Showing posts with label Recent Issues. Show all posts
Showing posts with label Recent Issues. Show all posts

Wednesday, October 1, 2008

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1429 H

Photobucket


Setelah menempuh ujian selama satu bulan penuh, untuk mengekang hawa nafsu kita, kini tiba saatnya kita rayakan hari kemenangan. Dengan penuh rasa syukur dan keiklasan marlah kita saling memaafkan, silaturahim dan senantiasa berbuat baik dengan sesama.

"Taqabbalallahu minnaa wa minkum (Semoga Allah menerima dari kami dan darimu) Minal Aidzin Wal Faidzin (Mohon Maaf Lahir dan Batin)"


Hormat Kami,


Reza Rachmadiananto

Selengkapnya...

Wednesday, August 27, 2008

TIKET KERETA API, BETAPA SULIT DIRAIH...

Waktu sudah menunjukkan pukul 10.30, ketika saya masuk kamar setelah pulang kerja. Memang agak kepulangan malam ini lebih lambat dari malam dari biasa, sehabis makan malam dengan calon klien, saya sempatkan memeriksa dan meneruskan pekerjaan di kantor. Lelah dan mengantuk sepertinya sudah sulit dibedakan mana yang lebih berpengaruh. Dan Tak berapa lama kemudian saya sudah terlelap tanpa sempat mandi dan gosok gigi...

Pukul 02.30 dini-hari Software Weker (Alarm) di PDA saya berbunyi, duuh... belum lagi nyenyak sudah harus bangun sepagi ini. Jujur saya lebih suka membenamkan kepala dalam selimut hangat saya, terlebih dalam suhu 22 derajat seperti saat ini. Namun saya tetap bergegas bangun, menuju ke meja kerja, dan selanjutnya membuka outlook untuk memeriksa E-mail yang masuk. Tiga atau empat e-mail sudah dibaca, dan sesudah itu saya mandi. Lantas kenapa sepagi ini saya sudah bangun, mandi dan selanjutnya berdandan selayaknya akan pergi ke kantor? hmmm.... saya akan mencoba peruntungan untuk memperoleh tiket kereta api untuk mudik lebaran!

PhotobucketPukul 02.45 saya berangkat dari rumah untuk menuju Stasiun Gambir, di Jakarta Pusat. wuih... dengan nyaman sekali saya melalui jalan-jalan yang pada siang hari macet tanpa halangan. Beberapa kali saya lihat pedagang2 sayur sedang mengangkut dagangannya dengan sepeda motor. Dari rumah menuju ke Stasiun Gambir Mungkin hanya 10 menit, maklum punya kesempatan memacu kendaraan sampai dengan 110 km/jam! :) Berharap keajaiban, tidak terlalu banyak pengantri, tapi apa yang terjadi, antrian sudah panjang sekali! foto ini diambil pukul 04.00!

Memang sudah jadi kebiasaan, setelah PT. KAI memberlakukan pemesanan tiket sampai dengan 30 hari sebelum keberangkatan, calon pemudik mengantri untuk mendapatkan tiket untuk sebulan kemudian dengan berbagai tujuan di Pulau Jawa. Saya sendiri yakin, hari ini tidak hanya Stasiun Gambir yang sibuk, tapi Stasiun-stasiun lain di Jabodetabek juga sibuk. Jatinegara, Kota, Tanah Abang, Bekasi, maupun Bogor tentu dipenuhi dengan para pengantri. Jangan dibayangkan bahwa ini mudah, beberapa orang yang saya temui pagi ini mengatakan mereka telah mengantri sejak pukul 11 Malam! betapa hebat perjuangan mereka untuk sebuah tiket. Namun, melihat fenomena ini mungkin baiknya jangan hanya dipandang pada sebuah proses jual dan beli, namun bagaimana manusia memaknai sebuah kepentingan di luar batas-batas ekonomi.

Saya memperoleh tempat antrian jaauuuhhh sekali dibelakang, kalau anda sempat datang ke Stasiun Gambir di Lobby Utara, pasti anda melihat counter Dunkin' Donuts di situ, dan dapat pula anda bayangkan berapa jarak Counter dengan loket! :( Nah saya berdiri beberapa meter dari situ (arah ke menjauhi loket). Ya sudah pasrah deh, dapat nggak dapat saya sudah ijin ke Bos, kalau telat masuk kantor. Saya sudah memperkirakan betapa lamanya antrian ini, terlebih dengan posisi saya saat ini.

Sambil mendengarkan Musik dari Creative Zen Micro saya, saya mencoba memejamkan mata untuk tidur (bersila di atas koran) di antara riuh beberapa orang pengantre bermain Gaple! (Gila bener nih, persiapannya sudah benar2 matang he..he..). Namun suara musik lounge yang saya nikmati tak kunjung membuai saya. Tiba-tiba, diumumkan dibuka queuing line baru! ada tambahan 2 loket yang akan dibuka, spontan dengan langkah seribu saya berusaha mendapatkan tempat 'terdepan'. Namun, saya hanya mampu memperoleh tempat ke 17 di antara 6 line yang dibuka! artinya perhitungan secara kasar urutan saya berada di atas 100 pengantre hanya untuk di Stasiun Gambir! entah di urutan ke berapa andai kata stasiun lainnya juga dihitung.

Photobucket


Pukul 06.00 antrian untuk loket sebelah seperti ini. Betapa crowd dan meletihkan. Anda tentu bisa membayangkan bagaimana nanti model antrian para penumpang eknomomi yang baru dibuka menjelang H-7! sudah pasti jauh lebih banyak dan sudah pasti melelahkan karena sudah masuk dalam bulan puasa. Saya sendiri hanya bisa bersabar, dan pasrah bisa dapat tiket atau tidak, mengingat pola penjualan PT. KAI adalah online, dengan skema first in, first serve! dari puluhan Stasiun yang tergabung dalam system online akan berlomba menginput pembelian dari pengantre dalam waktu yang relatif singkat! belum lagi ditambah masuknya beberapa travel agent yang dapat melakukan input dari kantor masing-masing, semakin menambah keraguan saya akan mendapatkan tiket kereta pagi ini.

Tepat pukul 07.00 loket di buka! dan dimulailah perlombaan itu, ditik demi detik begitu menegangkan. Dalam waktu 2 menit (atau mungkin sekitar 3 pengantre) tiket kereta Gajayana (Jakarta - Malang) Ludes! semakin panik saya... beberapa menit berikutnya menyusul Argo Lawu (Jakarta - Solo) Sold Out!... tak lama berselang, Kereta Bima (Jakarta - Surabaya via Selatan) habis! padahal masih ada 10 antrian di depan saya. Taksaka (Jakarta - Jogja) Habis! Sembrani (Jakarta - Surabaya) menyusul, setelah pengantri di depan saya meninggalkan loket.

Tujuan saya sebenarnya ke Tulungagung, dan kereta yang seharusnya tepat untuk saya adalah Gajayana, namun apa daya semua sudah di luar kuasa. Akhirnya saya berdiri di depan loket, dan sebagian besar jurusan telah habis. Sempat panik dan nggak tahu mesti pilih apa. Mbak-mbak petugas loket dengan keras menyadarkan saya.... Ayo pak, cepetan pak, banyak yang antri... Dengan gugup saya tanyakan, ada Gajayana (meski saya menyimak dengan jelas pernyataan petugas yang terdengar speaker), habis pak... ayo cepet pak, yang lainnya saja... sahut si Mbak di dalam Loket. Saya tanyakan kemudian, kereta apa saja yang tersisa untuk tanggal 26 September 2008 Jurusan Surabaya, dengan tidak sabar Si Mbak menjawab Argo Angrek!

Photobucket


Ya sudah, mengingat ada dua orang lain yang mengamanahkan tiket ini, maka dengan terpaksa saya tebus nilai perjalanan sebesar Rp. 450 ribu per orang atau sebesar Rp. 1.350 juta untuk tiga orang! (naik berpuluh persen dibandingkan perjalanan reguler dengan kereta yang sama) Sudahlah... saya sampai speechless, mau ngomong apapun juga nggak bisa... Padahal perjalanan saya tidak akan berhenti sampai harga yang saya bayarkan ini, di mana seletah sampai Kota Surabaya saya harus melakukan perjalanan menggunakan bus AKDP (Antar Kota Dalam Propinsi), yang mungkin sekali akan menaikkan ongkos transportasinya pula... Memang tak banyak pilihan yang ada didepan saya, namun di antara pilihan yang sulit itu saya tetap harus memilih, dan ini pilihan saya!

Entah bahagia atau sedih, dengan dapatnya tiket ini, namun setidaknya saya mencoba untuk berfikir positif, bahwa saya dapat memanfaatkan liburan lebaran dengan baik, tanpa harus kehilangan satu haripun di Jakarta. Mengingat tanggal 26 September 2008 merupakan tanggal terakhir bekerja sebelum Hari Raya Idul Fitri... :)


I N F O
Photographer : Reza Rachmadiananto
Camera : XDA IIs
Lenses : -
Filter : -
Scanner : Epson

Selengkapnya...

Thursday, July 10, 2008

SELAMAT DATANG KORAN DIGITAL

Photobucket

Pagi ini, sehabis sarapan nasi uduk yang saya beli di lorong gang senggol deket kantor, saya sempatkan membaca Harian KOMPAS. Biasanya rutinitas pagi saya dengan sebuah koran dimulai dari headline, berturut-turut halaman belakangnya. Dan sampailah saya di halaman ini, halaman yang diprint-screen dari layar LCD saya. Judulnya, Selamat Datang Koran Digital, akhirnya setelah membacanya, segera saya menuju lokasi situs yang disebutkan. Dan mulailah saya menjelajah. Ternyata isi berita termasuk layoutnya sama persis dengan koran yang saya pegang!!!

Photobucket

Mungkin saya bukan tergolong konvensional, orang yang buta informasi apalagi gagap teknologi, akan tetapi mungkin sudah menjadi kebiasaan, bagi saya bacaan dengan layout konvensional akan terasa lebih mudah. Bahkan, sekalipun telah tersedia situs berita dengan layout yang lebih sederhana dengan pola indexing yang logic ada yang masih terasa kurang. Bukan apa-apa sih, hanya khawatir saya melewatkan satu berita hari ini dari halaman yang saya baca. Dengan desain konvensional, saya merasa nyaman, meski menerapkan pola skipping reading dalam menerima informasi dari koran, saya bisa memastikan bahwa judul2 yang menarik saya tidak terlewatkan.

Photobucket

BTW, sebagaimana yang ditulis dalam artikel dalam gambar pertama di atas, ternyata salah satu group usaha Kompas telah memulainya lebih dahulu, bersyukurlah saya, saya dapat juga membaca Harian Kontan, yang akan menambah informasi kepada saya mengingat pekerjaan saya dalam bidang financial. Dan perlu di ingat, sampai saat artikel ini saya tulis koran ini dapat diakses dengan GRATIS alias bebas biaya. Anda hanya cukup membayar sambungan Internet Anda! Bersyukurlah saya, dengan akses internet 24/7 dengan kecepatan mencapai 784 Kbps saya dapat dengan cepat menggulung & membolak-balik halaman dengan cepat :) Berharap di masa mendatang, koran digital semacam ini dapat akan dapat tumbuh dan hidup subur... Kalo sudah seperti ini, apakah perlu saya putuskan langganan koran saya saja yah? .... he..he.. :)

Selengkapnya...

Saturday, May 24, 2008

BENSIN MAU NAIK, MAKA ANTRILAH!

Pukul 16.00 WIB seorang teman menelepon kurang lebih intinya gini "Segera penuhi tangki Mobil, besok bensin akan segera naik". Gue bilang Oke thank atas Infonya.
Pukul 20 WIB gue balik dari kantor, di jalan-jalan relatif sepi padahal biasanya pada jam yang sama apalagi akhir pekan akan selalu macet atau setidaknya PAMER PAHA PAdat MERayap tanPA HAsil he..he.. Akronim yang lucu.

Yap, balik ke Topik! jalanan yang biasanya jadi titik kemacetan mendadak sepi banget... tapi, alamaaak... di deket tempat tinggal gue macet total! Mobil-mobil antri dengan sangat kacau. Sebenernya kepengen ngisi bensin juga, bukan karena kepengen menimbun sebanyak-banyaknya namun karena butuh. Terlebih lagi, sorry... saya tidak pakai premium bersubsidi, selama ini dengan sadar sudah pakai PERTAMAXXXX Plus pula :)

Waktu lewat SPBU itu gue sempat melihat Alpard & Lexus ikut ngantri bareng sama Bajaj. He..he.. kalau mau berperasangka buruk, Kok tega-teganya ya mereka makan bensin bersubsidi... sudah mampu beli mobil mahal, tapi nggak kuat ngisi PERTAMAX :) , tapi tunggu dulu siapa tahu mereka memang lagi kosong tanki bensinya, harus mengisi dan bisa jadi mereka antri di Dispenser PERTAMAX --> lha pintu masuk SPBU kan segitu, nggak mungkin yg antri dipisah-pisah :) Whatever, yg penting sangka baik aja lah...

Ah, balik ke tangki kosong gue, melihat antrian yang sudah sedemikian panjang akhirnya gue memutuskan untuk terus aja deh... toh mau bensin naik atau nggak, kan nggak ada beda, karena saya pakai PERTAMAX!

Selengkapnya...

Saturday, May 3, 2008

BUBUR AYAM VS MINYAK DUNIA

Pagi ini saya bangun agak kesiangan, seperti biasanya sabtu & minggu merupakan hari yang dinantikan dalam sepanjang minggu. Aktivitas pekerjaan yang saya lakukan setiap hari mulai pukul 7.00 pagi sampai rata-rata pukul 20.00 seringkali membuat kelelahan fisik yang luar biasa, dan biasanya recovery akan dilakukan di akhir minggu.

Jam Weker di atas lemari sudah menunjukkan pukul 08 pagi! sambil masih mengucek mata, langsung nongkrong depan komputer dan menju situs berita langganan. Headline yang cukup populer akhir-akhir ini.. "MINYAK DUNIA NAIK LAGI" isinya mudah ditebak bukan? Ya! Minyak dunia sedang merambat naik, pelan namun pasti. Dengan naiknya minyak dunia akan diikuti kenaikan harga-harga komoditas lainnya. 15 belas menit cukup aku habiskan untuk membaca index berita pagi ini.

Photobucket

Seperti kebiasaan, sabtu-minggu pagi waktunya sarapan bubur ayam! Oh ya, OOT dikit Beberapa tahun yang lalu kegiatan yang biasa dilakukan ini muncul sebagai tema lagu yang sempet populer waktu itu "SABU" (Sarapan Bubur). :) Back To The Topic Tukang bubur ayam ini nggak terlalu jauh mangkal dari tempat tinggal saya. Bubur ayamnya cukup enak terlebih lagi topping-nya lumayan banyak (pas lah dengan seleraku). "Bos! bungkus satu, sambel banyak, krupuk banyak juga, sate ati-usus satu" kata saya, tak berapa lama pesenanku segera diracik, paling hanya 5 menit sudah selesai.

Sambil menyerahkan bungkusan bubur ayam pesenanku , Si tukang bubur merenges, "bos, maap nih buburnya naik yaah?", sambil takut-takut kalo saya menolak membayar. "Lah, bensin aja belum naik kok udah naik duluan...?", sahut saya sambil tersenyum. "Iya nih bos, yg naik paling tinggi ini nih" sambil menenjuk kotak stereofoam. "Krupuk juga udah naik kemarin di pasar, kalo saya nggak naikkan saya bisa tekor nih...", sahutnya dalam Bahasa Indonesia yg sangat kental dengan logat banyumasan-nya.

Memang sih, korelasi yang sangat tepat bahan baku stereofoam merupakan minyak, sehingga ya wajarlah naik. Tapi kalau kerupuk?entahlah... korelasinya jauh banget :)

Sejatinya saya tidak mempersoalkan atau menggugat kenaikan bubur ayam sebesar Rp. 1,000.- itu, bagi saya pribadi mungkin uang 'seceng' mungkin tidak terlalu saya risaukan, tapi bagi orang lain? tentu lain cerita. Jika kita mau bicara angka yang seharusnya khawatir dengan kenaikan harga-harga adalah Kaum Miskin. Mari menengok data Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah penduduk miskin di Indonesia pada bulan Maret 2007 sebesar 37,17 juta atau 16,58% dari total seluruh penduduk Indonesia. Nah iniliah mereka yang akan kena dampak terbesar akibat kenaikan harga kebutuhan pokok.

Terus terang saya jadi miris sekali, bagaimana jadinya nasib orang-orang yang terpinggirkan karena nasib & keadaan. Sangat mudah membayangkan nasib orang-orang ini yang semakin terjepit karena kenaikan harga kebutuhan pokok. Saya nggak ngerti politik apalagi itung-itungan statistik yang njlimet, hanya prihatin terhadap sesama saya yang sekarang mungkin sedang tidak makan akibat nggak punya beras untuk dimasak atau tidak ada cadangan minyak tanah untuk menyalakan kompor. Untuk itu pemerintah harus bekerja keras untuk mentabilkan harga & kalau bisa menguranginya agar target mengurangi penduduk miskin di Indonesia tercapai :)

Lah, dari cerita bubur ayam kok malah cerita yang nggak-nggak sih???

Selengkapnya...