Showing posts with label Human Interest. Show all posts
Showing posts with label Human Interest. Show all posts

Monday, September 28, 2009

SUGENG TINDAK MAS ...

PhotobucketSore ini sebuah SMS dari nomor yang tidak aku kenal mengabarkan bahwa seseorang yang sangat dekat telah pergi untuk selamanya...

Seakan tidak percaya dengan beberapa ratus karakter yang mampir di HP, segara kuputuskan untuk menelepon nomer yang tak kukenal itu. Ternyata suara di seberang sana adalah adik angkatanku kuliah dulu, dan bahwa benar seseorang yang aku kenal baik, seorang sahabat itu... Mohammad Sadad Kholidi telah pergi.

Lemas sudah kaki ini... luruh sudah kekuatan hati... Ya Allah engkau Maha segalanya, engkau pemilik atas segala yang berdiri di Bumi, penguasa segala apa yang terpendam di Lautan dan engkau adalah pemimpin tertinggi diantara pemimpin... Cepat atau lambat kami akan kembali padamu... sesuatu hal yang kami tahu pasti, tetapi tidak untuk sahabat ini, betapa kehadirannya selalu kami nantikan, dan keceriaannya membawa kebahagiaan bagi kami.

Suthong... entahlah aku tidak terlalu tahu kenapa seseorang memanggilnya dengan nama ini, adalah seorang sahabat dekat sejak awal kuliah dulu di UGM. Ada banyak sekali hal yang pernah saya lewati bersama dengan Suthong, Anang, Henry, Harum, Agung, Roy dan beberapa kawan lain. Mulai dari Gunung Kidul, Pekalongan sampai Surabaya, mulai Ujung Pantai Selatan sampai dengan Puncak Suralaya... ah terlalu banyak kalau harus disebutkan. Betapa sering Suthong menghabiskan malam di tempat kostku di Seturan sekedar mampir ngopi, nyethe atau nonton film.

Yang hanya bisa kuingat, mungkin kadang aku terlalu keras kepada Suthong dulu, betapa aku banyak bicara hal yang muluk-muluk, sok menasehati, dan bahkan kurang ajar untuk menggurui tentang jalan hidupnya yang sering kali kukecam... Puluhan kali aku mengingatkannya untuk segera menyudahi kuliah di Antro, sampai akhirnya 'nasehat' itu aku akhiri tepat saat usia persahabatan kami menginjak 4 empat tahun karena saya harus ke Ibu kota untuk mengadu nasib. Yah, tetapi Suthong adalah tetap Suthong yang aku kenal, sabar, rendah hati dan baik, meski mungkin kadang tersakiti.

Ya allah, sekarang aku benar-benar merasa kehilangan, mungkin aku hanya sedikit dari banyak orang yang merasa sangat kehilangannya. Meski tak jarang menasehatinya.. tetapi Ketika aku galau dengan perasaan, atau bahkan mempertanyakan tentang kehidupan Suthong membimbingku dengan caranya sendiri, cara seorang kakak, yang tak pernah menggurui. Ada banyak falsafah hidup yang begitu kurang sopannya aku curi di sela sluprutan es coffee mix Yu Par, atau hisapan A Mild di bawah Pohon Simbar depan Perpus Arkeo.

Aku begitu mengingat ketika Suthong berkata : "wis ta lah, ra usah dipikir mbik..." untuk meyadarkanku dari kegalauan serta keresahan diri maupun hati. Penyuka lagu mendayu-dayu, seperti Layang Kangen-nya Didi Kempot... sebuah kerinduan cinta, masih kuingat ketika dengan berselimut sarung kami berdua menyanyikannya diantara pekatnya kabut di lereng Petung Kriyono. Entahlah soal cinta dia tidak pernah bercerita, aku hanya bisa menduga-duga bahwa dibalik tubuh yang penuh rasa sakit akibat Hemofili itu... menyimpan kasih yang nyata.

Bagi diri sederhanaku Suthong adalah seseorang dermawan sejati, memberi sesuatu yang uang pun tak akan mampu membeli... Kebahagiaan. Ya, Aku begitu ingat saat menantikan kumpulan di depan Kandhang Antro saat Suthong mulai bercerita tentang cerita saru yang lucu, yang akan membuatku tertawa-tawa bahkan terbawa sampai Selokan Mataram saat aku pulang dari Kampus. Dari Suthong pula aku banyak belajar bahwa membahagiakan orang lain itu sungguh sangat mengasyikkan dan membanggakan, terbukti beberapa tahun kemudian saat aku mulai dikenal di kalangan teman-teman sejawat suka bercerita lucu tur saru, yang jelas-jelas aku curi dari Suthong.

Satu kebahagian lain yang pernah diberikan kepadaku adalah saat tanggal 30 November 2008, Suthong dengan kaki tertatih tatih menahan sakit bersama Agung datang ke acara pesta pernikahanku di Surabaya (yang akhirnya saat ini harus kukenang sebagai saat terakhir aku bertemu dengan Suthong, dan rasa sesalku terus membuncah bahwa saat itu aku tidak banyak bisa banyak bicara, kecuali hanya sempat berfoto sejenak dengannya... Ah benar-benar aku tak tahu diri...)

Tak pernah berkata tidak, selalu berusaha mendahulukan kepentingan kawan, tak enak-an dan tak pernah mengeluh... atau setidaknya yang pernah aku tahu Suthong sering kali berkata "Duh gusti... urip kok koyo ngene... Haah!!!" yang aku yakin itu bukan keluhan mungkin hanya sebuah pertanyaan dari anak manusia...

SMS terakhir adalah seminggu yang lalu... selalu, sejak beberapa tahun yang lalu Suthong selalu memulainya lebih dahulu. Ucapan rasa syukur serta permohonan maaf lahir dan bathin di hari raya Idul Fitri. Tanpa tahu apa yang akan terjadi, aku hanya membalas seperlunya SMS Template sama dengan ratusan SMS lain. Andai aku tahu, mungkin jika perlu aku akan mampir ke Magelang saat mudik kemarin.

Ya Allah... muliakanlah sahabat semua orang ini, berikan tempat terbaik di sisiMu. Ampunilah segala dosa-dosa yang pernah ia buat kepada orang-orang disekitarnya... Kami yakin ya Allah, bahwa kesalahan itu tak pernah disengaja... Innalilahi Wa Innalilahi Rojiuuun...

Betapapun berat, kami lepas kamu Thong,
Sugeng tindak Mas Sadad...


Jakarta, 28 September 2009

------------------------------------

Layangmu wis tak tompo wingi kuwi
wis tak woco opo kareping atimu
trenyuh ati iki, moco tulisanmu
ra kroso netes luh ning pipiku

Umpomo tanganku dadi swiwi
iki ugo aku mesti enggal bali
ning kepriye maneh mergo kahananku
Cah ayu entenono tekaku

Ra maido sopo wong sing ora kangen
Adoh bojo pengen turu angel merem
Ra maido sopo wong sing ora trenyuh
Ra kepethuk sawetoro pengen weruh

Percoyo aku...
Kuatno atimu...
Cah ayu entenono tekaku...


------------------------------------

Selengkapnya...

Wednesday, August 27, 2008

TIKET KERETA API, BETAPA SULIT DIRAIH...

Waktu sudah menunjukkan pukul 10.30, ketika saya masuk kamar setelah pulang kerja. Memang agak kepulangan malam ini lebih lambat dari malam dari biasa, sehabis makan malam dengan calon klien, saya sempatkan memeriksa dan meneruskan pekerjaan di kantor. Lelah dan mengantuk sepertinya sudah sulit dibedakan mana yang lebih berpengaruh. Dan Tak berapa lama kemudian saya sudah terlelap tanpa sempat mandi dan gosok gigi...

Pukul 02.30 dini-hari Software Weker (Alarm) di PDA saya berbunyi, duuh... belum lagi nyenyak sudah harus bangun sepagi ini. Jujur saya lebih suka membenamkan kepala dalam selimut hangat saya, terlebih dalam suhu 22 derajat seperti saat ini. Namun saya tetap bergegas bangun, menuju ke meja kerja, dan selanjutnya membuka outlook untuk memeriksa E-mail yang masuk. Tiga atau empat e-mail sudah dibaca, dan sesudah itu saya mandi. Lantas kenapa sepagi ini saya sudah bangun, mandi dan selanjutnya berdandan selayaknya akan pergi ke kantor? hmmm.... saya akan mencoba peruntungan untuk memperoleh tiket kereta api untuk mudik lebaran!

PhotobucketPukul 02.45 saya berangkat dari rumah untuk menuju Stasiun Gambir, di Jakarta Pusat. wuih... dengan nyaman sekali saya melalui jalan-jalan yang pada siang hari macet tanpa halangan. Beberapa kali saya lihat pedagang2 sayur sedang mengangkut dagangannya dengan sepeda motor. Dari rumah menuju ke Stasiun Gambir Mungkin hanya 10 menit, maklum punya kesempatan memacu kendaraan sampai dengan 110 km/jam! :) Berharap keajaiban, tidak terlalu banyak pengantri, tapi apa yang terjadi, antrian sudah panjang sekali! foto ini diambil pukul 04.00!

Memang sudah jadi kebiasaan, setelah PT. KAI memberlakukan pemesanan tiket sampai dengan 30 hari sebelum keberangkatan, calon pemudik mengantri untuk mendapatkan tiket untuk sebulan kemudian dengan berbagai tujuan di Pulau Jawa. Saya sendiri yakin, hari ini tidak hanya Stasiun Gambir yang sibuk, tapi Stasiun-stasiun lain di Jabodetabek juga sibuk. Jatinegara, Kota, Tanah Abang, Bekasi, maupun Bogor tentu dipenuhi dengan para pengantri. Jangan dibayangkan bahwa ini mudah, beberapa orang yang saya temui pagi ini mengatakan mereka telah mengantri sejak pukul 11 Malam! betapa hebat perjuangan mereka untuk sebuah tiket. Namun, melihat fenomena ini mungkin baiknya jangan hanya dipandang pada sebuah proses jual dan beli, namun bagaimana manusia memaknai sebuah kepentingan di luar batas-batas ekonomi.

Saya memperoleh tempat antrian jaauuuhhh sekali dibelakang, kalau anda sempat datang ke Stasiun Gambir di Lobby Utara, pasti anda melihat counter Dunkin' Donuts di situ, dan dapat pula anda bayangkan berapa jarak Counter dengan loket! :( Nah saya berdiri beberapa meter dari situ (arah ke menjauhi loket). Ya sudah pasrah deh, dapat nggak dapat saya sudah ijin ke Bos, kalau telat masuk kantor. Saya sudah memperkirakan betapa lamanya antrian ini, terlebih dengan posisi saya saat ini.

Sambil mendengarkan Musik dari Creative Zen Micro saya, saya mencoba memejamkan mata untuk tidur (bersila di atas koran) di antara riuh beberapa orang pengantre bermain Gaple! (Gila bener nih, persiapannya sudah benar2 matang he..he..). Namun suara musik lounge yang saya nikmati tak kunjung membuai saya. Tiba-tiba, diumumkan dibuka queuing line baru! ada tambahan 2 loket yang akan dibuka, spontan dengan langkah seribu saya berusaha mendapatkan tempat 'terdepan'. Namun, saya hanya mampu memperoleh tempat ke 17 di antara 6 line yang dibuka! artinya perhitungan secara kasar urutan saya berada di atas 100 pengantre hanya untuk di Stasiun Gambir! entah di urutan ke berapa andai kata stasiun lainnya juga dihitung.

Photobucket


Pukul 06.00 antrian untuk loket sebelah seperti ini. Betapa crowd dan meletihkan. Anda tentu bisa membayangkan bagaimana nanti model antrian para penumpang eknomomi yang baru dibuka menjelang H-7! sudah pasti jauh lebih banyak dan sudah pasti melelahkan karena sudah masuk dalam bulan puasa. Saya sendiri hanya bisa bersabar, dan pasrah bisa dapat tiket atau tidak, mengingat pola penjualan PT. KAI adalah online, dengan skema first in, first serve! dari puluhan Stasiun yang tergabung dalam system online akan berlomba menginput pembelian dari pengantre dalam waktu yang relatif singkat! belum lagi ditambah masuknya beberapa travel agent yang dapat melakukan input dari kantor masing-masing, semakin menambah keraguan saya akan mendapatkan tiket kereta pagi ini.

Tepat pukul 07.00 loket di buka! dan dimulailah perlombaan itu, ditik demi detik begitu menegangkan. Dalam waktu 2 menit (atau mungkin sekitar 3 pengantre) tiket kereta Gajayana (Jakarta - Malang) Ludes! semakin panik saya... beberapa menit berikutnya menyusul Argo Lawu (Jakarta - Solo) Sold Out!... tak lama berselang, Kereta Bima (Jakarta - Surabaya via Selatan) habis! padahal masih ada 10 antrian di depan saya. Taksaka (Jakarta - Jogja) Habis! Sembrani (Jakarta - Surabaya) menyusul, setelah pengantri di depan saya meninggalkan loket.

Tujuan saya sebenarnya ke Tulungagung, dan kereta yang seharusnya tepat untuk saya adalah Gajayana, namun apa daya semua sudah di luar kuasa. Akhirnya saya berdiri di depan loket, dan sebagian besar jurusan telah habis. Sempat panik dan nggak tahu mesti pilih apa. Mbak-mbak petugas loket dengan keras menyadarkan saya.... Ayo pak, cepetan pak, banyak yang antri... Dengan gugup saya tanyakan, ada Gajayana (meski saya menyimak dengan jelas pernyataan petugas yang terdengar speaker), habis pak... ayo cepet pak, yang lainnya saja... sahut si Mbak di dalam Loket. Saya tanyakan kemudian, kereta apa saja yang tersisa untuk tanggal 26 September 2008 Jurusan Surabaya, dengan tidak sabar Si Mbak menjawab Argo Angrek!

Photobucket


Ya sudah, mengingat ada dua orang lain yang mengamanahkan tiket ini, maka dengan terpaksa saya tebus nilai perjalanan sebesar Rp. 450 ribu per orang atau sebesar Rp. 1.350 juta untuk tiga orang! (naik berpuluh persen dibandingkan perjalanan reguler dengan kereta yang sama) Sudahlah... saya sampai speechless, mau ngomong apapun juga nggak bisa... Padahal perjalanan saya tidak akan berhenti sampai harga yang saya bayarkan ini, di mana seletah sampai Kota Surabaya saya harus melakukan perjalanan menggunakan bus AKDP (Antar Kota Dalam Propinsi), yang mungkin sekali akan menaikkan ongkos transportasinya pula... Memang tak banyak pilihan yang ada didepan saya, namun di antara pilihan yang sulit itu saya tetap harus memilih, dan ini pilihan saya!

Entah bahagia atau sedih, dengan dapatnya tiket ini, namun setidaknya saya mencoba untuk berfikir positif, bahwa saya dapat memanfaatkan liburan lebaran dengan baik, tanpa harus kehilangan satu haripun di Jakarta. Mengingat tanggal 26 September 2008 merupakan tanggal terakhir bekerja sebelum Hari Raya Idul Fitri... :)


I N F O
Photographer : Reza Rachmadiananto
Camera : XDA IIs
Lenses : -
Filter : -
Scanner : Epson

Selengkapnya...

Monday, June 30, 2008

URBANFEST 2008

Urban Festival kembali digelar, Sabtu (28/6/2008) dan Minggu (29/6/2008), di Pantai Karnaval, Ancol, Jakarta Utara. Apa itu Urbanfest? Merujuk namanya, festival ini adalah pesta masyarakat perkotaan, tidak hanya seni, tapi berbagai kreativitas lainny. Dalam sebuah berita yang saya baca, Sardono W Kusuma (Rektor IKJ, yang mencetuskan festival ini) mengatakan karya masyarakat urban itu sangat unik. Campuran berbagai budaya menjadi referensi orang kota untuk membuat sesuatu. “Ketika orang bersantai, dia akan menjadi dirinya sendiri. Ketika itulah dia ingin menunjukkan yang ia punya. Kreasinya unik karena ia hidup di kota, berbeda dengan orang yang hidup di pedesaan yang biasanya kreasinya terbatas pada pola seni
yang sudah ada, tradisi,”


Yep, hari Sabtu siang, saya menyempatkan datang ke acara ini. Overall asik sih acaranya, khas anak muda banget. Sayang panas banget, maklum dipinggir pantai :) Di booth-booth yang disediakan berbagai aktivitas seni digelar, seperti musik, perkusi, cosplay, olahraga dsb... tapi sebagian besar booth tersebut diisi dengan acara musik. Dan Pasti dalam acara seperti ini DSLR saya selalu menemani mengabadikan momen, let's start....


Photobucket

URBANFEST2008 - Papan yang bertuliskan U R B A N F E S T 2 0 0 8 ini sebenernya papan untuk graffitti. Hari Sabtu siang, waktu saya datang masih putih polos, baru agak sore udah mulai dilukis sama artist yg kreatif di sana.


Photobucket

STREETSTAGE - Begini ini kira-kira yang nonton, diambil sabtu sore... udah mulai banyak yg dateng, soalnya udah nggak terlalu panas. Kebanyakan yg datang anak-anak SMA ato paling nggak lagi kuliah, kalaupun ada bapak atau emak ya paling nemeni anak-anak mereka


Photobucket

ABSOLUTELY ELECTRONICA - Band ini asik lho... musiknya ga biasa, memainkan synthesizer full electronica! berasa di tahun 80-an, jaman-jamannya aphaville atau depeche mode :)


Photobucket

PESTA MIKRO - Chiptune adalah musik yg dibuat dari Sound Format yang telah disintesisikan secara Realtime oleh komputer atau videogame Sounchip. Berawal ketika Bangkitnya Era home computer dan home game consoles pada awal tahun 1980an musik ini dibuat dengan menggunakan komputer kuno seperti Commodore 64, Commodore Amiga atau Atari ST, dan videogame console seperti Gameboy NES & Atari 2600. Komunitas Chiptune termasuk kecil tapi tersebar di seluruh dunia dengan banyak musisi yang meciptakan genre tang berbeda. Mereka bergerak secara inderground dan sangat aktif menjalankan hubungan antar negara. Banyak sekali event chiptune international yang diselenggarakan seperti pestamikro di Indonesia, Mikrobo Party di Italy, Lo-Bit Playground di Jepang dan Blip Vetival di New York - Disadur As Is dari banner Pesta Mikro. IMO musik yg mereka mainin oke banget, gila aja gue nggak pernah kepikir musik Soundtrack Game Jadul macem Contra atau 1946 bisa digabung2 dg enak...


Photobucket

MUSIK DI PANGGUNG JALANAN - Banyak sekali band yg live perform seperti ini, mungkin dari keseluruhan acara ini sebagian besar menyuguhkan musik.


Photobucket

ACOUSTICA - Waktu memainkan satu single dari Oasis - Wonderwall, saya langsung mendekat ke panggung ini, duduk dan menikmatinya. 3TU deh untuk band ini :)


Photobucket

ROCK ON BABY... - Siapa bilang Urbanfest hanya utk anak-anak muda...? contohnya om-om ini... Gila men! Beberapa single milik Helloween & Iron Maiden masih fasih dimainkan. Sayatan & Kocokan gitarisnya bener-bener mantep! kaya lihat live concertnya band rock tahun 70-80an. Ternyata saya ga salah dateng nih....


Photobucket

EVERYBODY LOVES IRENE - Rasanya single-single yang dimainkan ELI mengingatkan saya pada Portishead atau bahkan Glambeats Corp., entah rasa atau kuping saya... BTW ini satu-satunya band yg sempet saya potret di Main Stage.


Photobucket

GRAFFITI - Nice Work Sob! daripada coret-coret di dinding mending coret2 di sini


Photobucket

MAIN API - He..he.. Kalo saya sih nggak mau atraksi seperti ini, BTW selain acara musik, pertunjukan kaya gini cukup menghibur juga... BTW Apa lidahnya gak kepanasan yah ... :)


Photobucket

SIRKUS PERKUSI - Nggak ngerti kenapa mesti perform dengan kostum seperti ini, tapi secara keseluruhan pertunjukan perkusi dari Sirkus Perkusi cukup unik dan berbeda dari pertunjukan lainnya.


Photobucket4 BAJAJ - Berhubung sudah lupa pelajaran dan makna Simbol, maka saya juga nggak ngerti makna dibalik seni instalasi 4 bajaj ini. BTW Ini kondisi bajaj masih bersih kayanya sabtu sore mulai di cat & digambar deh...


Photobucket

BMX - Menyenangkan sekali menghabiskan peralihan siang menuju malam di arena ini. Meski nggak kaya X-TREME GAMES di luar negeri cukup menghibur lah. Beberapa kali pengendara BMX ini jatuh menghujam tanah, tapi sepertinya nggak bosan beratraksi terus.


Photobucket

NT - Sama seperti Extreme Sports lainnya, jatuh sudah menjadi hal biasa. BTW Host di arena ini cukup akomodatif utk fotografer dadakan yang bawa kamera ke arena, terbukti mereka mempersilahkan dan membebaskan untuk mengambil angle dari manapun, termasuk masuk ke arena.


Photobucket

THE GUARDIAN - Pasti yang liat udah ngeper duluan ngeliat tomgkrongan si Om he..he.. Mungkin ini secara psikologis membuat orang segan bikin rusuh...

Camera : EOS 400D
Lenses : Tamron AF 17-50mm F/2.8 Di-II LD Aspherical
Lenses : Canon EF 70-200mm L USM
Filter : Hoya UV (0)/HMC

Selengkapnya...

Sunday, May 25, 2008

PENCANANGAN HUT JAKARTA KE 481

Photobucket

Lihat orangnyanyi di atas? Yap! anda nggak salah kok, salah satunya Iis Dahlia, salah satu pedangdut papan atas Indonesia. Selain ada Teh Iis, ada dua pedangdut lainnya yang menghibur warga kota Jakarta yang pagi ini meluangkan waktu di Seputaran Monas. Memang kalo di lihat nggak seperti biasanya, maksud saya monas memang ramai kalau minggu pagi, tapi tidak semeriah hari ini, ternyata pada hari ini dilaksanakan pencanangan HUT kota Jakarta ke 481, dan sudah menjadi tradisi setiap tanggal 22 Juni diperingati sebagai hari jadi kota Jakarta yang semula hanya sebuah bandar kecil bernama Sunda Kelapa.

Sebenernya saya nggak sengaja datang ke monas, kebetulan minggu pagi ini ingin beli tiket Kereta untuk balik ke Surabaya di Stasiun Gambir yg tidak terlalu jauh dari monas. Memang kebiasaan, sejak dulu ke mana-mana selalu bawa kamera, jadi kalo ada moment bagus langsung saja di jepret :) Memang hobi yg nggak bisa ditinggalkan hehe...

Oke deh ini sedikit liputannya :

Photobucket

Ini adalah panggung utama yang sebelum acara musik dangdut digunakan untuk senam pagi atau aerobik, waktu saya datang acara senam sudah hampir bubar. Dari pengamatan tampak yang ikut & berpartisipasi cukup banyank bapak-bapak, ibu-ibu, tua-muda-anak tumplek blek di sini


Photobucket

he..he... Lucu juga yah, bapak-bapak lagi bermain "Egrang" (maaf dalam bahasa Indonesia saya nggak tahu). Permainan ini menuntut keahlian dan kelincahan kalau tidak, bisa dipastikan si pemakai "Egrang" akan jatuh ke tanah. Dulu sekali, mungkin sewaktu saya masih duduk di bangku SD sering bermain dengan "Egrang" di halaman sekolah saya di desa, sambil menikmati istirahat sekolah.


Photobucket

Selain olah raga yang sifatnya biasa Minggu pagi ini terasa berbeda dengan kehadiran arena permainan "Flying Fox". Sayang orang tua nggak boleh naik :) kalau boleh pasti saya mau ikut 'terbang' bersama sang Rubah Terbang... :) "Flying Fox" dapat menjadi wahana latihan alternatif bagi anak-anak untuk melatih rasa percaya diri & keberanian, contohnya anak ini, tampak begitu menikmati permainan yang penuh resiko semacam ini.


Photobucket

Yup! Monas juga dilengkapi lapangan Basket & Futsal. Di atas merupakan tim yang sedang bertanding minggu pagi ini. Cukup seru sih, sayang saya nggak terlalu antusias sama basket jadinya nggak banyak waktu saya habiskan untuk nongkrong di sini


Photobucket

Bagi mereka yang ingin meluangkan waktu bersama keluarga, bersepeda tandem seperti ini tampaknya pilihan yang bijak. Murah, bebas polusi, dan bisa muat banyak orang he..he..


Photograph By : Reza Rachmadiananto
Camera : EOS 400D
Lenses : Canon 70-200mm f/4 L USM, Tamron 17-50 f/2.8 LD XR DiII AF
Filter : Hoya UV (0) & Hoya CPL

Selengkapnya...

Sunday, April 20, 2008

LIGHT & SILENCE

Photobucket

Sudah seminggu ini aku melewati jalan ini pada jam yang sama, bahkan mungkin jauh lebih malam. Jika aku melewatinya aku selamu memandang ke arah kiri, betapa indahnya bila bisa sejenak berdiri memandang kosong... sebuah kota penuh cahaya.
Malam ini aku berdiri di sini. Angan dan asaku menarikku untuk sejenak menghentikan laju kendaraanku yang seharusnya membawaku pulang, membawaku menebus segala penat dan gelisahku dalam pekerjaan. Dan aku berdiri di sini. Memandang kosong ke arah titik penuh cahaya, betapa aku baru tersadar, setiap hari 2 kali aku melewati tempat ini, 10 kali dalam seminggu, entah berapa ratus kali dalam setahun...
Entahlah, aku begitu menikmati sebuah paradoks yang ada di hadapanku, sebuah kenayataan hakiki bahwa hidup tercipta senantiasa berpasangan. Jauh di ujung sana, gedung bertingkat angkuh menantang langit, menyemburkan ribuan watt cahaya, sementara tak jauh di depanku, rumah-rumah petak berhimpitan seolah tidak mau memberikan ruang satu dengan lain, atau cobalah lihat seorang pemulung sedang menikmati sebatang rokok dibalik bayangan gelap jembatan, sementara di saat yang sama tuan besar sedang bergumul nyaman di tempat tidurnya...
Ah..., inilah hidup... aku tak mampu berbuat muluk-muluk saat ini, puas memandang dan merenung, beberapa menit kemudian aku hamburkan jepretan kameraku ke arah cahaya...

Photograph by Reza Rachmadiananto

Selengkapnya...

Wednesday, April 2, 2008

KIDS ON THE LENS

Membicarakan anak-anak rasanya tak akan pernah habis, banyak hal yang dapat dilihat dari sudut manapun. Baik, buruk, Ceria, Sedih, Gembira... Biarlah lensa yang berbicara. toh sudah banyak yang bilang, foto mewakili seribu kata... Salam dahsyat!!!


Photobucket


AYO BELAJAR!!! Belajar dimulai sejak usia dini sampai maut menjelang. Manusia yang baik dalah manusia yang selalu mau belajar. [Muntilan, Jawa Tengah 2003]


Photobucket


NUMPAK GLEDHEGAN Lupakan Play Station, Nintendo, atau Sega!!! Anak-anak ini gembira tanpa semua benda-benda produk mutakhirnya dunia. Sungguh mestinya kita berkaca pada kearifan dan kesederhanaan mereka. Hubungan orang tua dan anak-anak terjalin dengan erat. Ayah bekerja, anak bermain, dalam satu ruang dan waktu. Pernah membayangkan ini di Kota? [Gunung Kidul, DIY 2004]


Photobucket


BASAH KUYUB Anak-anak ini mengingatkan saya akan masa kecil. Have fun, Laugh Out Loud!!! Dulu sekali, ketika seumuran mereka, saya banyak menghabiskan waktu untuk mandi di Kali Belakang Rumah. Ah.... betapa tak terasa waktu bergulir begitu cepat. [Losari-Makassar, Sulawesi Selatan 2005]


Photobucket


ANCAMAN Anak-anak merupakan object yang rentan terhadap segala bentuk ketidakbaikan. Minuman Keras, Narkotika & Obat Berbahaya, dan hal buruk lainnya senantiasa mengintai. Mereka harus senantiasa dibimbing untuk dapat menggapai masa depan yang baik dan cemerlang. [Mattoanging-Makassar, Sulawesi Selatan 2006]


Photobucket


PAHLAWAN KECIL Ketika anak-anak lain sedang bersekolah atau bermain gadis kecil ini harus berjuang demi sekeping uang. Ada bermacam alasan mengapa mereka terjun dalam dunia yang keras sedini ini. Gadis ini tidak sendiri, ada ratusan ribu bahkan mungkin jutaan di Negara ini. Tak usah jauh-jauh, tengoklah setiap perempatan di Jakarta, niscaya akan kita temui gadis kecil seperti ini. [Palembang, Sumatera Selatan 2005]

Selengkapnya...

Monday, July 11, 2005

SENJA ANGKRINGAN DEPAN STASIUN TUGU

.. lapar banget sore ini, ayam goreng kremesan kelangenanku tak kudapatkan, warungnya tutup. Jika aku datang ke jogja ada banyak hal yang ingin aku rasakan kembali, ya diantaranya adalah makanan-makanan yang enak tur murah.. Sate-tongseng Jombor, 1001 macam masakan panas, steak waroeng, soto lamongan umbulharjo, lotek colombo, juga ayam goreng kremesan tiruan suharti pogung... Dan Sore ini aku hendak kembali ke Jakarta, kembali pada rutinitas yang membosankan. Dua hari tak membuatku cukup puas menikmati kota yang bersejarah ini.

16.50 adalah waktu yang ditunjuk oleh jam tangan jelekku ketika aku turun dari KOPATA jalur 4, Masih sore.. kulihat kiri kanan masih cukup ramai, setelah beberapa lama menanti jalanan sepi aku menyeberang jalan. Rasa lapar membuatku balik kanan menuju tempatku turun tadi.

Warung Angkringan ini sepi.. hanya ada Mas penjual dan seorang Sopir taksi yang lagi asyik menyeduh kopi panasnya.. "Pesen opo Mas?", sapa penjual ramah. "Es Teh Jahe wae..", Sambutku sambil meletakkan barang bawaanku, tas dan oleh-oleh Bakpia Kering Rasa Keju, pesenan temen-temen di jakarta. Mas penjual tampak asyik mengaduk minuman pesenanku, umurnya mungkin baru 20an tahun, mukanya gelap seperti terkena sinar matahari terlalu lama, di kuping kirinya terdapat sebuah anting perak, di tangannya terdapat tato. Mungkin bagi sebagaian orang penampilannya menyeramkan, tapi memang sebaiknya tidak menilai buku dari sampulnya...



"Iki mas..", Mas penjual mengulurkan segelas Es Teh Jahe. "Iki sing Sambel sing endi?", tanyaku sambil membolak-balik tumpukan nasi kucing yang ada di depanku.. "Biasa mas, sing godonge kuwalik..". Entah menjadi sebuah kesepakatan, simbol pembeda antara Sego Kucing Sambel Teri atau kering tempe terletak pada penanda "Godong (daun)". Bungkus yang menggunakan kertas koran dan sedikit penanda "godong kuwalik" berarti sego kucing yang dilumuri sambel teri, demikian juga sebaliknya, kalau godongnya tidak terbalik berarti sego kucing dengan lauk kering tempe. Jangan bayangkan bahwa Nasi bungkusan itu sperti nasi rames atau apa.. Kalau bisa digambarkan, Sego kucing itu adalah nasi segenggam tangan, ditambah sedikit sekali sambel teri atau kering tempe sebagai lauk. Tak sulit menghabiskan sebungkus Sego Kucing, tiga kali suapan pasti habis. Mungkin ini adalah asal mula nama "Sego Kucing (Nasi Kucing)", karena porsinya hanya cukup untuk seekor kucing. Harganya sangat murah 500 rupiah, bahkan dulu pada tahun 1999 harganya masih 300 rupiah.

Setelah membuka satu, aku memilih tahu isi sebagi teman makan.. Nikmat tenan... Sewaktu masih kuliah keberadaan warung angkringan seperti ini sungguh sangat membantu untuk menyelamatkan diri hingga awal bulan.. Tempat-tempat seperti ini juga mengingatkan pada masa-masa dulu, ketika masih sering jalan bareng teman-teman, nongkrong, ngrumpi, ngomong kuliah-politik-atau omong kosong sing saru. Duduk lamaaa, 2-3 jam dengan menghabiskan beberapa gelas teh jahe sudah cukup untuk melakukan kontemplasi..

Sebungkus Sego kucing sudah aku habiskan, ketika hendak mengambil bungkus yang kedua, datang seorang pembeli yang lain. Laki-laki tinggi kurus dengan rambut "dreadlock" gaya bob marley.. di pundaknya tergantung tempat kertas kalkir, seorang mahasiswa arsitek smester 7 katanya kemudian setelah berbasa-basi berpuluh menit kemudian..

Dua bungkus sego kucing, tiga buah tahu goreng dan sebungkus krupuk sudah aku sikat habis.. Arlojiku menunjukkan pukul 17.15, masih sejam lagi kereta senja membawaku ke Jakarta.. Aku membalikkan badan menghadap jalan, membelakangi Angkringan.. Sore ini Jogja begitu ramai.. Mobil, motor saling berebut dengan kentut asapnya membuat muak.. Jogja dulu tak begini, kata orang-orang tua, dulu Jogja sungguh bersih banyak sepeda, becak, andong.. Tapi sekarang..???

Seorang laki-laki dengan pakaian kumal, bertelanjang kaki datang menghampiri angkringan. Seorang bocah laki-laki kecil tampak bergayut manja di leher yang kurus itu. Laki-laki itu berwajah persegi, mukanya mengkilat hasil dari perpaduan keringat dan cahaya temaram sore itu. Perawakannya kurus kecil, dengan otot menojol kekurangan gizi.. Matanya sayu menunjukkan kelelahan yang luar biasa.. Dengan senyumnya yang ramah dia menyapa penjual angkringan, "Mas tolong dibuatin teh hangat, berapa harganya?", "500 pak..". Laki-laki itu mengeluarkan uang dalam lipatan kecil yang jumlahnya hanya 2000 rupiah dari balik tas kresek yang dibawanya.. "Nasinya berapa?" tanyanya lagi. "500", jawab penjual singkat.. Setelah tampak berfikir, dia mengambilnya.. Sambil menunggu Teh selesai dibikin, dia menawari bocah kecil itu makanan yang ada di depannya. Bocah itupun menunjuk setusuk sate usus.. "Berapa?", tanya lelaki itu. "500". Sejurus kemudian, sate telah berpindah di tangan bocah kecil itu. "Mas saya boleh minta airnya?" Tanya laki-laki itu sambil mengulurkan botol bekas air mineral yang tampak menguning.. "Boleh, di isiin d sini?" tanya penjual angkringan...

Setelah semua selesai, Laki-laki itu memasukkan 500 rupiah kembalian ke dalam tas kresek merah kumalnya. Kemudian bergegas pergi entah kemana. Dalam perginya, ia masih sempat bercanda dengan bocah kecil dalam gendongannya... Duh Gusti.. Jika aku dapat kesempatan aku ingin membayar 1500 belanjaannya, yang mungkin bagiku tak ada artinya.. Ingin sekali aku berbagi kebahagiaan dengannya..

Sore ini aku belajar banyak, bahwa seharusnya aku sungguh-sungguh bersyukur atas nikmat yang diberikan.. Sore inipun aku kembali diingatkan bahwa ada orang-orang yang termarginalkan, terpinggir, dan tak berarti apa-apa.. Aku menjadi takut bahwa rasa empatiku menjadi tumpul dan mati.. Sekarang aku hidup dalam dunia yang lain dari biasanya aku hidup, mungkin ini namanya ujian, bagaimana aku harus mempertahankan rasa kemanusiaan yang makin pudar dari perasaanku. Aku ingin sekali membantu orang-orang ini dengan tanganku sendiri.. Aku sering membayangkan bagaimana rasanya menjadi laki-laki kumal itu.. Serba terbatas, dan terpinggirkan.. Namun yang masih belum bisa aku mengerti bagaimana cara bersyukur, merasa cukup, dan berbahagia seperti laki-laki itu.. dalam gontai jalannya membawa beban, laki-laki itu masih bisa menunjukkan kasih sayangnya pada bocah kecil itu, yang entah siapa..

17.20, 3000 rupiah aku serahkan untuk makanku sore ini.. aku bergegas masuk stasiun yang tampak temaram...

Jogjakarta, Sore 10 Juli


Stasiun Tugu Jogja, sore menjelang malam (Photography by Reza, Fuji Finepix FX-S5000 UZ & Fujinon EBC Eqv 37-370mm 1:2.8-5.6)

Kereta Senja Jogja sedang menunggu keberangkatan ke Jakarta (Photography by Reza, use Fuji Finepix FX-S5000 UZ & Fujinon EBC Eqv 37-370mm 1:2.8-5.6)

Selengkapnya...