D
Lenses : Tamron 17-50mm f/2.8 XR Di II
Filter : Hoya UV

Selengkapnya...

Tuesday, July 29, 2008

HEY... I'VE GOT A NEW TRIPOD!

Photobucket

Siang ini sehabis makan di luar kantor, iseng mampir ke toko kamera di bilangan Gunung Sahari. Sudah beberapa bulan ini, punya keinginan untuk membeli tripod dengan kualitas yang baik. Sebenarnya saya sudah memiliki Tripod, namun kualitasnya kurang begitu meyakinkan, daripada kehilangan gear photography (yang harganya nggak murah itu) akhirnya harus dipaksakan untuk beli baru dengan kualitas memadai.

Sebelumnya datang ke toko ini, pilihan telah dijatuhkan ke Manfrotto. Research, Googling maupun nanya di beberapa forum fotografi telah dilakukan. Beberapa orang kenalan saya, baik di dunia nyata maupun internet menyarankan untuk tidak setengah2 dalam melakukan investasi pada tripod. Artinya sudah jelas, kalau tidak bagus ya ndak usah beli sekalian, dan sudah jelas kalo mau bagus ya.. mahal pastinya. :)

Oke deh, balik ke toko tersebut, saya langsung menuju ke tripod corner, di mana terdapat beberapa pilihan yang dipajang. Selain Manfrotto, ada beberapa pilihan merk dari negeri Cina. Mungkin 10-15 menit saya sendirian di situ, memilih dan mencoba. Tak berapa lama datang SPB (Sales Promotion Boy) untuk menanyakan apa yang bisa dibantu. Saya bilang butuh Tripod, dan si SPB spontan menanyakan apakah saya suka tavelling, saya jawab itu salah satu hobby saya dan berencana untuk membawa-nya sebagai gear yang wajib dibawa dalam setiap perjalanan :)

Dengan jawaban seperti itu, si SPB menyarakan untuk mengambil Manfrotto 190XPROB, oleh karena bobotnya yang relatif ringan, mungil, namun tetep kuat dengan demikian mudah untuk dibawa bepergian. Oke, setelah berdiskusi saya ambil tripod ini. Saat si SPB mengambil tripod yang baru di gudang, saya sempatkan mencoba Manfrotto 055XPROB. Kebimbangan mulai muncul di hati, saya lihat TAG price-nya, hanya selisih kurang dari Rp. 200 ribu, saya akan memperoleh tripod yang jauh lebih kokoh, lebih tinggi, lebih besar daripada Manfrotto 190XPROB. Tentu saja bukan tanpa masalah, semua yang "serba lebih" tadi harus ditebus dengan bobot yang "lebih berat" 700 gram. Tentu saja ini akan menjadi masalah tersendiri, jika dibawa travelling, hiking, ataupun berwisata. Kalau nekat, siapkan saja Rhreumason atau Koyo panas anti encok! blah... he..he.. :)

Ditambah suggest (yang kalau dipikir agak ngawur...) dari driver kantor yang ikut masuk, akhirnya pilihan jatuh ke Manfrotto 055XPROB. Alasannya simple, lebih besar, lebih kuat dan sepertinya tahan akan lebih lama. Yang jelas dengan dimensi yang lebih besar, akan mampu menahan hembusan angin sepoi-sepoi waktu dibawa ke pantai atau ke gunung untuk memotret landscape, di samping itu rasa confident bahwa tripod ini akan mampu menopang gear saya semakin bertambah.

Lantas bagaimana dengan head-nya? Tanpa Head, tripod ibarat motor tanpa roda, useless alias ndak berguna! Berbeda dengan kebanyakan tripod terutama yang bukan seri professional, biasanya Head & Tripod terkait dalam satu paket.

Oke Next, berbicara tentang kebutuhan, maksud saya tentang hobi memotret, jika memotret menggunakan tripod, saya lebih banyak menghabiskan shutter saya pada landscape, product, night photography & still life. So? saya tidak terlalu membutuhkan kecepatan dalam melakukan komposisi, yg saya butuhkan lebih banyak kepada ke-presisian. Sehingga dengan jelas, untuk sementara atau sampai dengan saat ini ballhead dikesampingkan, jadi kesimpulannya sebagai pasangan Manfrotto 055XPROB dipilihlah Panhead! Manfrotto 804RC2, 3 way Pan Head.


I N F O :
Photographer : Reza Rachmadiananto
Camera : Canon EOS 400D
Lenses : Tamron 17-50mm f/2.8 XR Di II
Flash : Nissin Di622
Filter : Hoya UV

Selengkapnya...

Thursday, July 10, 2008

SELAMAT DATANG KORAN DIGITAL

Photobucket

Pagi ini, sehabis sarapan nasi uduk yang saya beli di lorong gang senggol deket kantor, saya sempatkan membaca Harian KOMPAS. Biasanya rutinitas pagi saya dengan sebuah koran dimulai dari headline, berturut-turut halaman belakangnya. Dan sampailah saya di halaman ini, halaman yang diprint-screen dari layar LCD saya. Judulnya, Selamat Datang Koran Digital, akhirnya setelah membacanya, segera saya menuju lokasi situs yang disebutkan. Dan mulailah saya menjelajah. Ternyata isi berita termasuk layoutnya sama persis dengan koran yang saya pegang!!!

Photobucket

Mungkin saya bukan tergolong konvensional, orang yang buta informasi apalagi gagap teknologi, akan tetapi mungkin sudah menjadi kebiasaan, bagi saya bacaan dengan layout konvensional akan terasa lebih mudah. Bahkan, sekalipun telah tersedia situs berita dengan layout yang lebih sederhana dengan pola indexing yang logic ada yang masih terasa kurang. Bukan apa-apa sih, hanya khawatir saya melewatkan satu berita hari ini dari halaman yang saya baca. Dengan desain konvensional, saya merasa nyaman, meski menerapkan pola skipping reading dalam menerima informasi dari koran, saya bisa memastikan bahwa judul2 yang menarik saya tidak terlewatkan.

Photobucket

BTW, sebagaimana yang ditulis dalam artikel dalam gambar pertama di atas, ternyata salah satu group usaha Kompas telah memulainya lebih dahulu, bersyukurlah saya, saya dapat juga membaca Harian Kontan, yang akan menambah informasi kepada saya mengingat pekerjaan saya dalam bidang financial. Dan perlu di ingat, sampai saat artikel ini saya tulis koran ini dapat diakses dengan GRATIS alias bebas biaya. Anda hanya cukup membayar sambungan Internet Anda! Bersyukurlah saya, dengan akses internet 24/7 dengan kecepatan mencapai 784 Kbps saya dapat dengan cepat menggulung & membolak-balik halaman dengan cepat :) Berharap di masa mendatang, koran digital semacam ini dapat akan dapat tumbuh dan hidup subur... Kalo sudah seperti ini, apakah perlu saya putuskan langganan koran saya saja yah? .... he..he.. :)

Selengkapnya...

Monday, June 30, 2008

URBANFEST 2008

Urban Festival kembali digelar, Sabtu (28/6/2008) dan Minggu (29/6/2008), di Pantai Karnaval, Ancol, Jakarta Utara. Apa itu Urbanfest? Merujuk namanya, festival ini adalah pesta masyarakat perkotaan, tidak hanya seni, tapi berbagai kreativitas lainny. Dalam sebuah berita yang saya baca, Sardono W Kusuma (Rektor IKJ, yang mencetuskan festival ini) mengatakan karya masyarakat urban itu sangat unik. Campuran berbagai budaya menjadi referensi orang kota untuk membuat sesuatu. “Ketika orang bersantai, dia akan menjadi dirinya sendiri. Ketika itulah dia ingin menunjukkan yang ia punya. Kreasinya unik karena ia hidup di kota, berbeda dengan orang yang hidup di pedesaan yang biasanya kreasinya terbatas pada pola seni
yang sudah ada, tradisi,”


Yep, hari Sabtu siang, saya menyempatkan datang ke acara ini. Overall asik sih acaranya, khas anak muda banget. Sayang panas banget, maklum dipinggir pantai :) Di booth-booth yang disediakan berbagai aktivitas seni digelar, seperti musik, perkusi, cosplay, olahraga dsb... tapi sebagian besar booth tersebut diisi dengan acara musik. Dan Pasti dalam acara seperti ini DSLR saya selalu menemani mengabadikan momen, let's start....


Photobucket

URBANFEST2008 - Papan yang bertuliskan U R B A N F E S T 2 0 0 8 ini sebenernya papan untuk graffitti. Hari Sabtu siang, waktu saya datang masih putih polos, baru agak sore udah mulai dilukis sama artist yg kreatif di sana.


Photobucket

STREETSTAGE - Begini ini kira-kira yang nonton, diambil sabtu sore... udah mulai banyak yg dateng, soalnya udah nggak terlalu panas. Kebanyakan yg datang anak-anak SMA ato paling nggak lagi kuliah, kalaupun ada bapak atau emak ya paling nemeni anak-anak mereka


Photobucket

ABSOLUTELY ELECTRONICA - Band ini asik lho... musiknya ga biasa, memainkan synthesizer full electronica! berasa di tahun 80-an, jaman-jamannya aphaville atau depeche mode :)


Photobucket

PESTA MIKRO - Chiptune adalah musik yg dibuat dari Sound Format yang telah disintesisikan secara Realtime oleh komputer atau videogame Sounchip. Berawal ketika Bangkitnya Era home computer dan home game consoles pada awal tahun 1980an musik ini dibuat dengan menggunakan komputer kuno seperti Commodore 64, Commodore Amiga atau Atari ST, dan videogame console seperti Gameboy NES & Atari 2600. Komunitas Chiptune termasuk kecil tapi tersebar di seluruh dunia dengan banyak musisi yang meciptakan genre tang berbeda. Mereka bergerak secara inderground dan sangat aktif menjalankan hubungan antar negara. Banyak sekali event chiptune international yang diselenggarakan seperti pestamikro di Indonesia, Mikrobo Party di Italy, Lo-Bit Playground di Jepang dan Blip Vetival di New York - Disadur As Is dari banner Pesta Mikro. IMO musik yg mereka mainin oke banget, gila aja gue nggak pernah kepikir musik Soundtrack Game Jadul macem Contra atau 1946 bisa digabung2 dg enak...


Photobucket

MUSIK DI PANGGUNG JALANAN - Banyak sekali band yg live perform seperti ini, mungkin dari keseluruhan acara ini sebagian besar menyuguhkan musik.


Photobucket

ACOUSTICA - Waktu memainkan satu single dari Oasis - Wonderwall, saya langsung mendekat ke panggung ini, duduk dan menikmatinya. 3TU deh untuk band ini :)


Photobucket

ROCK ON BABY... - Siapa bilang Urbanfest hanya utk anak-anak muda...? contohnya om-om ini... Gila men! Beberapa single milik Helloween & Iron Maiden masih fasih dimainkan. Sayatan & Kocokan gitarisnya bener-bener mantep! kaya lihat live concertnya band rock tahun 70-80an. Ternyata saya ga salah dateng nih....


Photobucket

EVERYBODY LOVES IRENE - Rasanya single-single yang dimainkan ELI mengingatkan saya pada Portishead atau bahkan Glambeats Corp., entah rasa atau kuping saya... BTW ini satu-satunya band yg sempet saya potret di Main Stage.


Photobucket

GRAFFITI - Nice Work Sob! daripada coret-coret di dinding mending coret2 di sini


Photobucket

MAIN API - He..he.. Kalo saya sih nggak mau atraksi seperti ini, BTW selain acara musik, pertunjukan kaya gini cukup menghibur juga... BTW Apa lidahnya gak kepanasan yah ... :)


Photobucket

SIRKUS PERKUSI - Nggak ngerti kenapa mesti perform dengan kostum seperti ini, tapi secara keseluruhan pertunjukan perkusi dari Sirkus Perkusi cukup unik dan berbeda dari pertunjukan lainnya.


Photobucket4 BAJAJ - Berhubung sudah lupa pelajaran dan makna Simbol, maka saya juga nggak ngerti makna dibalik seni instalasi 4 bajaj ini. BTW Ini kondisi bajaj masih bersih kayanya sabtu sore mulai di cat & digambar deh...


Photobucket

BMX - Menyenangkan sekali menghabiskan peralihan siang menuju malam di arena ini. Meski nggak kaya X-TREME GAMES di luar negeri cukup menghibur lah. Beberapa kali pengendara BMX ini jatuh menghujam tanah, tapi sepertinya nggak bosan beratraksi terus.


Photobucket

NT - Sama seperti Extreme Sports lainnya, jatuh sudah menjadi hal biasa. BTW Host di arena ini cukup akomodatif utk fotografer dadakan yang bawa kamera ke arena, terbukti mereka mempersilahkan dan membebaskan untuk mengambil angle dari manapun, termasuk masuk ke arena.


Photobucket

THE GUARDIAN - Pasti yang liat udah ngeper duluan ngeliat tomgkrongan si Om he..he.. Mungkin ini secara psikologis membuat orang segan bikin rusuh...

Camera : EOS 400D
Lenses : Tamron AF 17-50mm F/2.8 Di-II LD Aspherical
Lenses : Canon EF 70-200mm L USM
Filter : Hoya UV (0)/HMC

Selengkapnya...

Monday, June 23, 2008

KISAH SI DUIT 25 & 50 PERAK

Photobucket


Grrrr....!!! :( entahlah rasanya gue kepengen ngamuk aja nih. Perkaranya cuma sepele sebenernya, hanya tentang duit Pecahan Rp. 25.- & Rp. 50.-! Seperti biasa setelah celengan Gue penuh dengan kembalian-kembalian receh Rp. 500.-, Rp. 200.- dst... sampai Rp. 25.- (Biasanya setelah 6 bulan) Gue tukerin duit recehan gue tersebut di warung sebelah. Udah biasa pula kalo gue beli makanan, beli minuman atau barang lain di warung ini, termasuk pula kembalian-kembalian recehan juga dari warung ini.

Dengan kantong plastik isi duit yang beiri hampir Rp. 150,000.-, gue dateng ke warung itu. Sambil beli Odol Pepsodent :)
"Mbak, butuh duit kembalian gak?", sapa gue ramah.
"Oh memangnya punya berapa Mas?" sambil mengulurkan odol ke arah gue.
"Mungkin sekitar Rp. 145 Ribu deh mbak, coba dihitung lagi", kataku sembari mengeluarkan bungkusan duit dari kantong celana pendek.
"Mbak gue jalan ke sono dulu yah, ntar balik lagi, duitnya itung aja" kata gue menunjuk orang jual Pempek Palembang.
"Iye Mas... ntar ambil ke sini ye... ", kata si Mbak, sambil mengeluarkan duit dari bungkusan

- 10 menit kemudian -

"Mas, ini duitnya Rp. 143,700.-" kata mbak penjaga warung.
"Lah, tadi gue itung Rp. 149,500.-" Kata gue.
"Iye Mas, tapi kalo yang ini kagak laku...", sambil ngembaliin duit Gocap & 25 Perak.

Anjirrr.... ^$#!^&$^&$!^&$!!!! Gue cuma nyumpah-nyumpah dalam hati aja, geblek ni orang! Duit gocapan itu kan sebagian dari sini juga. Jah! Daripada ribut2 perkara duit Gak sampe 10 Ribu itu, gue langsung ambil tukeran & bergegas balik Pulang.

Aneh, emang aneh. Duit gue Rp. 25.- & Rp. 50.- itu duit SAH! & Halal, bukan hasil ngembat punya orang atau Korupsi! G^mb^l... Duit gue juga didukung oleh undang2 sebagai alat pembayaran yang sah!... Anehnya Duit Rp. 25.- & Rp. 50.- itu gue dapet dari hasil kembalian dari supermarket terkemuka di ibu kota. Lah Masak sekarang di warung kecil pinggir jalan, gak laku?!

Merunut jauh ke belakang, sebenernya soal tolak menolak duit ini pernah beberapa kali gue alami. Dulu pernah pas makan siang di kantor, gue lagi makan ada pengamen kecil nyanyi di depan gue. Berhubung tangan gue lagi belepotan sambel, gue main ambil aja langsung dari kantong celana. Eeh si pengamen malah buang duit Cepekan gue! di depan muka gue! Gilanya masih bisa ngomel tuh anak! (Geblek bener tuh!, emang dikira cepek bukan duit apa??, kalo gak inget di situ banyak orang udah gue siram tuh pake sambel...)

Trus lagi saat gue jalan, waktu itu pas berenti di perempatan jalan, ada ibu2 pengemis, berhubung tampangnya melas & kayanya belum makan seminggu, langsung aja gue raup duit kembalian di dashboard, mungkin ada 15-20 keping di situ.. Tau nggak apa yg dilakuin?, disortir ama dia! Kalo ga salah yg Rp. 50.- & Rp. 100.- dibuang tepat di depan kap mobil gue.. dasar nenek ga tau diri, omel gue dalem hati... sumpah untuk pertama kalinya gue gak iklas ngasih orang di jalanan...

Mungkin karena nggak terbiasa dipake sebagai alat pembayaran, jadi nya orang males bawa duit segitu. Menurut gue, kalo memang nggak nggak ada guna tu duit, mending jadiin aja harga barang yang dijual tuh genap! misalnya sebungkus sabun Rp. 500.-, sekantong krupuk Rp. 1,000.- atau segelas air mineral Rp. 5,000.- Menurut gue, Gak ada guna ada harga barang Rp. 999.99 Apaan tuh! Gue protes keras! tau nggak kalo lo beli barang seharga Rp. 950.- misalnya, apa pernah dibalikin? masih mending lo dikasih permen! Sebagai konsumen gue berhak penuh atas duit gue, gue gak butuh permen sebagai ganti (takut ompong :) ), fair enough bukan? tapi apa yang terjadi? Kalo lo pade jeli, belanja di manapun, di supermaket, atau di warung. seberapa sering kita memperoleh hak atas duit yang kita bayarkan? Sering, Kadang-kadang, Jarang, atau Nggak Pernah?!

Coba kita berhitung secara sederhana. Misalnya kalo ada sebuah toko, supermarket, dan warung dengan total pembeli 100 orang. Misalnya 100 Orang ini seharusnya di bayarkan kembalian atas pembelian barangnya sebesar Rp. 75,- per orang. Tinggal dikalikan saja, berapa banyak duit yang nggak sah mereka ambil? Mungkin analisa ini sangat kasar dengan deviasi yang sangat tinggi, tapi apakah pernah dalam hidup loe, loe belanja Rp. 1,025.- loe hanya disuruh bayar Rp. 1,000.- Sering, Kadang-kadang, Jarang, atau Nggak Pernah?! --> Pikir aja sendiri, gue masih sebel nih :(




Photography by Reza Rachmadiananto
Canon EOS 400D & Tamron 17-50mm f/2.8 XR Di II

Selengkapnya...

Saturday, May 31, 2008

SUVENIR PERKAWINAN, CARI DI PASAR JATINEGARA!

Siapapun pasti pernah mendengar tentang pernikahan bukan? pasti dunkz... :) salah satu hal yang dicari bagi pasangan yang akan menikah untuk melengkapi acara resepsi pernikahan adalah "Suvenir". Memang sih, benda ini boleh dibilang "penting gak penting", kenapa? bagi saya sendiri pesta perkawinan boleh dong nggak ada suvenir, toh kadang suvenir yang kita berikan sama sekali nggak dipake sama yang menerima atau bahkan dibuang... :( duh sayang banget kan? di sisi lainnya, kalau nggak ada suvenir kok ya agak aneh, menyimpang dari kebiasaan, pelit dsb... you name it! :)

Lah kok malah bicara yang lain sih :) Ok. Hari sabtu ini, mestinya saya nyelesain pekerjaan di kantor, tapi berhubung lagi males, sewaktu siang saya putuskan untuk pergi nyari suvenir perkawinan untuk saya dan pasangan saya nanti. Sebelum berangkat, saya sudah persiapkan diri untuk membaca beberapa referensi tentang tempat nyari suvenir yang murah & banyak pilihan. Dari beberapa bacaan yang saya dapatkan, Pasar Regional Jatinegara adalah tempat yang cocok untuk mencarinya! Sebenernya ada lagi tempat yang jauh lebih dekat dari kantor saya di daerah Thamrin, yaitu Pasar Pagi Asemka, tapi berhubung pasangan saya pernah ke pasar ini dan tidak menemukan yang dicari, akhirnya saya putuskan untuk mencoret tempat ini dari daftar

Di mana sih Pasar Jatinegara? Orang Jakarta sendiri belum tentu pernah ke sini lho, kalau belum coba lihat dalam peta di bawah ini (yang saya gambar dengan tanda panah), di situlah Pasar Jatinegara berada! :)

Photobucket

Karena merupakan sebuah Pasar Regional, Pasar Jatinegara merupakan kawasan yang sangat padat, padat & semrawut malah. Jadi, siapkan mental & kesabaran kalau jalan ke sana, terutama saat akhir pekan. Sekedar tips, kalau tidak mau terlalu lama ngantri masuk areal parkir pasar, anda dapat menaruh kendaraan anda di Jatinegara Trade Center yang terletak di depan Pasar. Meski harus berjalan agak jauh, tapi kita tidak perlu mengantri :)

Pasar Jatinegara juga dikenal dengan nama Pasar Mester, tolong dikoreksi kalau salah (karena tahu ini dari forum, dan validitasnya belum di uji, he..he..), Pasar ini disebut dengan nama mester karena dulu ada Orang Belanda yang jadi tuan tanah disana. Halah kok malah ngomong sejarah :) Ok. Langsung masuk ke pasar... Saat saya datang, waktu sudah menunjukkan pukul 12.30 WIB! Puanas! Pengap! dan pastinya sumpek! maklum lah namanya pasar, jangan bayangkan kalau anda belanja di Mal dengan pendingin ruangan yang sangat nyaman. Secara umum yang meramaikan pasar ini adalah kaum perempuan, jadi kalau anda laki-laki jangan malu yah ikut menawar dengan ibu-ibu & mbak-mbak yang saya akui dengan sangat gagah & gigih menawar he..he.. :)

Terheran dan takjub ketika saya pertama kali datang di Pasar ini, dan hari sabtu ini merupakan kali pertama dalam hidup saya datang ke pasar seperti ini, di mana bangunan pasar yang cukup besar ini seakan-akan tak mampu menampung luapan orang-orang yang sedang malakukan transaksi. Untuk masuk ke dalam, kita harus membiasakan diri untuk lelalu bersetuhan & bersenggolan dengan sesama pengunjung pasar.

Sekilas saya lihat, barang yang paling banyak diperdagangkan adalah kain, dan pakaian jadi, sehingga saya agak bingung juga di mana letaknya toko Souvenir Perkawinan itu? Setelah celinguk kanan-kiri, bertanyalah saya ke satpam, dan ternyata lokasi yang penuh dengan souvenir ada di lantai basement.

Memang sih, di lantai ini, hampir semua toko menjajakan hal yang berkaitan dengan perkawinan, seperti kotak seserahan, peningset dan tentu saja suvenir. Jujur saja saya tidak terlalu tertarik untuk lama mengeksplor lantai ini, sumpek-nya jalan membuat saya tidak banyak melakukan survey harga dari satu toko ke toko yang lain. Saya ber asumsi kalaupun toh harga suvenir yang saya ambil terlalu mahal, paling selisihnya tidak seberapa dibandingkan toko yang lain, mengingat penjualan dalam kawasan umumnya relatif terkontrol, dan biasanya diferensiasinya terletaik di service atau pelayanan.

Oke deh, langsung saja saya menuju toko yang sepertinya ramai dikunjungi ibu2 :) Berhubung saya laki-laki, semula mbak-mbak pemilik toko nggak terlalu antusias melayani saya :( Nanya sini dan sana nggak banyak tanggapan, tapi daripada harus nyari deitempat lain akhirnya (sedikit dengan memaksa he..he..) minta jadi prioritas. Tapi ternyata si Mbak, cukup ramah juga kok, tadi masih banyak pembeli sehingga kurang fokus untuk melayani saya.

Setelah banyak bertanya, termasuk konsultasi dengan pasangan saya, dipilihlah Kipas & Kotak tempat lipstick sebagai suvenir pernikahan kami nanti. Toko juga menyanggupi pesanan saya yang cukup customize di mana suvenir itu dibungkus dengan mika dan pita. Ternyata pesanan saya jadi di luar ekspektasi saya, 1 minggu sudah bisa di ambil! hebat juga saya pikir. :) Pola pembayaran 50% sebagai DP (Down Payments) dan 50% sisanya akan dibayar ketika barang saya ambil. Sudah deh... transaksi ditutup hanya dalam waktu 30 menit! (he..he.. cepet yah! soalnya saya nggak minta & nawar yg macem2)

1 MINGGU KEMUDIAN

Sesuai dengan waktu yang dijanjikan, hari sabtu berikutnya saya datang ke Pasar ini lagi untuk mengambil barang. Alamaak... ternyata kardus tempat suvenir cukup banyak & ukurannya sangat besar! sempet kepikiran bagaimana mengirim suvenir ini ke Surabaya...

Setelah saya bayar, si Mbak memanggil 2 orang tukang angkut untuk membawa suvenir ini ke Mobil Saya yang saya parkir di Jatinegara Trade Center. Berhubung jauh si Tukang angkut minta upah Rp. 20,000.- seorang, setelah ditawar mereka mau dibayar Rp. 15,000.- seorang. Mungkin kalau saya parkir di parkiran Pasar, Rp. 10,000.- juga sudah terlalu banyak... :)

UNBOXING SOUVENIRS

Photobucket



Photobucket

Gambar pertama di atas adalah pesanan kipas saya yang dibungkus oleh tabung mika, sementara untuk yang kedua adalah tempat lipstick yang juga dibungku mika. kedua pesanan tersebut juga dilengkapi dengan pita beserta bunga untuk aksen. Mengingat kardus yang diberikan untuk tempat suvenir sudah sangat reyot dan tidak layak untuk dipakai menirim, jadi harus saya packing ulang termasuk di bungkus lakban secara penuh. Dan akhirnya bungkusan tersebut telah saya kirimkan ke Surabaya via Ekspedisi yang menggunakan jasa Kereta Api Sembrani, Jurusan Jakarta - Surabaya.

So bagi pasangan yang mau nyari souvenir wedding, happy hunting! :)


Photograph By : Reza Rachmadiananto
Camera : EOS 400D
Lenses : Tamron 17-50 f/2.8 LD XR DiII AF
Filter : Hoya UV (0)

Selengkapnya...

Sunday, May 25, 2008

PENCANANGAN HUT JAKARTA KE 481

Photobucket

Lihat orangnyanyi di atas? Yap! anda nggak salah kok, salah satunya Iis Dahlia, salah satu pedangdut papan atas Indonesia. Selain ada Teh Iis, ada dua pedangdut lainnya yang menghibur warga kota Jakarta yang pagi ini meluangkan waktu di Seputaran Monas. Memang kalo di lihat nggak seperti biasanya, maksud saya monas memang ramai kalau minggu pagi, tapi tidak semeriah hari ini, ternyata pada hari ini dilaksanakan pencanangan HUT kota Jakarta ke 481, dan sudah menjadi tradisi setiap tanggal 22 Juni diperingati sebagai hari jadi kota Jakarta yang semula hanya sebuah bandar kecil bernama Sunda Kelapa.

Sebenernya saya nggak sengaja datang ke monas, kebetulan minggu pagi ini ingin beli tiket Kereta untuk balik ke Surabaya di Stasiun Gambir yg tidak terlalu jauh dari monas. Memang kebiasaan, sejak dulu ke mana-mana selalu bawa kamera, jadi kalo ada moment bagus langsung saja di jepret :) Memang hobi yg nggak bisa ditinggalkan hehe...

Oke deh ini sedikit liputannya :

Photobucket

Ini adalah panggung utama yang sebelum acara musik dangdut digunakan untuk senam pagi atau aerobik, waktu saya datang acara senam sudah hampir bubar. Dari pengamatan tampak yang ikut & berpartisipasi cukup banyank bapak-bapak, ibu-ibu, tua-muda-anak tumplek blek di sini


Photobucket

he..he... Lucu juga yah, bapak-bapak lagi bermain "Egrang" (maaf dalam bahasa Indonesia saya nggak tahu). Permainan ini menuntut keahlian dan kelincahan kalau tidak, bisa dipastikan si pemakai "Egrang" akan jatuh ke tanah. Dulu sekali, mungkin sewaktu saya masih duduk di bangku SD sering bermain dengan "Egrang" di halaman sekolah saya di desa, sambil menikmati istirahat sekolah.


Photobucket

Selain olah raga yang sifatnya biasa Minggu pagi ini terasa berbeda dengan kehadiran arena permainan "Flying Fox". Sayang orang tua nggak boleh naik :) kalau boleh pasti saya mau ikut 'terbang' bersama sang Rubah Terbang... :) "Flying Fox" dapat menjadi wahana latihan alternatif bagi anak-anak untuk melatih rasa percaya diri & keberanian, contohnya anak ini, tampak begitu menikmati permainan yang penuh resiko semacam ini.


Photobucket

Yup! Monas juga dilengkapi lapangan Basket & Futsal. Di atas merupakan tim yang sedang bertanding minggu pagi ini. Cukup seru sih, sayang saya nggak terlalu antusias sama basket jadinya nggak banyak waktu saya habiskan untuk nongkrong di sini


Photobucket

Bagi mereka yang ingin meluangkan waktu bersama keluarga, bersepeda tandem seperti ini tampaknya pilihan yang bijak. Murah, bebas polusi, dan bisa muat banyak orang he..he..


Photograph By : Reza Rachmadiananto
Camera : EOS 400D
Lenses : Canon 70-200mm f/4 L USM, Tamron 17-50 f/2.8 LD XR DiII AF
Filter : Hoya UV (0) & Hoya CPL

Selengkapnya...