Showing posts with label Review. Show all posts
Showing posts with label Review. Show all posts

Saturday, October 11, 2008

SAMSUNG i780 RED VALLENTINE (Part One)

Yeah, I've got new Phones... 3 hari yang lalu, Device ini harus saya jemput sendiri ke JNE Tomang pukul 23.00 Malam. Tanpa berpanjang lebar, saya ingin membagi pengalaman saya sejenak bersama Gadget baru saya ini (WARNING : Nggak ada sama sekali pesan sponsor di sini) :

Photobucket

FORM FACTOR & STYLE

Tipis dan Stylish merupakan ciri khas Samsung i780. Meskipun tergolong HP dengan kemampuan komputasi yang mengagumkan, dan mungkin sangat pantas disebut HP kantoran, i780 tidak meninggalkan ciri khas yang modis dan cantik. Secara merk, samsung 1780 merupakan HP Samsung yang pernah saya miliki. Device dengan 37 key QWERTY Thumboard mungkin mengingatkan akan bentuk Blackberry.

Mungkin bagi beberapa yang pernah melihat orang memakai device ini, warna hitam merupakan warna yang biasa ditemui, terutama di Jakarta dan di Indonesia pada umumnya. Lantas kenapa warna Device yang saya miliki berwarna merah? Karena ini limited edition (dengan nama retail SAMSUNG i780 RED VALENTINE) dan hanya di jual di Singapura, konon dari beberapa orang kenalan saya, Warna jenis ini tidak akan masuk ke Indonesia kecuali dibawa dari negeri tersebut.

Dalam gambar di atas terlihat bahwa Device ini dilengkapi Touchscreen berukuran 2.55" (TFT 65K, dengan resolusi sampai dengan 320x320), touch screen yang bentuknya tak biasa ini, atau yang tak mau menyebut aneh, membuat beberapa aplikasi tidak berjalan dengan semestinya. Dan terus terang saja, Windows mobile (yang merupakan sitem operasi device ini) merupakan satu-satunya sistem operasi yang didukung oleh ribuan aplikasi Third Party yang berjalan dalam platform 320 x 240 (atau rasio 4:3)! Ini artinya ada masih terdapat gap yang harus diisi oleh devoper software untuk menciptakan dukungan kepada device ini. Namun meskiupun demikian, jika rajin mencari ada beberapa program third party yang jalan dengan baik.

Dibagian lainnya, 37 biji QWERTY Thumboard (saya sebut demikian, karena memang pas untuk jempol) memberikan kesan professional (merupakan salah satu alasan utama saya menjatuhkan hati pada device ini). Satu hal lain yang penting yang menurut saya revolusioner adalah penggunaan Mouse pointer atau track pad! (sama dengan pointer atau touchpad yang ada di notebook meskipun hanya cukup untuk satu jempol saja) menggantikan joystock yang biasanya selalu ada di setiap device Komunikasi masa kini.

Finishing case Device ini cukup baik, di bagian depan finishing berupa glossy piano, yang membuat device ini terlihat mengkilat dan sangat elegan, kalau diperhatikan dengan lebih seksama ada semacam glitter yang mirip sebuah cat metalik pada mobil.

Photobucket

Bagian belakang hanya terdiri dari sebuah kamera berkemampuan 2 Megapixel (tanpa autofokus) dan terdapat lubang speaker phone. Finishing bagian belakang berbeda dengan bagian depan, di mana bagian depan punya finishing glossy piano, sementara di bagian ini matte atau doff. Satu hal yang kurang menyenangkan, bagian ini mudah sekali menjadi ladang minyak dan tempat serap keringat tangan (finger & hand print) yang memegangnya. seharusnya perlu dipikirkan bagaimana membuat hal ini tidak perlu terjadi. Saya baca beberapa review di internet apabila dibandingkan dengan saudara-nya SAMSUNG i600, bagian belakang ini terkesan rapuh dan tidak sekuat i600, entahlah tapi yang jelas, apabila bagian belakang ini (terutama batery cover) apabila terpapar secara terus-menerus dengan keringat dan minyak tangan bukan mustahil cat-nya mulai pudar dan menghilang (I am pretty sure 'bout that!)

Photobucket

Di bagian samping, Samsung mengaplikasikan semacam "tulang" yang memiliki kesan berlapis titanium, di mana terdiri dari sebuah tombol dua arah yang fungsi utamanya adalah untuk pengaturan volume. Selain itu terdapat lubang untuk melakukan softreset. di bagian atas, terdapat tempat untuk mengaitkan lanyard.

Photobucket

Di bagian ini, terdapat sebuah tombol yang berasosiasi langsung dengan eksekusi media player atau shutter camera, tempat memory card dan lubang charger/kabel data/handsfree. Secara brilian samsung menempatkan tombol dan lubang ini menjadi sebuah design yang menawan. Saya akan sampaikan kekurangannya di bawah.

Photobucket

Di bagian bawah, tidak ada yang terlalu banyak tombol maupun lubang. Hanya terdapat sebuah lubang microphone atau biasa disebut mouthpiece

Photobucket

Di bagian atas terdiri dari sebuah tombol power, lubang speaker dan tempat sylus. Oh ya stylus dari Samsung i780 merupakan sylus teleskopik, yang dapat memanjang seperti antena. Sylus-nya sendiri cukup kecil, dan bagi saya yang biasa menggunakan PDA berukuran normal, stylus ini menjadi sangat mungil dan tidak mudah digunakan. BTW, bagi yang sudah menggunakan thumb mouse pointer, stylus mungkin tidak terlalu berguna.


SPESIFIKASI UMUM

Photobucket


WHAT'S IN THE BOX

Photobucket

Dalam paket penjualan terdiri dari :
1 (satu) unit Device Samsung i780 (Red Valentine)
1 (satu) unit Travel Charger
1 (satu) unit Battery charger
1 (satu) unit handsfree stereo
1 (satu) unit Kabel data usb
2 (dua) unit standar battery
1 (satu) unit transflash 1 GB
1 (satu) unit CD (Berisi Active Sync)
1 (satu) unit Quickstart Guide
1 (satu) unit Kartu Garansi
1 (satu) unit Box

BTW, Samsung i780 ini sudah terpasang screen protector yang cukup presisi menutup seluruh layar.


METODE INPUT

Photobucket

QWERTY Thumb board terdiri dari 37 Key berukuran mini. Bagi yang belum terbiasa, ukuran sekecil ini terasa menyulitkan. namun bagi yang sudah membiasakan diri mungkin akan lebih mudah. Keyboard ini tersusun dari 4 Baris, 3 baris pertama merupakan input key biasa, sementara yang terakhir terdiri dari special key. Terdapat dua dedicated key yaitu untuk SMS/Mail, GPS dan Fungsi getar. Tombol numeric dibedakan dengan warna putih di 3/4 tombolnya.

Di bagian atas thumboard, terdapat jajaran tombol yang terdiri dari Tombol Hijau (Call Keys - Sekaligus berfungsi sebagai Speakerphone), Tombol Merah (End Keys - Sekaligus berfungsi sebagai locking key), Tombol Windows, Tombol OK, dan yang terakhir Mouse Pointer yang dapat nerfungsi sebagai tombol eksekusi.

Mouse Pointer atau track pad, yang hanya pas seukuran jempol tangan terasa relatif mudah digunakan. Namun, bagi veteran pengguna PDA murni feature ini mungkin akan memperlambat gerak. Dengan stylus kita bisa langsung menuju ke titik yang ingin kita eksekusi, namun dengan memakai ini membutuhkan waktu.

Satu hal yang tidak saya suka, bagi para pengguna di kawasan tropis seperti di Indonesia, apalagi Jakarta yang gerah ini, ketika jempol kita berkeringat, sulit sekali mengarahkan pointer ke arah tertentu (dan ini suka membuat frustasi!). Namun, kita nggak bisa melihat ini dari satu sisi saja, dengan adanya pointer ini cukup hanya satu tangan yang bekerja!


LAYAR & KONEKTIVITAS EKSTERNAL

Photobucket

Layar berukuran 2.55" ini merupakan sebuah pilihan yang kurang bijaksana bagi developer device ini-sudah banyak orang mengatakan demikian-dan saya tidak akan mengulangi bahasan itu. Hanya sedikit merefresh bahwa memang saya agak kes ulitan memperoleh software third party yang bener2 klop dengan device ini, mengingat umumnya softawre yang di release memiliki resulusi layar dengan rasio 4:3 sementara resolusi device ini adalah square

Tidak seperti LCD PDA pada umumnya, LCD Device ini relatif keras, wajar mengingat lapisan LCD menyatu dengan body secara keseluruhan. Untuk melakukan tapping, saya belum terbiasa dan seolah-olah saya merasakan kekerasan yang tidak biasa dibandingkan PDA konvensional pada umumnya.

Photobucket

Seandainya saja Samsung dapat melengkapi standar plug 3.5" untuk handsfree dan earphone maka Device ini dapat menjadi sebuah Multi-media player yang mumpuni, mengingat tersedia puluhan jenis earphone dengan reproduksi suara yang lebih maksimal dibandingkan dengan bawaan pabrik. Jujur saja dengan plug all in (data, charger, handsfree) menjadikan konektivitas tidak fleksibel.

Mekanisme buka tutup lubang cukup mengkhawatirkan saya ketika setiap hari harus melakukan charging, syncronise dengan PC/Laptop dan mendengarkan musik lewat handsfree yang disediakan. Kekhawatiran saya mungkin terlalu berlebihan, namun saya rasa cukup beralasan, mengingat dapat saja tutup lubang charger/kabel data/handsfree dapat saja longgar dan akhirnya lepas.

Memang, dengan penggabungan ini lebih mempercantik tampilan Samsung i780, siapapun saya kira sependapat dengan saya, bahwa dengan design minimalis ini samsung akan mudah menjatuhkan hati siapa saja yang memegangnya. Dengan design tipis (12.9mm) membuat device ini akan mudah dikantongi.

Oh ya, Device ini bisa membaca 8 GB transflash/microSD. sama seperti yang saya gunakan dalam gambar (Transcend Transflash/microSD 8GB Class 4). Sebenarnya saya ingin mencoba menggunakan Transflash 16 GB namun di Jakarta belum tersedia, sehingga harus puas memakai ukuran 8GB. Meskipun besar, dengan kondisi saat ini, ukuran 8GB pun hanya tersisa 1/3-nya. mengingat saya dokumen yang terkandung di dalamnya cukup banyak.


BATTERY

Photobucket

Apabila bagian belakang Samsung i780 dibuka, maka akan tampak seperti gambar di atas. Cukup sederhana kelihatannya. Battery menempati 1/3 bagian dari mesin secara keseluruhan. Samsung juga bermurah hati memberikan tambahan 1 buah battery sehingga dengan demikian apabila dalam perjalanan tiba-tiba device kita kehabisan battery, maka dengan mudah akan menggantinya.

Seberapa kuat sih battery i780 mampu menghidupi device ini? secara umum, battery standard ini tergolong cukup kuat. Meskipun saya tidak melakukan test yang didukung oleh hardware pengetesan. Namun charging ulang setelah digunakan secara intensif 1.5 hari, cukup memberikan alasan bagi saya untuk berkata demikian. Apabila hanya dipake untuk menerima beberapa telp atau SMS saya kira battery ini bisa bertahan lebih lama.

TIPS! : Bagi sebagian orang, melepas battery cover Samsung cukup melelahkan dan membuat sedikit frustasi, mengingat kuatnya kaitan yang mencegah agar tutup battery jatuh dan hilang. Begini caranya.
1. Pegang Device dengan tangan kanan.
2. Kemudian tengkurapkan dengan posisi terbalik sehingga LCD berada tepat di telapak tangan kiri dan thumb boardnya ada di jari tangan kiri juga
3. Setelah device tengkurap dengan posisi terbalik, taruh telapak tangan kanan di atas tutup battery.
4. Berikan tekanan yang wajar ke seluruh bidang cover battery, dan dorong ke depan tutup battery (dengan telapak tangan kanan)
5. Maka, VOILLA!!! Battery cover akan terbuka :)

Photobucket

Satu lagi terobosan yang cukup brilian dari Samsung, dalam paket penjualan disertakan kotak yang dapat melakukan charging battery ke dua. Sehingga ini sangat memudahkan bagi mereka yang cukup sibuk dan tidak bisa lepas dari jaringan (HP Mati). Sementara battery utama dipakai di Device, battery cadangan dapat dicharge di mana saja, sepanjang terdapat AC Outlet.


KONKLUSI

Memang tak ada yang sempurna di dunia ini termasuk Samsung i780, namun demikian ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan di sini antara lain :

+ Slim, Slik, dan Design yang menarik
+ Ringan dan mudah digenggam
+ Track pad merupakan sebuah inovasi yang oke
+ Prosessor yang cepat
+ ROM & RAM yang besar
+ GPS (Support A-GPS) built in
+ Syncronisasi Mudah
+ Konektivitas yang mudah dan cepat
+ Battery tahan lama

- Resolusi layar yang tidak biasa (lack support from 3rd party software)
- QWERTY Thumb board yang elatif kecil
- Nggak ada Autofokus di layar kamera
- Battery cover mudah meninggalkan jejak minyak (fingerprints)
- Design Plug Kabel dana eksklusif
- Nggak ada plug 3.5" untuk earphone

Oke kira-kira sementara demikian, my On Hands hardware review, mungkin masih banyak hal yang belum saya mengerti mengingat baru beberapa hari saja device ini ada di tangan saya. Khusus untuk review software akan saya tulis dalam posting tersendiri.


I N F O
Photographer : Reza Rachmadiananto
Camera : Canon EOS 400D
Lenses : Tamron 17-50mm f/2.8 XR Di II
Flash : Nissin Di622
Filter : Hoya UV

Selengkapnya...

Sunday, August 3, 2008

MANFROTTO 055XPROB & 804RC2

Sekarang saatnya melakukan review singkat terhadap Tripod Manfrotto 055XPROB & Head 804RC2. By The Way, ini merupakan tripod keempat saya, tiga tripod pertama saya merupakan tripod biasa, seharga 75-150 ribu, chungkuo punya lah... Jadi membandingkan diantara keempatnya relatif agak sulit (baca: bukan kelasnya). Namun demikian, saya akan ceritakan sedikit "when it out of the box", mungkin cerita-ini belum terlalu lengkap mengingat saya belum melakukan trial run di lapangan. Daripada kepanjangan let's go get it!

MANFROTTO 055XPROB

PhotobucketSpesifikasi Umum :

closed length : 65.5 cm
minimum height : 10 cm
maximum height : 178,5 cm
maximum height (with center column down) : 142 cm
weight : 2.40 kg
load capacity : 7.00 kg
color : black
patent : patented
material : aluminum
leg cross section : round
column cross section : three-faceted
leg sections : 3
bubble spirit level (no) : 1
leg angles : 23°,45°,65°,88°
center column : rapid
section center column : 1
column tube diameter : 28mm
attachment : 3/8"
legs tube diameter : 29, 4, 25, 20mm
suggested dolly : 127, 127VS




Secara umum, tripod ini tergolong besar dan panjang (maksudnya dibandingkan dengan 3 tripod saya terdahulu), sama seperti yang saya sampaikan dalam tulisan saya sebelumnya, mungkin jika dibawa untuk bepergian, traveling, atau hiking tripod ini agak memberatkan dan merepotkan. Selilisih 1 kg, jika dibawa sesaat mungkin tidak terasa, namun bayangkan apabila anda membawanya saat bepergian dengan pasangan atau keluarga anda, panas dan lelah... kelebihan beban 1 kg terasa akan makin menyiksa.

Tapi, sisi positifnya tripod berat, terlepas dari persoalan transporting yang disebutkan di atas, jika melakukan tugasnya, tripod semacam ini akan memberikan rasa aman terhadap beban yang akan dibawa-nya (maksimum sampai dengan 7 kg). Apakah Anda pernah merasakan memotret outdoor, misalnya di gunung atau di pantai lantas tripodnya bergoyang-goyang tertiup angin sepoi-sepoi? :) hingga long shutter yang seharusnya bisa membuat photo landscape yang bagus jadi berantakan? atau saat memotret di rooftop sebuah gedung perkantoran 40 lantai, angin menghancurkan pengambilan gambar light trail? he..he.. mungkin dengan tripod yang berat hal itu bisa diminimalkan.

Tripod berbahan dasar aluminum ini, memiliki 3 bagian (section) kaki yang dapat dipanjangkan (semakin sedikit section, umumnya akan lebih kuat). Ketika dilebarkan, tripod ini memiliki 4 kunci besi yang terletak di pangkal yang akan menahan agar tidak terbuka tanpa disengaja. Masing-masing kaki dapat dilebarkan dengan sudut 23°,45°,65° sampai 88° (hampir menyentuh lantai). Enaknya, kaki-kaki ini saling independen (tanpa pengait terhadap center column) sehingga kalau misalnya ada di tempat tidak rata, dengan mudah kita dapat menyesuaikan ketingguannya. Oh ya tripod ini juga dilengkapi dengan semacam waterpass yang disebut bubble spirit level. Sepintas cukup presisi untuk mengukur bidang datar, namun tampaknya saya akan banyak mengabaikan indikator ini.

Selain dapat dipasang pada ground level, Tidak seperti tripod biasanya, 055XPROB menawarkan sesuatu yang berbeda yaitu center column yang dapat ditarik sehingga membentuk sudut horizontal. Ini diperlukan untuk melakukan pemotretan sudut tertentu (misalnya makro atau sudut ekstrim lainnya). Cara memasangnya pun gampang, tinggal kendurkan kunci pengait, tarik sampai penuh, kemudian tekan tombol kecil di ujung center column, dan voila!!! dengan mudah anda menidurkan (horizontal) center column.

BTW, Kebetulan saya menyukai tripod yang tinggi biar tidak terlalu membungkuk ketika mengambil gambar, ketinggian tripod ini tanpa column tengah ditarik adalah 142cm, kalau ditarik akan menjadi 178.5cm. Dengan tinggi 170cm sebenarnya sudah berlebihan saya memakai tripod ini, belum lagi kalau head terpasang di center column.

Di kedua kaki tripod terdapat selubung foam (mirip karet) yang berfungsi sebagai isolator (aluminum adalah penghantar suhu yang baik). Dengan adanya foam ini, misalnya kita memotret pada suhu di bawah 5°C, sewaktu memegangnya tangan tidak akan terasa dingin, dibandingkan harus menyentuh bagian besinya. Bagi saya, dengan adanya foam ini, bagi saya cukup memudahkan terutama saat dibutuhkan handling tangan, agar semakin stabil.


MANFROTTO 804RC2

Photobucket

Spesifikasi Umum :

height : 12.0 cm
weight : 0.75 kg
load capacity : 4.00 kg
panoramic rotation : 360°
color : black
material : technopolymer
lateral tilt : -30° / +90°
front tilt : -30° / +90°
quick release : yes
secondary safety system : yes
plate type : quick release - with 1/4-20" screw
attachment (bottom) : 3/8" female thread

Untuk alasan selera memotret dan akan saya pergunakan untuk apa, maka saya memilih 3 way panhead dibandikan dengan ballhead. Memang, untuk kecepatan komposisi Ballhead menang di atas panhead (tinggal kendurkan kunci siap untuk melakukan komposisi). Namun demikian beberapa kenalan saya menyarankan untuk menggunakan panhead untuk pemotretan landscape, nightshot, studio, maupun product. 3 way panhead memberikan saya peluang untuk melakukan adjustment pada sumbu x, y dan z yang mana memberikan kontrol lebih baik ketika melakukan multi shots.

Ketika datang ke toko, saya memutuskan pada Manfrotto 804RC2, dan sampai saat ini cukup puas memilikinya. Para Insinyur di Manfrotto membuat head ini dari bahan semacam polymer yang disebut adapto. Bahan ini dalam kekuatan dapat disejajarkan dengan aluminum namun 50% lebih ringan. Dibandingkan dengan aluminum, Adapto merupakan material ideal untuk peralatan fotografi, mengingat bahan ini tahan panas dan tidak akan mengalami korosi maupun oksidasi. Selain itu, Adapto merupakan bahan yang dapat mengabsorb vibrasi, yang mana akan dapat memberikan support pada jepretan tanpa getaran.

Selain itu, head ini memiliki fitur yang cukup dapat diandalkan antara lain kapabilitas untuk dapat melakukan Pan, Tilt dan Swivel. Masing-masing pengaturan memiliki indikator dalam satuan derajat, sehingga dengan demikian, akan mudah bagi kita untuk memperoleh hasil yang presisi. Head ini memiliki pegas/per counterbalance yang akan mengabsorb tekanan dari beban kamera bila jatuh/menunduk (untuk kembali ke sudut 0°), untuk diketahui, pegas ini hanya diletakkan dalam sumbu tilt. Oh iya, di head ini juga disediakan buble level meter, sama di kamera mungkin saya akan banyak mengabaikannya :)

Manfrotto juga mengaplikasikan sistem locking yang cukup baik, di mana quick-release plate tidak akan terbuka meskipun kita telah membuka kunci utama. Kunci utama baru terbuka apabila kunci kedua ditekan sehingga dengan demikian dapat memberikan proteksi ganda, agar gear kita tidak mudah terlepas tanpa sengaja. Quick-release plate-nya sepertinya juga cukup kuat, material terbuat dari Adapto di mana alasnya dilapisi semacam spons untuk mengabsorb getaran. Untuk lepas-pasang dari body, baut quick release dilengkapi tuas, sehingga untuk mengencangkan maupun mengendurkannya tidak membutuhkan alat bantu seperti uang logam ataupun obeng.

Dengan berat mencapai 750 gram atau setara 0.75 kilo, apabila digabungkan dengan 055XPROB maka total beratnya mencapai 3.15 kg. Yah, memang cukup berat untuk konfigurasi sebuah tripod, terlebih lagi untuk dibawa jalan-jalan. Beban maksimal yang mampu ditopang oleh 804RC2 adalah sebesar 4 kg. Ditest menggunakan System saya yang terdiri dari Canon 400D, Batere grip, Canon 70-200 f:4 L USM (tanpa tripod collar) dan flash Nissin, head ini mampu menopangnya dengan sempurna.

Sebenarnya sesuai dengan Manfrotto Configurator konfigurasi sistem yang saya bangun tidak balance, mengingat sebenarnya support maksimum 055XPROB, 7 Kg sementara untuk 804RC2 hanya 4 kg, sehingga secara total sistem, maksimal load dihitung dari mana yang paling rendah. Bagi saya, sementara ini tidak terlalu bermasalah, mengingat saya butuh kaki yang lebih kuat dibanding Head yang support sampai 7 kg, terlebih lagi sistem terberat saya sampai saat ini mungkin cuma 3.5kg.

Total tinggi dengan konfigurasi lengkap (column tengah tetap berada di tempatnya ) dengan kaki terbuka adalah 154cm, cukup tinggi dan enak untuk mengatur komposisi eye level. Membungkuk sih tetep, tapi tidak terlalu lah. Kalau center column dinaikkan dapat memanjang sampai 190cm, dan sepertinya nggak mungkin dalam kondisi normal akan saya naikan sampai setinggi ini.


CARRYING CASE

Photobucket

Sayang seribu sayang, untuk gear seharga lebih dari Rp. 2 Juta ini tidak menyediakan carrying case (bahkan handstrap harus beli lagi). Menurut saya, mestinya dikasih gratis sebagai bundling tripod. Terlebih lagi dibandingkan tripod seharga Rp. 90,000.- saja sudah include case. Berdasarkan katalog yang ada, harga carrying case untuk tripod ini berkisar antara Rp. 300 ribu sampai di atas Rp. 1 juta. What the .... ?! Yah, memang mahal sih... itupun nggak readystock di Jakarta.

Oke, cukup menyesali diri tanpa jalan keluar, akhirnya saya mencari carrying case lain. Sebelumnya saya pernah melihat carrying case tripod generik di pasar baru, Jakarta Pusat. Akhirnya, meluncurlah saya ke sana. Yep, saya akhirnya menemukan carrying case tripod generik merk VISA. Setelah diukur, yang pas untuk 055XPROB adalah VISA dengan ukuran XL (seharga Rp. 65 ribu, harga berbeda sesuai ukuran). Namun, namanya juga generik, tentu saja nggak 100% fit. Saya harus melepas 2 tuas pengaturan Tilt & Swivel agar konfigurasi tripod + head bisa masuk. Tapi untungnya carrying case ini menyediakan saku yang cukup besar untuk dapat menyimpan 2 tuas dan aksesoris kecil lainnya. Memang tidak praktis, tapi apa boleh buat.


KONKLUSI

Kecuali untuk carrying case, saya puas! Overall 055XPROB cukup memenuhi ekspektasi saya terhadap tripod yang baik. Kuat, stabil, kokoh dan well-build (kecuali untuk beratnya). Dengan harga sebesar Rp. 1,4 Juta, Saya rasa memang agak mahal, namun melihat apa yang saya peroleh rasanya cukup worthed. Apalagi saya tidak berencana berganti tripod sekali satu tahun (cukup satu untuk selamanya). demikian halnya dengan head-nya. Saya cukup puas 'it has build quality', movement untuk Pan, Tilt & Swivel-nya lumayan smooth. Meskipun tidak menawarkan kecepatan komposisi, namun memberikan nilai lebih pada kepersisisan, dan kontrol lebih baik di sudut x, y, dan z. Untuk head seharga Rp. 604.800.- saya rasa cukup worth.


I N F O
Photographer : Reza Rachmadiananto
Camera : Canon EOS 400D
Lenses : Tamron 17-50mm f/2.8 XR Di II
Flash : Nissin Di622
Filter : Hoya UV

Selengkapnya...

Tuesday, July 15, 2008

TERSESAT?.... BELI GPS SEGERA !!!

Semua berawal dari perjalanan saya pada bulan Juni 2008 kemarin ke Bandung, Jawa Barat, memang bukan perjalanan pertama kali (hampir tiap bulan saya datang ke Bandung). Saat itu, saya ditugaskan oleh kantor untuk suatu keperluan di Pemkab Bandung di daerah Soreang, sambil menyelam minum air (apalagi urusan selesai pukul 11.30), saya sempatkan untuk datang ke klien saya di daerah Dayeuhkolot.

Masalahnya, driver saya bukan termasuk orang yang hafal jalanan Bandung. Apalagi ini ada di daerah pinggiran. Sesudah berputar-putar nggak jelas, antara 1-1.5 jam, akhirnya sampai juga ke tujuan di daerah Dayeuhkot. Memang sih, kalau telaten bertanya tak akan sesat di jalan he..he.., tapi akan lebih mudah jika dalam perjalanan berbekal peta atau device navigasi.

Sesudah selesai urusan, dalam perjalanan Bandung - Jakarta via Tol Cipularang terfikirkan untuk membeli GPS (Global Positioning System) sebagai teman perjalanan. Beberapa hari kemudian, terwujudlah rencana pembelian GPS tersebut!

Sebenernya ada beberapa pertimbangan GPS device yang ingin saya beli antara lain :
1. Portable
2. Gampang Pengoperasiannya
3. Relatif terjangkau harganya
4. Hemat batere

Dari kriteria tersebut, beberapa jenis device telah masuk list antara lain :
1. GPS untuk yang didedikasikan untuk dipasang di Mobil
2. Handheld GPS
3. Bluetooth GPS.

Photobucket

Dari ketiga pilihan tersebut, akhirnya saya putuskan untuk menebus Bluetooth GPS merk HOLUX M-1000 dengan pertimbangan antara lain :
1. Saya pemakai PDA, so ga masalah dunkz... :)
2. Relatif Portable, hanya sebesar korek api
3. Build quality cukup baik, dibanding merk sejenis.
4. Harga relatif cukup terjangkau, it's only Rp. 650 K

So? jadinya saya mau cerita apa yah? oke kita mulai saja...

WHAT's IN THE BOX

Photobucket

1 (Satu) Unit GPS Device
1 (Satu) unit Batere --> Kalo mau dipasang Nokia BL-5C, juga bisa
1 (Satu) unit Car Charger
1 (satu) unit CD Driver --> saya nggak tahu untuk apa ini
1 (satu) unit CD Smart to go trial
1 (satu) Unit CD Program (dari Toko)

Komentar saya di sini hanya satu, kenapa si Holux ini tidak menyertakan travel charger (maksudnya charger yang bisa menggunakan stop-kontak dinding)? padahal tidak semua orang (termasuk saya) menggunakan GPS kalau hanya berkendara mobil, kadang saya memakainya bersepeda, bersepeda motor ataupun sewaktu berjalan kaki.
Namun demikian, untungnya plug charger-nya Holux berbentuk "female mini USB", jadi kalo punya charger dengan kepala "male mini USB" bisa dipake (charger beberapa type Motorola cocok dipake), kalo saya sendiri memakai travel chargernya Creative Zen Micro, pas! plug & play he..he... Untungnya lagi, kalau tidak punya charger yg saya sebut di atas, unit GPS ini masih bisa di charger menggunakan rongga USB yang ada di PC atau Laptop! tinggal pilih aja deh ...

FITUR & SPESIFIKASI

Photobucket

- Built in MTK MT3318 Low power consumption GPS chipset.
- 32 parallel satellite-tracking channels for fast acquisition and reacquisition.
- Superior sensitivity up to -159 dBm.
- Built-in WAAS/EGNOS Demodulator without any additional hardware.
- Compatible with Bluetooth Serial Port Profile (SPP) completely.
- Low power consumption. Built-in rechargeable and changeable Lithium-ion battery, the working time can last 23 hours maximum.
- Provide expand terminal contact to other system without Bluetooth device.
- Support NMEA0183 V 3.01 data protocol.
- 3 color-LEDs indicate to show the status of device.
- FLASH based program memory. New software revisions upgradeable through serial interface.
- Small, sleek, and lightweight design easily fits in your hand.
- Over-Temperature protection
- Enhanced algorithms -SnapLock and SnapStart provide superior navigation, performance in urban, canyon and foliage environments.
- For Car navigation, Marine navigation, Fleet management, AVL, Personal navigation, Tracking System, and Mapping device application.
- Specs
- Search up to 32 satellites
- Receiver : L1, 1575.42 MHz
- C/A code:1.023 MHz
- Update rate : 1 HZ
- Antenna type : Built in patch antenna
- Minimum signal tracked : -159dBm
- Weight : < 53g
- On/Off switch : slide switcher
- Lithium-ion battery lasts for 23 hours of use maximum
- Operation temperature : -10 ºC to + 60 ºC
- Store temperature : -20 ºC to + 60 ºC (With Lithium-ion battery )
- Store temperature : -30 ºC to + 80 ºC (Without Lithium-ion battery )
- Operation humidity : 5% to 95% no condensing
- Position Accuracy
- Non DGPS (Differential GPS):
- Position : 3.0 m CEP without SA
- Velocity : 0.1m / sec
- Time : 0.1 microsecond. sync GPS time

DGPS(RTCM/EGNOS/WAAS/MSAS):
Position :
- < 2.2 m, horizontal 95 % of time
- < 5 m, vertical 95 % of time

Acquisition Time
- Reacquisition: 0.1sec.Average
- Cold start: < 36 seconds
- Warm start: < 33 seconds
- Hot start: < 1 second

TRIAL RUN

Photobucket

Okey, next step, pairing dengan PDA saya. Yah untuk diketahui sampai saat ini saya memakai O2 XDA IIs dalam bertelekomunikasi. XDA ini sudah cukup lama bersama saya, sekitar tahun 2006 saya ambil sebagai pengganti Motorola ROKR E1. Oh ya dibandingkan jika XDA IIs M-1000 terlihat mungil bukan? ya itu yang saya suka... selama beroperasi unit M-1000 dapat dimasukkan di saku baju atau celana, boleh juga masuk dalam tas :)

Proses pairing sendiri relatif cukup mudah, pertama bikin point koneksi dan secara otomatis akan terbentuk shortcut. Di dalam trial run ini saya menggunakan software dua software GPS untuk PDA yaitu MapKING 10 dan Garmin XT 4.10 (GXT). Kenapa dengan dua Software ini? saya suka tampilannya bener2 keren terutama untuk MapKING peta jakarta nya cukup lengkap sementara untuk Garmin XT punya peta asia yang ciamik.... :)

Photobucket

Setelah berhasil dipairing kira-kira tampilan informasi GPS di MapKING10 adalah seperti ini, posisi saya ada di Jakarta terlihat dengan titik koordinat, berapa jumlah satelite yang tertangkap di unit M-1000, dan streaming data (untuk yang ini saya nggak ngerti buat apa). Oh iya, tanpa adanya peta, software GPS ini nggak ada guna, ibarat sebuah peta buta (di jaman SD dulu he..he..), mungkin hanya bisa berfungsi sebagai kompas saja.

TRIAL RUN @ JAKARTA

PhotobucketYep! screenshoot ini saya ambil sewaktu saya melaju di Jalan H.R. Rasuna Said, Jakarta Selatan menuju arah kantor saya di bilangan Thamrin di Jakarta Pusat. Sebagai informasi, saya memulai sesi perjalanan ini dari Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Begitu mobil melaju, saya set-up tujuan akhir perjalanan ini adalah kantor saya di Thamrin. Begitu ditentukan titik akhirnya GXT saya langsung melakukan kalkulasi bagaimana cara mencapai kantor saya, termasuk estimasi kapan saya bisa sampai di sana. Dalam kalkulasi tersebut GXT telah menentukan mana saja jalan yang harus saya lewati. Apabila kita mencoba mengingkarinya (maksudnya nggak patuh sama perintah GXT) maka akan segera dicarikan jalur alternatif, tanpa kita harus puter balik karena kebablasan :) Sehingga dengan demikian, nggak ada alasan bagi kita untu tersesat! (kecuali hilang sinyal). Dalam informasi yang tampak dalam screen XDA IIs saya tertera kecepatan dan arah kemana mobil berjalan. Kalau saya amati, sinkronisasi antara speedometer mobil saya dengan kecepatan di layar PDA hanya berselisih beberapa detik saja, sehingga dapat dikatakan device ini realtime

TRIAL RUN @ KENDARI to KOLAKA

PhotobucketSelagi masih hangat, maksudnya masih belum sebulan beli dari toko, GPS ini saya bawa dalam perjalanan dinas saya ke Pomalaa, Kolaka untuk meninjau tambang Nikel di sana. Screenshoot di sebelah saya ambil di hotel di mana saya menginap, sehabis penerbangan 3.5 jam dari Jakarta. Berhubung belum tersedia peta seluruh Indonesia, maka yang tertera hanya Informasi GPS saja. Oh ya Software yang digunakan MapKING10. Sewaktu dalam perjalanan menuju ke Pomalaa, Kolaka, M-1000 susah nge-locking satellite, saat itu mobil yang saya kendarai melaju dengan kecepatan 120 km/jam di lingkungan hutan, dengan jalan berkelok-kelok. Setelah stabil di kecepatan 50-60 km/jam baru saya berhasil nge-locking satelitte. Jadi mungkin dapat diambil kesimpulan, bahwa locking signal dari satelite akan susah didapat dengan kecepatan 100 km/jam ke atas, di tambah lagi rimbunnya pepohonan juga menghalangi signal. BTW, berhungung nggak ada peta tersedia, selama perjalanan tersebut GPS saya hanya berfungsi sebagai kompas saja.

TRIAL RUN @ SURABAYA

PhotobucketDalam masa trial run, M-1000 ini sempet saya bawa juga dan saya test ke Surabaya, Kota terbesar kedua setelah Jakarta. Dalam screenshot saya sedang melaju di Jalan Ngagel Surabaya, saat ini saya hanya mengaktifkan mode peta saja, bukan mode menuju tempat tertentu. Sehingga, hanya ditunjukkan lokasi sekitar saya saja. Apabila di set tujuan akhir saya, GXT dengan senang hati akan mengantar anda! Oh ya Commnet soal GXT, peta yang disediakan cukup lengkap, bahkan untuk di Surabaya sekalipun! Saya pikir POI (Point of Interest) yang tersedia di sini akan sedikit, namun ternyata dugaan saya salah. Di Surabaya misalnya, sewaktu saya khawatir isi tangki bensin kendaraan saya akan habis, dengan gampang saya menemukan SPBU terdekat, hanya cukup mencari POI terdekat anda akan dipandu sampai tujuan. Atau misalnya perut sudah lapar dan ingin makanan tertentu, dengan mudah kita akan menemukan restoran masakan jepang misalnya, Kentucky Fried Chicken apalagi.... Gampang!

KONKLUSI

Komentar saya tentang M-1000 sudah saya tulis di atas, yaitu hanya sampai dengan masalah travel charger, soal yang lain saya dudah cuku puas. Selain soal Device itu sendiri, menurut saya, sudah seharusnya setiap berkendara atau melakukan perjalanan kita membawa GPS, selain mudah menemukan lokasi tujuan kita akan sangat-sangat dimudahkan. seperti contoh yang telah saya tulis di atas. Bensin Habis? mau ngisi? cari aja di SPBU terdekat, Lapar? Mau makan? GPS akan memandu menemukan restoran terdekat atau yang sesuai dengan keinginan, Mau menuju suatu tempat tapi nggak ngerti? tanya sama GPS, anda akan selamat sampai tujuan. Tentu saja, kalau sudah tersedia peta dunkz... he...he... But after all, thanks to GPS technology, suatu saat, suatu waktu, dalam perjalanan darat dari Jakarta menuju Denpasar, saya akan coba ikuti petunjuk GPS dalam kendadaraan saya he..he.. Doakan yah!


I n f o

Photographer : Reza Rachmadiananto
Camera : Canon EOS 400D
Lenses : Tamron 17-50mm f/2.8 XR Di II
Flash : Nissin Di622
Filter : Hoya UV
PDA : O2 XDA IIs WM 03
Software : MapKING10 & Garmin XT
GPS : HOLUX M-1000

Selengkapnya...

Thursday, May 1, 2008

KERACUNAN CANON L-SERIES

Photobucket

Hasil dari hunting kemarin jelas! Gue mulai keracunan L-Series nih... Gelang merahnya begitu gagah & menggoda. Namun apa daya, keinginan dan kemampuan berbanding terbalik :( Keinginan yang menggebu tidak didukung dalamnya kantong, terpaksa deeh... Masih harus menunggu lagi sampai entah berapa lama untuk memperoleh lensa idaman gue sepanjang Masa ini :)

Melihat hasil yang udah di upload temen-temen di forum & baca beberapa review (yang sudah gue lakuin sejak jaman dulu) makin hari makin tertarik untuk menjual lensa-lensa yg ada saat ini, Doooh.... Geblek! :(


Photography by Reza Rachmadiananto (EOS 400D, EF 28-105mm f:3.5-4.5 II USM, Adobe Photoshop CS3)

Selengkapnya...

Sunday, April 13, 2008

RAPIDSHARE BLOCKING

Gue baru nyadar, kalo dalam 24 jam x 5 hari, gue telah ngabisin bandwith 25 GB di Rapidshare :) Beberapa menit sebelumnya temen di Forum ngasih tau jangan sampe ngabisin kuota atau bakalan kena block! damn.... he's right gue kena block sekarang :( Semenjak bisa pake Fastnet yang baru 5 hari terpasang, gue beli account RS seharga Rp. 70,000.- (LEGAL & LEGIT tentunya he..he..) dengan harapan bisa D/L sepuasnya, tapi kayanya ga bisa sebebas-bebasnya deh. BTW ini nih screenshoot-nya peringatan kalo gue kena block.

Photobucket

Ya udah, setelah Rapidshare gue diblok selama 24 jam nggak bisa download, gue lanjutin aja queuing gue di torrents. dooh.... gini ini nggak enak-nya kalo punya koneksi kenceng, pengennya download mulu... gebleks! :)

Selengkapnya...

Thursday, April 10, 2008

FASTNET OH FASNET

PhotobucketPhew... :) setelah hampir satu bulan menunggu, kemarin sore teknisi PT. First Media Tbk, akhirnya pasang sambungan internet (FAST NET) di tempat gue. Sebelumnya, ketika tahu bahwa agak susah pasang fastnet, mengingat antrian yang begitu panjang (maklum harga jasa yang ditawarkan emang murah sih dibanding ISP lain) gue nyoba cari 'jalan lain' yang ditawarkan oleh 'oknum-oknum' di beberapa forum. Nggak malah membantu, justru makin mempersulit dengan upah jasa yang nggak masuk akal dan pelayanan asal-asalan, cuma bisa janji nggak pernah di tepati. Geblek!!! Nggak tahan selalu uring2ngan & makan ati sama si Oknum ini, akhirnya gue lepasin aja. Setelah itu iseng2 gue coba telpon CS PT. First Media Tbk. yg resmi (waktu itu habis maghrib) eeeh... ga taunya langsung dibikin schedule pemasangan. dan setelah 7 (tujuh) hari kalender telah terpasang ditempat gue :) tanpa hasus makan ati dan keluar biaya tambahan sepeserpun... (ada dink he..he.., yah sekedar tips buat teknisi-nya buat beli gorengan he..he..)

Photobucket


Yap! for the first time gue beli paket FAST NET 786 seharga Rp. 295,000.- (belum termasuk PPN sehingga biaya yang harus gue bayar per bulan adalah sebesar Rp. 324,500.-). Emang sih lebih mahal Rp 60,000.- dibandingkan dengan XL Corporate gue, tapi soal kecepatan gila cing... :) kalo gue pake XL Corporate @ jalur 3G paling banter dapat kecepatan 64 kbps, coba bandingkan dg 768 kbps!!! (bahkan pada prakteknya sering lebih kenceng). Dengan terpasangnya FAST NET, berarti gue akan menutup XL GPRS gue yang telah menemani selama 2 tahun terakir.... hiks.. :( apa boleh buat, gue belum mampu bayar 2 koneksi internet.

PhotobucketO Iya dalam pemasangan untuk paket ini, disediakan modem gratis (Pinjem pakai), kalo nggak salah PT. First Media Tbk, sediain 3 pilihan merk modem Motorola, Scientific Atlanta (SA) & satu lagi gue lupa. Kebetulan gue dapet MOTOROLA SURFBOARD SB5101i, dalam keadaan baru. Masih segel Boo... :) Peminjaman modem ini nggak diberikan kepada pelanggan yang pasang paket dibawah 768 (512 & 384). Tapi sebenernya kalaupun kepengen pasang paket yang nggak dapet pinjeman modem, kita bisa beli di PT. First Media Tbk. Harganya sendiri gue rasa masih cukup murah dibandingkan beli di Mangga Dua atau Glodok (sekitar Rp. 700 ribu). Berdasarkan pembicaraan dengan CS, cable modem di atas ditawarkan sekitar Rp. 450,000.- + PPN 10% = Rp. 495,000.- (Kenapa PT. First Media Tbk, bisa jual murah mungkin karena mereka ada kerjasama dg vendor/pabrikan modem kali ya...)

Pemasangan internet nggak lama kok, total jendral mungkin sekitar 30 menit. Nggak perlu setting yg ribet, yang agak lama sih masang kabel ke TAP yg letaknya ada di dekat tiang Listrik depan rumah. Kalo soal online-nya, teknisi cukup telp ke base-nya dan voilla!!! sudah ON.

Setelah teknisinya pulang, gue geber tuh internet... wew!!! gue buka TV berita-nya Kompas.com enak banget, demikian juga TV beritanya detik.com streamingnya nggak nge-lag & nggak patah-patah. Saat internet gue terpasang, di Indonesia lagi gencar-gencarnya blokir beberapa situs internasional seperti Rapidshare & Youtube. Soal ini sih saya cuma prihatin, cuma bisa ngomong kalo mau nangkep satu ikan jangan kasih potas satu kolamnya dunkzz... :( nek jare wong jowo, ojo digebyah uyah :) Oke balik lagi, untungnya khusus untuk Rapidshare sudah banyak cara bypass blokiran dg ganti IP-nya Rapidshare sehingga gue masih bisa download data sekaligus burn-in koneksinya (untung juga gue baru aja beli account RS di warung sebelah, so nggak perlu nunggu buat bisa D/L). Hasil dari test drive selama 24 jam dapat dilihat di gambar bawah :

PhotobucketCoba liat, dalam sehari gue (24 jam) menghabiskan bandwith sebesar 7.1 GB. Rata-rata Receive & transfer rate bisa mencapai 350 MB/jam, dan bisa dibayangkan betapa akan semakin menggembungnya data di hardisk. he..he.. (Hardisk gue yg 320 GB aja udah tinggal 11% ruang kosongnya..., kayanya mesti siap-siap buat beli hardisk baru nih, & lagi ngincer WDC 500GB). Dalam burning test ini, kecepatan rata-rata bisa dapet di atas 786 kbps (diukur dg DU Meter).

Untuk sementara ini ga komplain nih sama Fastnet :) Semoga aja nggak perlu komplen deh...

Selengkapnya...

Tuesday, April 1, 2008

MOTOROLA MOTOSPIN MS-280 (A890) CDMA

Siang ini, setelah melakukan transaksi dengan seorang rekan di salah satu forum di internet akhirnya Motorola Motospin MS-280 (A890) CDMA saya dapatkan. Segera saya siapkan kamera untuk membuat foto untuk melengkapi review ini.
Sebelumnya, ketertarikan untuk memiliki handset ini dari muncul sudah agak lama, mungkin 2/3 tahun lalu ketika sebuah review singkat muncul di Sini. Bila dihitung sejak kemunculannya di tahun 2004 maka sudah cukup lama HP ini beredar di luar (utamanya di Korea Selatan), kebetulan beberapa hari sebelumnya saya melihat sebuah iklan di forum dan karena ada kejadian yang 'memaksa' untuk mendapatkan HP CDMA baru maka saya memutuskan untuk membelinya, sekaligus pengen nge-test Moto CDMA (soalnya selalu pakai Nokiyem seeh... :) )

Photobucket


Possibly the hottest new phone on Motorola's roadmap is the MS280. This phone features a rotating design similar to the Sony Ericsson SO505i that's taken Japan by storm. The MS280 also features a 176-by-220-pixel 260,000-color TFT display, dual cameras, and streaming MPEG4 video. The phone will be available in Korea in November, expanding to "other markets" in 2004. Jadi secara umur, motorola ini sudah nggak bisa dikatakan baru... tapi masih lumayanlah lah sebagai HP kedua untuk menunjang komunikasi :)

Photobucket


Oke deh daripada berlama-lama, saya lanjutkan dengan spesifikasi teknis Motorola Motospin MS-280 (A890) CDMA --> selanjutnya cukup saya sebut Motospin sbb:

NETWORK : CDMA 1xRTT, 800 Mhz
MECHANISM : Swivel
DISPLAY : Type TFT, 262K colors (176x220 pixels, 13 lines)
ADDRESS BOOK : 500 (15 Entry)
MEMORY : Internal Type 54 MB
RINGTONE : Polyphonic 32 Channels (Vibra Support)
CAMERA : Dual Camera CMOS (VGA 310.000 pixel)
LANGUAGE : English & China
CONNECTIVITY : Infrared
FEATURES : Text Messaging, Photo & Video Mail, Voice Message & Memo, Alarm, Calculator, Calendar, Schedule, Organizer, Witop Platform (nate browser,GVM,SKVM,TCM3,Nate Air,NATE AD), PC Link/Modem

WHAT'S IN THE BOX

Photobucket


Dalam paket penjualan yang saya terima terdiri dari :
- 1 (satu) Unit Handset Motorola Motospin MS-280
- 1 (satu) Unit Baterai
- 1 (satu) Unit Travel Charger
- 1 (satu) Unit Kabel Data (Interface-nya USB tapi kecepatannya mirip serial)
- 1 (satu) Unit CD Driver Copy-an (dooh.... :( )
- 1 (satu) Unit Manual Book Seadanya :(
- 1 (Satu) Unit Kartu garansi dari Importir Umum-nya
- 1 (Satu) Unit Kardus Generik, tanpa merek Motorola
- Plastik pembungkus secukupnya :)

DESIGN, STYLE & ERGONOMY

Photobucket


Sepintas, bentuk Motospin mengingatkan saya akan Siemens SL 75 yang terlihat feminin. Sementara itu, Motospin memiliki form factor kecil & mungil dengan ukuran (keyboard terlipat) 10cm (p) x 4.3cm (l) x 2.7cm (t) --> Saya ukur dg penggaris, jd miss beberapa mm mungkin saja terjadi :) . Bagi mereka yang memiliki tangan yang besar mungkin terlihat kurang proporsional ketika memakai handset ini, bahkan mungkin akan merasa sedang memegang mainan :)

Mekanisme Swivel memberikan sentuhan dan nuansa berbeda bagi para penggunanya. Namun demikian mekanisme ini bisa saja menjadi nilai pengurang, terlebih lagi bagi mereka yang tidak terbiasa menggunakan handphone semacam ini, untungnya saja engsel Swivel Motospin ini dirasakan cukup kuat dan relatif tidak rapuh.

Satu hal yang mengganggu (bagi saya terutama) material yang dipakai untuk membungkus LCD Monitor terlihat murahan, dan terlalu 'plasticy'. Belum terlalu lama dipakai, sudah mulai terlihat baret-baret halus di sana-sini :(

Photobucket


Motorola cukup cerdas dengan menyediakan banyak tombol untuk bermacam-macam keperluan terutama ketika keyboard utama disembunyikan dibawah tubuh Motospin. Penempatan tombol melingkar ini cukup manis yang mewakili 10 fungsi!

Photobucket


Penempatan tombol-tombol pembantu lainnya saya nilai cukup logic. Dalam gambar di atas terlihat beberapa tombol yaitu tombol Voice/Memo Records, Volume (-) & (+), tombol camera on & shutter.

Untuk menambah manisnya bentuk Handphone ini, Plug Charger & Kabel Data (Jadi Satu) ditutup dengan seal karet memanjang, demikian halnya Earplug/Handsfree Plug juga rapi tertutup. Namun, bagi saya fungsi pemanis ini justru menjadi hal yang tidak menyenangkan di mana untuk melakukan charging & konek to PC harus membuka seal (dan ini sama sekali tidak mudah!!...)

Photobucket


Nah ini, yang paling saya suka... tombol keyboardnya lebar dan enak dipencet! sehingga untuk melakukan text messaging akan terlihat mudah selain itu, tombol-tombol ini terlihat 'classy' dan mewah.

Photobucket


Motospin ini telah mendukung RUIM (orang biasanya menyebut kartu, sebagai lawan dari Inject... he..he..). Dibeberapa negara yang telah mengadopsi system CDMA sebagian besar hadsetnya dibundle dengan nomornya melalui inject. Justru anehnya di Indonesia, handset inject tidak terlalu laku (terlebih lagi masyarakat indonesia sangat sensitif dengan tarif, sehingga dengan handset ber-RUIM akan lebih mendukung fleksibilitas, untuk pindah operator, dibandingkan dengan handset inject).

Bagi mereka yang suka berganti-ganti kartu operator, penempatan RUIM Motospin sangat cerdas, kita tidak perlu bongkar pasang battery untuk mengganti kartu (Asal saja kartu kita nggak ilang terjatuh aja... he..he.. :) )

Photobucket


Oh ya, saya hampir lupa, mungkin kalau tidak saya sebut sebagai Motorola, mungkin banyak yang tidak tahu bahwa Handset ini adalah Motorola. Di depan hanya disebutkan sebagai "CDMA " saja. Akan tetapi begitu membuka baterry akan terlihat tulisan Motorola di sana. Berdasarkan label yang tertempel, handset ini dibuat di Korea Selatan, perlu diketahui bahwa Motospin MS-280 keluar untuk pertama kalinya di negeri ginseng

FUNGSI : HARDWARE & SOFTWARE

SPEAKER : Pertama kali dinyalakan, Jingle Motorola menyapa. Tapi.... Suara-nya terdengar pecah! nggak enaklah... memang sih kalau dibandingkan dengan Motorola Rokr E1 kalah jauh, namun bagi saya ini tidak dapat ditoleransi. Hal yang sama terdengar ketika speaker phone di-nyalakan. Suara penelpon di sana terdengar pecah. Situasi ini sedikit bisa di atasi dengan menurunkan tingkat volume menjadi 2 atau 3 dari 5.

TELEPHONING : Jika digunakan bertelepon, suhu handset akan segera naik, namun tidak akan drastis, mungkin karena lokasi testing penuh dengan sinyal sehingga handset ini tdak melakukan multi tasking antara bertelepon & mencari sinyal. Suara speaker internal terdengar cukup nyaman, meskipun tidak dapat dikatakan enak banget, perbaikan sangat terasa manakala saya menggunakan handsfree :) selain bebas melakukan aktifitas, juga suara yang didengarkan lebih bening dan empuk. Oh ya dalam paket penjualan tidak disertakan handsfree, kebetulan saya ada handsfree nganggur dengan plug 2.5" yang pas dg handset ini.

LCD : Bagus! 262 TFT terlihat terang dan warna-warni! tapi hati-hati layar warna yang terang jelas akan meminta trade off dengan batere

ADDRESS BOOK : Beberapa spesifikasi yang saya lihat di luar menyebutkan kalau Address Book Handset ini dapat mencapai 5000, bahkan di kardusnya sekalipun menyebutkan angka ini. Namun setelah saya otak-atik, kok saya belum menemukan bagaimana cara membuat Address book sampai 5000. Yang jelas telah tersedia 500 address book dengan 15 Entry (Nama, Nomor, Kategori, Foto, No. Mobile, No. Rumah, No. Kantor, No. Lainnya, E-Mail, No. Fax, Memo, Profile, Ringtone, Birhday, Anniversary) yang siap di isi. Hanya sayang, sampai saat ini saya belum menemukan cara bagaimana dapat secara cepat mengisinya (misalnya Syncronize dg Outlook) kecuali harus Tapping satu per satu.

FOTO & VIDEO : Motospin telah dilengkapi dengan memori Internal sebesar 54 MB dan cukup untuk menyimpan hasil rekaman Video dengan ukuran 176x144 pixel Up To 1 jam. untuk dapat diputar diplayer lain dibutuhkan konversi. Kualitas maksimal Foto yang dapat dihasilkan hanyalah VGA. Namun demikian hasilnya relatif cukup baik untuk ukuran resolusi sebesar itu.

KONEKTIVITAS : Hanya Infra Red Direct Access (IRDA) saja, nggak ada pilihan lain. Soal kecepatan transfer data, jangan harap terlalu banyak dari koneksi ini.

VOICE RECORDER : Dengan memory sebesar 54 MB cukup untuk melakukan perekaman suara sampai beberapa menit... (maaf belum test he..he..)

MENU : Cukup Logis, bagi orang yang baru saja menggunakan Handphone ini saya kira tidak terlalu lama akan dapat menguasainya dengan mudah. Selain itu, Menu-menu yang ada terlihat advance dibandingkan dengan Handset sejenis.

PROVIDER : Sepertinya sebelum diimpor Ke Indonesia, Handset ini merupakan handset yang dipasarkan/didistribusikan/dibundling dengan China UNICOM, soalnya masih ada menu yang tertinggal dan nggak bisa di set ulang, seperti browser untuk internet. Berhubung Handset ini berjalan di Frekuensi 800 Mhz, saya kira bisa dipakai semua operator CDMA di Jakarta (Flexi, Starone, Fren, Esia) kecuali SMART yang masih ada di 1900 Mhz.

MODEM & INTERNET
Bagi sebagian orang, daya tarik utama sebuah perangkat adalah konvergensi-nya. Saat ini, gadget banyak dibuat untuk tujuan sebagai Perangkat Hybrida yang bisa berfungsi ganda. Selain untuk dapat berkomunikasi sebagai Telepon, Motospin dapat dengan mudah difungsikan sebagai Modem CDMA. Beruntunglah dalam paket penjualan Motospin telah dilengkapi dengan kabel data (USB). Talam test yang saya lakukan dengan Starone Time Based diperoleh kecepatan sbb :

Photobucket



Photobucket


Dalam pengujian diperoleh kecepatan star-one relatif naik turun dan tidak stabil, kecepatan maksimal yang dapat saya diperoleh adalah 21 KBps. Saya kira di sini yang paling berpengaruh adalah kekuatan signal provider itu sendiri, kecepatan dan kestabilan sangat tergantung dengan lokasi dimana anda berada. Menurut saya, Motospin sebagai modem dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Sekedar diketahui, ketika terkoneksi dengan PC via kabel data Motospin otomatis nge-charge! So Don't Worry 'bout Your Battery!

PLUS MINUS

+ Model Stylish, Kecil Mungil, & Trendy
+ Nggak banyak orang pakai (Bukan HP Sejuta Umat)
+ Layar Warna 262K
+ Terlihat mahal & Advanced
+ Dual Camera VGA
+ Keyboard-nya enak
+ 500 Address Book & Lengkap dg Multiple Entry
+ Memory Internal Besar
+ PC Modem Capability (Without Charging)

- Nggak ada FM Radio
- Nggak ada bluetooth
- Material too plasticy
- Speaker nyaring tapi agak sember
- Mekanisme Input Addressbook membingungkan
- Software Support/PC Sync Minim (Atau saya beum ketemu aja ya)
- Swivel-nya agak membingungkan (bagi yg tidak terbiasa)
- Mungkin anda akan memperoleh HP Refurbished (oleh karena umur & pemasaran)

KONKLUSI

Ibarat tidak ada gading yang tidak retak demikian pula Motorola Motospin MS-280 ini, sebagai konsumen tentunya menginginkan hal sempurna. Kalo boleh membuat Wishlist, saya kepengen HP CDMA dual Band, R-UIM, bisa MP3, FM Radio, Kamera minimal 3 MP, Ada Slot memory Eksternal, batere tahan seminggu. dsb.

Tapi bagaimanapun juga, membandingkan harga dengan kualitas yang didapatkan, saya rasa Motorola MS-280 ini tidak berlebihan disebut sebagai handphone yang lengkap, dalam arti kebutuhan dasar berkomunikasi telah tercakup didalamnya let say, telepon, sms, modem, kamera, recorder, hanya minus MP3 Player, FM Radio & Program Sinkronisasi (soal ini salam belum sempat googgling lebih jauh)

Demikianlah sedikit review singkat saya sebagai user, jujur saja saya baru pegang Handset ini baru sehari, jadi belum dalam banget melakukan pengujian. Bisa jadi dalam kesempatan selanjutnya akan ditumukan hal-hal baru lainnya. Segala input akan saya terima dengan senang hati.


Regards

:)



PS: Photography By Me! Using Canon EOS 400D With Canon EF-S 18-55mm F:3.5-4.5 & Tamron 70-300mm F:4-5.6 Di Macro

Selengkapnya...

Tuesday, July 3, 2007

OAKLEY JULIET DUCATI CARBON BLACK IRIDIUM

Description: Flex couplers allow these blends of X Metal® and art to fit naturally around the skull. The adjustable frames include temple shocks, interchangeable nosebombs, and all the innovations that sculptural physics can offer. Pure Plutonite® Lenses retain the precise geometry of XYZ Optics for optical correction along three axes, not just two. For larger facial sizes, XXTM amplifies the lens orbitals of Juliet®. Prescription Ready

Photobucket

Ducati: They build the machines that dominate the World Superbike Championship. When they choose eyewear, this is their idea of technology accelerated. It’s the Ducati JULIET®, a 25-piece blend of X METAL® and art. Styled with Ducati colors and signed with a laser-etched script logo, it offers the unbeatable clarity and protection of Oakley’s HIGH DEFINITION OPTICS® (HDO®). The sculptural metal frame optimizes comfort by combining a lightweight titanium alloy with adaptable architecture.

Spesifikasi Teknis
UV Protection : 100% UV Protected
Warna Frame : Carbon
Warna Lensa : Black Iridium
Tipe Case : Microfiber Pouch/Cleaning Cloth
Bahan Bingkai : X Metal Titanium Frame
Tipe Lensa : Oakley Plutonite®
Ukuran : Medium
Aktivitas : Everyday Wear, Motorcycle, Driving

Photobucket Meskipun sedikit mahal (harga pasaran US $ 325 atau sekitar Rp. 3 juta di Jakarta), JULIET® lumayan cukup berharga sebagai investasi, artinya dengan apa yang anda bayarkan anda memperoleh sesuatu yang seuai. Saya mulai tertarik untuk memiliki JULIET® sejak tahun 1999, dan baru kesampaian (baca : mampu beli di tahun 2007). Mungkin bagi sebagian orang terlihat sedikit tidak masuk di akal menghabiskan uang sebegitu besar hanya untuk sepasang Sunglasses. Dalam jajaran keluarga Sunglasses Oakley, JULIET® adalah satu varian paling laris, paling banyak variasi-nya serta banyak diburu kolektor & fans berat Oakley.

Photobucket OK, mari kita mulai. Dengan harga hampir mencapai Rp. 3 Juta anda akan mendapatkan satu kotak persegi panjang bergambar pembalap Ducati berisi 1 pasang Ducati JULIET® , 1 buah lap micro-fibre yang berfungsi sebagai soft case dan lap Sunglasses, 1 pasang extra nose bombs (bantalan hidung), 1 pasang extra Temple Socks, 1 buah koin X-Metal, 1 set Manual, Warranty & Kuisioner. Well, masih tampak terlalu mahal? mari kita baca di bawah.

Ducati JULIET® merupakan salah satu varian spesial dari JULIET® yang ada di pasaran. Di jual dengan mengusung nama besar Ducati yang terkenal akan kemampuannya memenangi seri Kejuaraan World Superbike. Ducati sendiri digandeng Oakley karena memiliki kesamaan spirit yang extrim. Di Ducati JULIET®, nuansa Ducati (warna merah) terlihat di earstem, nosebombs, temple shock dan ukiran laser "DUCATI" di lensa-nya. Yang jelas, Ducati JULIET® tampak lebih keren dibanding seri JULIET® lainnya (Personal Judgement). Ciri khas Ducati JULIET® adalah penggunaan frame berwarna carbon den penggunaan lensa berwarna black iridium. Kalau anda menginginkan sebuah Sunglasses lain daripada yg lain bisa saja JULIET® dikustomisasi, namun saya tidak menyarankannya, sebab originalitasnya akan hilang.

Di banyak situs penjualan, dan beberapa review yang pernah saya baca, frame X-Metal hampir tak dapat rusak (nearly industructable), meskipun demikian saya yakin benefit semacam ini bukan daya tarik utama untuk membeli Sunglasses semacam ini. Fakta bahwa Frame X-Metal nearly Industructable, tentunya tidak akan membuat orang memakai dengan sembarangan. Sebuah paradox yang menarik, pada satu sisi saya membeli barang yang benar-benar kuat dan durable, namun di sisi lain saya memperlakukannya dengan sangat hati-hati mirip dengan perhiasan yang rapuh, maklum harga-nya coy! :D :)

Photobucket Sama seperti semua produk oakley, kejernihan lensa hampir tiada bandingannya. Waktu panas menyengat memakainya terasa begitu teduh dan dingin, dan inilah yang membuat sunglass ini terasa bedanya dengan yang lain. Lensa tergores? pasti ada kemungkinan. Saya katakan, dengan cara apapun anda memakainya atau seberapa hati-hati anda merawatnya, lensa tanpa baret-baret adalah tidak mungkin! bersyukur di Indonesia dan di Jakarta khususnya harga lensa XYZ masih relatif terjangkau, kalau tidak salah Rp. 600 ribu sepasang. Untuk proteksi yang lebih maksimal tersedia case khusus untuk JULIET® , yaitu X-Metal SOFT VAULT yang tebuat dari bahan yang keras dan mampu melindungi JULIET®  dari tekanan-tekanan. Sayangnya case ini tidak dijual sebagai bundle/paket dengan JULIET® , padahal kalau diingat harga JULIET®  sendiri mencapai Rp. 3 juta lho... :( BTW, untuk mendapatkan case ini anda harus rela menebusnya dengan harga Rp. 400 ribu (itupun kalau lagi ada stock!), beruntung saya memperolehnya bekas pakai seharga Rp. 200 ribu, yang saya dapatkan dari memasang iklan di Kaskus.

PhotobucketSekarang bicara Ergonomi dan Style. Saya kira, Oakley memang jago bikin sunglass/frame, setiap sunglasses maupun frame-nya selalu bagus, dan sesuai dengan semangat muda. JULIET® sangat nyaman di pakai, hampir-hampir tak ada celah untuk sinar matahari masuk leluasa menerobos mata. Demikian hal-nya sewaktu dipakai bersepeda motor, sangat nyaman! angin tidak bisa masuk dan bikin kelilipen :D Secara umum, konstruksi "The sculptural metal frame" JULIET® sangat pas dengan kepala saya, nggak terlalu besar dan nggak terlalu kecil. Meskipun terbilang varian yang sudah cukup berumur, bagi saya JULIET® masih terlihat up-date dengan mode saat ini.

Photography by Reza, Fuji Finepix FX-S5000 UZ & Fujinon EBC Eqv. 37-370mm 1:2.8-5.6

Selengkapnya...